Selasa, 21 Oktober 2025

TINGGAL MENINGGAL

 TINGGAL MENINGGAL

Saya tidak ingat kapan terakhir kali sutradara Indonesia, terutama dari area arus utama, muncul lewat debut seberani dan sekreatif ini. Melalui Tinggal Meninggal, Kristo Immanuel bukan sekedar melenggang memasuki industri. Dia mendobrak pintunya hingga hancur, lalu memperkenalkan diri dengan suara begitu lantang mempersenjatai kepercayaan diri yang mampu mengguncang seisi ruangan. 

Menariknya, film protagonis ini yang konon dibuat berdasarkan sosok Kristo sendiri, memiliki citra yang berlawanan. Namanya Gema (Omara Esteghlal), dan rasa percaya diri bukan sesuatu yang ia kenal baik akibat tumbuh di keluarga disfungsional. Ayahnya (Gilbert Pattiruhu) gemar menipu orang lewat bisnis MLM sebelum akhirnya kabur dan menikah lagi, sedangkan sang ibu (Nirina Zubir) lebih sibuk berpacaran daripada menemani Gema.

Karakter kucing dari kartun televisi yang sering dibicarakan oleh penonton pun menjadi panutannya, sehingga Gema juga sering melakukan hal serupa. Breaking the Fourth Wall jadi salah satu ciri karakternya. Naskah buatan Kristo dan Jessica Tiju memberi alasan di balik tendensi protagonisnya mendobrak dinding keempat. Bukan sekedar gaya-gayaan, melainkan pertanda betapa sepinya hidup Gema, sampai mengajak bicara kita yang tak kasatmata padanya. 

Sungguh luar biasa performa Omara selama menghidupkan Gema. Bukan sekedar berpura-pura, tapi sepenuhnya “menjadi”, bertransformasi menjadi figur yang canggung hingga ke detail-detail gestur kecil. Sewaktu latarnya beralih ke kantor Gema, Tinggal Meninggal pun berubah dari pertunjukan tunggal Omara Esteghlal, menjadi kombinasi ensambel yang saling memperkuat.

Semua berawal dari kabar kematian sang ayah. Gema yang tadinya terasing, tiba-tiba mendapat perhatian dari teman-temannya: Adriana (Shindy Huang) lewat topik pembicaraan acaknya, Naya (Nada Novia) si maniak media sosial, Danu (Mario Caesar) dengan cerita liburannya beragam, Pak Cokro (Muhadkly Acho) sebagai bos yang ingin dianggap muda, Ilham (Ardit Erwandha) dan segala pertanyaan nihil sensitivitasnya, hingga Kerin (Mawar Eva) yang jadi representasi (atau parodi?) generasi masa kini sosial mereka. Nama-nama di atas punya porsi bersinar masing-masing.

Tapi bagaimana bila fase berkabung telah usai? Apakah perhatian mereka akan ikut lenyap? Kalau begitu, siapa lagi yang harus meninggal agar Gema tetap mendapatkan atensi? Problematika tersebut akan menggiring Gema mengambil beragam keputusan, yang semakin lama semakin gila hingga mencapai point of no return, sementara kisahnya juga menyentil soal dinamika sosial era modern, yang seolah menyulitkan individu berpura-pura apa adanya agar dapat merasa diterima.

Gema mungkin melakukan banyak tindakan ekstrim, tapi penonton akan selalu menemukan sisi yang berhubungan dengan sang protagonis. Misalnya saya, yang seperti Gema, sering kebingungan harus berkata apa saat mendekati sekelompok teman yang sudah asyik dalam pembicaraan mereka. Mungkin di luar sana banyak juga yang merasakan kedekatan dengan Gema, entah terkait perilaku, dinamika sosial, atau kondisi keluarganya.

0 komentar:

Posting Komentar