Oktober 20, 2025
EXIT 8
Pada tahun 2023, The Exit 8 menghadirkan fenomena di dunia game ketika mengubah konsep simulator berjalan menjadi pengalaman menegangkan. mengikuti jejak judul-judul seperti I'm on Observation Duty (2018), ia pun mempopulerkan konotasi berbeda untuk kata "anomali". Exit 8 sebagai adaptasi filmnya juga mendapat pencapaian serupa, lewat keberhasilannya menyulap permainan "ala kadarnya" jadi cerita filosofis dengan kedalaman emosi.
Garis besar kisahnya menyoroti bagaimana seorang pria tanpa nama yang dipanggil "The Lost Man" (Kazunari Ninomiya), terjebak di lorong kereta bawah tanah yang terus berulang. Setelah beberapa saat, barulah si protagonis menyadari aturan yang harus dipenuhi guna mencapai pintu keluar Exit 8, yakni dengan menemukan anomali di tiap pengulangannya. Bila ada anomali ia harus kembali, jika tidak, perjalanan ke depan bisa dilanjutkan.
Wujud anomalinya beragam. Salah satu yang paling mencekam adalah sewaktu laki-laki kantoran misterius dengan julukan "The Walking Man" (Yamato Kochi mencuatkan kesan misterius penuh ketidaknyamanan) yang selalu protagonis kita temui di tiap berulang, tiba-tiba berperilaku "aneh". Pengarahan Genki Kawamura memaksimalkan nuansa atmosferik dari ruang liminal yang jadi latarnya.
Exit 8 pun termasuk satu dari sedikit adaptasi yang mampu menangkap "rasa" dari permainannya secara sempurna. Bukan semata-mata karena menit-menit awalnya dipresentasikan dari sudut pandang orang pertama, sebelum beralih ke format konvensional yang tetap berisi banyak waktu. Seperti di versi game, tidak semua anomali berhasil dipahami oleh si protagonis. Sebaliknya, akibat kegagalan ketelitian, sempat pula ia salah mengartikan situasi normal sebagai anomali.
Karena berkutat pada pengulangan, pengulangan pun otomatis terjadi. Tapi Genki Kawamura memilih mempertahankannya, menyadari seolah-olah kesan repetitif memang bagian dari pengalaman yang esensial dari The Exit 8. Ada satu hal yang menarik. Ketika menemukan keanehan yang cenderung mengancam, si protagonis tidak langsung kabur, bak menguasai rasa penasaran akan anomalinya. Bodoh? Mungkin, tapi kesulitan serupa juga sering dilakukan oleh pemain gimnya. Ini pun bentuk pemahaman terhadap materi aslinya.
Film ini bisa dinikmati semua kalangan, tapi penonton yang familiar dengan The Exit 8 akan merasakan lebih banyak kekaguman sekaligus kekagetan, kala menyaksikan naskah buatan Genki Kawamura dan Kentaro Hirase membuat alurnya jadi jauh lebih tebal. Misal "The Lost Man" yang diberi cerita pribadi, saat menerima panggilan telepon berisi kabar kehamilan si mantan pacar (Nana Komatsu).
Kazunari Ninomiya tampil mumpuni sebagai laki-laki yang terjebak dalam kebingungan menyesakkan, baik tentang lorong kereta bawah tanah yang mengurungnya, maupun bayi yang dikandung sang mantan. Pengembangan karakternya terpampang nyata di layar, yang berpuncak pada adegan "terjangan air bah" saat momen paling menyentuh dalam filmnya.
Situasi yang dihadapi karakternya pun bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih metaforikal dan filosofis. Bukan sebatas fenomena misterius, pula manifestasi ketersesatan jiwa individu, juga melambangkan rutinitas monoton yang perlahan menghilangkan sisi humanis seseorang, sebagaimana diperlihatkan oleh penelusuran tak terduga mengenai latar belakang karakter "The Walking Man".
Bukan cuma memahami poin-poin esensial materi aslinya, termasuk berhasil mengulangi pengalaman memainkan gimnya, film ini ikut mengembangkannya, lalu membuatnya jauh lebih kaya. Saya punya sebuah pernyataan berani: Exit 8 merupakan film adaptasi game terbaik yang pernah dibuat sejauh ini.
0 komentar:
Posting Komentar