Oktober 21, 2025
NOBODY 2
Kalau Nothing (2021) menyoroti sisi individu protagonisnya, maka Nothing 2 mengentalkan aspek kekeluargaan. Bagaimana selepas kebutuhan personalnya terpenuhi (lagi), kini si jagoan harus menjalankan peran sebagai ayah sekaligus suami, tentunya sambil tetap meninggalkan setumpuk mayat penjahat di sepanjang perjalanan.
Hutch Mansell (Bob Odenkirk) tak lagi mengeluhkan rutinitasnya sebagai pekerja kantoran. Demi membuat kekacauan yang ia ciptakan di film pertama, Hutch kembali dikirim untuk menuntaskan berbagai misi rahasia oleh pihak pemerintah. Hasratnya akan menjadi kekerasan pun terpuaskan. Masalahnya, giliran sang istri, Becca (Connie Nielsen), yang memendaki keluhan.
Melalui montase yang jadi cerminan serupa di film sebelumnya, kita melihat Becca mulai akrab dengan kesepian akibat Hutch selalu pergi untuk menjalankan misi. Dua anak mereka, Brady (Gage Munroe) dan Sammy (Paisley Cadorath), juga kurang mendapat perhatian dari ayah. Hutch pun mencetuskan ide untuk membawa keluarganya berlibur, tapi bukannya bersantai, ia malah harus menghadapi penjahat keji bernama Lendina, yang diperankan dengan penuh semangat bersenang-senang Sharon Stone. Sayang, kehadiran sang aktris legendaris dalam adegan aksi cenderung kurang dimanfaatkan
Naskah buatan Derek Kolstad dan Aaron Rabin sejatinya hanya menawarkan plot generik yang tak cukup kuat untuk menjaga intensitas tatkala baku hantam sedang tidak ada, namun terkadang daya tarik justru hadir dari pentingnya kisahnya. Tidak ada orang lain selain John Wick yang tersusun atas bangunan dunia kompleks.
Skalanya kecil. Hutch tidak harus berinvestasi dengan beragam organisasi kriminal eksentrik atau terjebak pelik. Dia hanya individu yang kelimpungan mengatur keseimbangan kehidupan kerja, pula kepayahan perihal mengatur emosi. Segala ancaman yang dialami Keluarga Mansell berawal sat Hutch ingin membalas sikap buruk seseorang terhadap dua anaknya. Apakah itu menanamkan "melindungi" milik seorang ayah, atau sekadar luapan amarah pria yang enggan membiarkan egonya tercoreng?
Menarik pula menyaksikan Timo Tjahjanto menangani film dengan alur sederhana macam ini. Nothing 2 (89 menit) merupakan karya tersingkat sang sutradara, yang bahkan lebih pendek dari Rumah Dara (95 menit). Timo pun bisa lebih fokus mengeksplorasi pengarahan aksi yang mampu ia susun dengan penuh gaya, termasuk berkat pengaturan kamera Callan Green yang bergerak seperti itu.
Dibanding deretan filmografi sang sineas lainnya, kadar kekerasan Nothing 2 tak terlalu tinggi, minimal sebelum babak ketiga yang tampil bak versi mematikan dari Home Alone, namun energi yang Timo disuntikkan di tiap pertarungan Hutch, juga sentuhan komedik dalam aksinya yang cukup kreatif dalam memanfaatkan properti (pengaruh dari film-film klasik Jackie Chan amat kental di sini), merupakan motor penggerak yang mampu bagi filmnya.
Satu pilihan artistik yang menonjol adalah penggunaan gerak lambat. Timo tahu kapan harus memakainya guna menambah nuansa dramatis, tanpa mengeksploitasinya secara berlebihan. Gerak lambat di sini adalah penegas. Sebuah bumbu penyedap alih-alih bahan baku utama. Adegan adu pedang yang melibatkan Harry (RZA), adik tiri Hutch, hingga momen romantis tak terduga berhiaskan lagu The Power of Love di penghujung babak ketiga, semua meninggalkan kesan yang berlipat ganda berkat efek tersebut.
Tapi yang membuat Nothing 2 terasa begitu memuaskan bukanlah soal kebrutalan atau estetikanya, melainkan fakta bahwa orang-orang yang Hutch hajar memang pantas menerima bogem mentah, dari sekelompok penjahat kelas teri yang terlampau sombong, para perundung, hingga barisan aparat korup yang menyalahgunakan kekuasaan mereka. Meski masih jauh dari kesempurnaan, mungkin Hutch bukanlah ayah yang benar-benar buruk.
0 komentar:
Posting Komentar