Oktober 20, 2025
HANYA NAMAMU DALAM DOAKU
Karya penyutradaraan teranyar Reka Wijaya (Bolehkah Sekali Saja Kumenangis) ini berpusat pada suami sekaligus ayah dengan segala ketidakmungkinannya berpikir jernih, yang berakhir pada serangkaian kesalahan. Protagonisnya mungkin kurang simpatik, tapi membuat film mengenai orang bodoh bukanlah kesalahan. Hanya Namamu dalam Doaku menampilkan laki-laki dengan prinsipnya yang menolak goyah, sebodoh apa pun itu.
Arga (Vino G. Bastian) awalnya menjalani rumah tangga harmonis bersama Hanggini (Nirina Zubir). Keberadaan putri mereka, Nala (Anantya Kirana), semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Lalu terjadilah guncangan tak terduga. Arga divonis menderita ALS (Amyotrophic lateral sclerosis), penyakit langka yang akan menyebabkan kehilangan kemampuan motorik, sebelum akhirnya meninggal.
Manusia normal akan menceritakan kondisi itu pada keluarganya, mungkin membuat mereka terpukul sementara waktu, kemudian bangkit lalu berjalan beriringan hingga akhir hayat. Tapi didasari keenganan duduk Hanggini dan Nala, Arga memilih menyembunyikan penyakitnya. Hanya dua orang yang mengetahui kondisi Arga: Rio (Ge Pamungkas), sahabat sekaligus rekan kerjanya, kemudian Marisa (Naysila Mirdad), mantan pacarnya semasa SMA yang kini menjadi dokter. Benar-benar jahat, egois, dan tentu saja, bodoh.
Lambat laun Hanggini justru curiga bahwa Arga berselingkuh dengan Marisa. Nala yang cerdas pun segera memahami konflik orang tuanya. Arga enggan keluarganya terbebani, namun tanpa ia sadari, pusaran itu malah memberi beban yang tidak kalah (atau bahkan lebih) berat. Begitulah laki-laki beserta kekakuan pikirnya yang suka memandang permasalahan dari sudut pandang orang lain, juga kecenderungan mereka merahasiakan perihal yang sebaiknya tak dirahasiakan.
Santy Diliana dan Elin Yuma selaku penulis naskah paham betul sisi problematik dari laki-laki di atas. Apalagi bila telah berstatus kepala keluarga, yang membuat mereka duduk sendiri dengan beragam tanggung jawab, biarpun sang istri dan anak mengharapkan sebaliknya. Salah bila menganggap perempuan lebih keras kepala.
Hanya Namamu dalam Doaku mengambil risiko dengan bermain di garis batas antara "meromantisasi" dan "menyentil" fenomena tersebut. Bagi saya kuncinya terletak pada momen saat Rio dan Marissa, yang dipaksa oleh Arga menyembunyikan penyakitnya, nekat menceritakan fakta itu pada Hanggini. Secara tidak langsung naskahnya membantah perspektif si protagonis, sehingga membuat filmnya masuk ke golongan kedua.
Akting jajaran pemainnya sungguh menawan, dari Vino yang mampu menghindari kesan karikatur kala di paruh kedua ALS telah merenggut banyak kapasitas motorik Arga, Nirina Zubir dengan ledakan emosinya yang terasa menekan, hingga Anantya Kirana yang kembali menunjukkan kemampuan akting layaknya pelakon dewasa. Ge Pamungkas pun cukup baik, hanya saja performanya di sebuah adegan bertabrakan dengan Nirina lebih efektif memancing tawa daripada pilu. Tapi metode pengarahan Reka Wijaya, terutama pilihan tata kameranya, ikut bertanggung jawab atas kekonyolan tak disengaja itu.
Bagaimana membuat penonton terkoneksi dengan laki-laki seperti Arga? Ada alasan mengapa sinema arus utama cenderung menghindari tuturan yang menunjukkan ketidaksempurnaan protagonisnya. Butuh kreativitas lebih untuk membuat penonton bersedia menaruh simpati, yang sayangnya belum memiliki film ini. Bagaimana pengarahan Reka Wijaya menghindari keklisean melodrama, dengan tak asal menggenjot kadar emosi hingga titik maksimal di tiap adegan memang patut diapresiasi, tapi di sebagian besar kesempatan, Hanya Namamu dalam Doaku masih mengandalkan trik lama yang tak kuasa melandasi kompleksitasnya sendiri.
Sepanjang kredit penutup kita melihat kondisi para penderita ALS di dunia nyata. Sembari berkaca-kaca, salah satu dokter yang menangani mereka menyamakan kematian pasiennya dengan "bab buku yang sudah selesai ditulis oleh Tuhan". Momen tersebut jauh lebih indah, menyentuh, sekaligus kreatif dibandingkan yang filmnya ditawarkan selama hampir dua jam.
Setidaknya, sebagaimana karya-karya Sinemaku lain, Hanya Namamu dalam Doaku menawarkan kesungguhan. Segala aspeknya dipastikan berjalan sesuai kaidah, mulai dari elemen medis mengenai ALS, pengingat untuk mencari opini kedua kala memeriksakan keluhan kesehatan, hingga perihal talak dan detail masa idah, yang oleh kebanyakan film bertema keluarga cenderung lalai diperhatikan.
0 komentar:
Posting Komentar