THE PHOENICIAN SCHEME
Banyak yang menyebut Wes Anderson belakangan ini (tepatnya memasuki era 2020-an) tengah mengalami stagnasi, karena sebatas mengembalikan segala kekhasannya, semata-mata untuk memuaskan barisan penggemarnya. Kritikan tersebut dilontarkan seolah-olah gaya sang auteur bisa dengan mudah direpetisi oleh sineas mana pun.
Saya menolak anggapan di atas. Menonton The Phoenician Scheme tetap menghadirkan setumpuk kekaguman. Bagaimana seseorang bisa menyusun gambar-gambar dengan presisi luar biasa? Proses berpikir macam apa yang berseliweran di otaknya kala mengolah ide-ide komedi yang begitu absurd? Sampai kapan pun momen perilisan karya terbaru Wes Anderson akan selalu layak untuk dirayakan.
Kali ini perayaan tersebut berpusat pada kehidupan Zsa-Zsa Korda (Benicio del Toro), seorang taipan bisnis yang tak segan menggunakan metode kotor guna menghasilkan keuntungan. Kemanusiaan merupakan hal yang sepele di mata. “Aku tidak butuh hak asasiku”, ucap Korda. Ketika pesawatnya jatuh akibat usaha pembunuhan yang sudah berkali-kali terjadi, Korda nampaknya tak ambil pusing.
Tapi hati Korda tak sekosong kelihatannya. Dia bermimpi mengunjungi akhirat, dosa-dosanya diadili di hadapan Tuhan yang diperankan oleh Bill Murray dalam kemunculan singkat, sementara Knave, yang diperankan Willem Dafoe dalam kemunculan tak kalah singkat, jadi pembelanya. Charlotte Gainsbourg pun tampil sebentar sebagai istri pertama Korda. Sungguh luar biasa bagaimana nama-nama besar tersebut bersedia muncul dalam porsi yang begitu minim.
Masalah muncul saat rencana kotor Korda menguasai infrastruktur Fenisia terbentur konspirasi yang dijalankan oleh gabungan pemerintah dunia yang sudah sejak lama berambisi menjatuhkan si pebisnis. Dimulailah perjalanan Korda guna menyelesaikan permasalahan itu bersama Liesl (Mia Threapleton), putri sekaligus ahli waris seluruh kekayaannya yang juga seorang suster, dan Bjørn Lund (Michael Cera), ahli ilmu serangga yang bertindak sebagai asisten administrasi Korda.
Liesl kebingungan, mengapa sang ayah yang ia anggap asing justru menjadi ahli waris, dan tidak memberikan status itu kepada sembilan anak laki-laki yang Korda miliki. Apakah karena Liesl anak kesayangan Korda, atau ada alasan rahasia lainnya? Sebaliknya, apakah Liesl masih menyimpan sedikit rasa sayang terhadap ayahnya?
The Phoenician Scheme dengan segala skema finansial kotor yang protagonisnya rencanakan sekilas bakal terkesan intimidatif bagi penonton awam, namun alur yang ditulis oleh Wes Anderson berdasarkan cerita buatannya bersama Roman Coppola sejatinya sederhana: Pemerintah dunia sepakat mengatrol harga sebuah material guna melambungkan pengeluaran Korda, dan kini si pebisnis licik berupaya mengecoh para investor agar bersedia membagi beban keuangan tersebut.
Penjelasan di atas sebenarnya tidaklah penting. Kompleksitas skema serta elemen finansialnya bukanlah perihal yang perlu dipusingkan. Penonton cukup memahami bahwa melalui serangkaian kunjungan tersebut, Korda dan Liesl pelan-pelan mulai memikirkan kembali makna status mereka sebagai ayah dan anak.
Beberapa investor yang sempat disebutkan tadi antara lain Hilda (Scarlett Johansson), sekutu Korda yang ingin ia nikahi karena alasan finansial, hingga dua bersaudara Leland (Tom Hanks) dan Reagan (Bryan Cranston), yang nantinya terlibat pertandingan basket melawan Korda dan Pangeran Farouk (Riz Ahmed) guna menyelesaikan konflik bisnis mereka. Di sisi lain, Nubar (Benedict Cumberbatch), saudara tiri Korda yang juga salah satu investor, akan memberi batu sandungan terbesar.
Komedi hitam yang disajikan dengan gaya deadpan, deretan konflik unik yang diberi resolusi tak kalah unik, dan tentunya berbagai keindahan visual simetris dan penataan properti serba perfeksionis yang ditangkap oleh kamera Arah Bruno Delbonnel, yang mana semuanya merupakan ciri khas Wes Anderson, menjadi suguhan utama selama 105 menit durasi The Phoenician Scheme.
Akrab? Ya, tapi bukan berarti kehilangan pesonanya. Kecanggungan polah tokoh-tokoh rumusan Anderson, yang di film ini paling berhasil diwujudkan oleh Mia Threapleton dengan segala tutur kata "datarnya" sebagai si suster penyuka pipa rokok dan alkohol, selalu terasa seperti petualangan melintasi semesta absurd yang tak pernah terkesan "lurus-lurus saja".
Sikap dingin minim ekspresi yang jadi ciri para tokoh buatan Anderson selalu mewakili bagaimana disfungsi individu saling terkoneksi, tidak terkecuali di The Phoenician Scheme. Mungkin inilah film terhangat sang sineas sejak magnum opus-nya yang rilis lebih dari satu dekade lalu, The Grand Budapest Hotel. Di balik segala tetek bengek bisnisnya, The Phoenician Scheme memberi makna pada konsep keluarga yang tak memedulikan hubungan darah maupun gelimang harta.






0 komentar:
Posting Komentar