SUKMA
Rumah berhantu dengan cermin mengerikan yang ditampilkan Sukma sudah menjadi bahan pokok klasik (baca: klise) untuk horor. Bahkan seminggu sebelumnya, The Conjuring: Last Rites pun mengedepankan amunisi serupa. Tapi di tengah persaingan pendarahan samudra merah horor Indonesia, di mana kualitas dianggap sekunder, pengarahan mahasiswa tingkat dua dari Baim Wong ini setidaknya masih patut ditonton berkat intensitasnya berkarya secara layak.
Arini (Luna Maya) baru pindah ke rumah baru bersama suami keduanya, Pram (Oka Antara), dan putra, Andik (Kiano Tiger Wong). Babak kehidupan baru ingin Arini lalui, termasuk lepas dari mantan suaminya, Hendra (Fedi Nuril), yang bermasalah perihal mengatur emosi akibat menderita skizofrenia. Semua berjalan bahagia, sampai sebuah cermin tua yang ditemukan di gudang bawah tanah mulai menyulut beragam teror.
Mengapa mereka mau tinggal di rumah tua yang bak sarang hantu? Kenapa cermin misterius yang tiap sisinya mencuatkan keangkeran dibiarkan terpasang? Kenapa perempuan bertingkah aneh seperti Bu Sri (Christine Hakim) diizinkan mengurus rumah? Naskah buatan Ratih Kumala dan Baim Wong setidaknya bisa menjelaskan setumpuk tanda tanya di atas, sebagai bagian dari narasi bertema "manipulasi", alih-alih sebatas memaksa penonton membunyikan, "Karakter film horor memang bodoh".
Masalah naskahnya terletak pada bagaimana ia menghubungkan misteri. Adanya misteri tidak kemudian secara otomatis menimbulkan rasa penasaran penonton. Naskahnya hanya meninggalkan pertanyaan tanpa menyulut antusiasme kita untuk mencari jawaban, atau sebaliknya, memunculkan jawaban namun lalai mengajak kita bertanya-tanya, seperti saat Arini terkejut saat menemukan sebuah buku berisi simbol yang sama dengan cermin di rumahnya. Rasanya banyak penonton takkan menyadari eksistensi simbol tersebut sebelumnya.
Setidaknya Sukma bukan horor yang gemar mengumbar wajah hantu. Masih mengedepankan jumpscare, ide menakut-nakuti yang ditawarkan naskahnya jauh dari kebaruan, tapi di kursi sutradara, Baim Wong cukup jeli mengatur timing yang efektif untuk mengagetkan penonton. Sisanya ia serahkan pada Christine Hakim yang memancarkan aura intimidatif di setiap kemunculannya. Sang pelakon legendaris terlihat mengerikan tanpa harus memasang wajah seram, seolah semua berasal dari kegelapan yang ia tanam dalam ketakutan.
Hampir seluruh teknisnya digarap apik, meski metode yang filmnya pakai guna mempercepat tempo penceritaan, terkadang justru memunculkan kekacauan akibat penyuntikan penuh lompatan. Intinya Sukma punya segudang potensi. Saya hanya berandai-andai, "Apa jadinya kalau departemen naskah menyediakan ide teror yang lebih kreatif?"
Misal terkait momen menyegarkan saat kita berkenalan dengan Luluk (Asri Welas), klien Arini yang bekerja sebagai penjahit. Adegan tersebut punya daya tarik lewat kombinasi kengerian dan humor khas "karakter Asri Welas", juga selipan olok-olok tentang pengkhianatan karakter dalam film horor. Sayang, keampuhan buildup-nya memupuk antisipasi hanya diberi imbalan tak memuaskan yang jelas perlunya injeksi kreativitas.
Beruntung konklusi filmnya lebih memuaskan. Meski menyisakan kejanggalan terkait modus operandi antagonis (pencarian korbannya lebih rumit dari kebutuhan, yang mungkin terjadi tuntutan memerlukan pesan soal manipulasi), twist-nya benar-benar mengejutkan, pula dibarengi visualisasi menohok yang menolak bergantung pada eksposisi generik.






0 komentar:
Posting Komentar