Rabu, 22 Oktober 2025

ON BECOMING A GUINEA FOWL

ON BECOMING A GUINEA FOWL

On Becoming a Guinea Fowl dibuka saat seorang perempuan yang mengendarai mobilnya kala malam hari, tiba-tiba menemukan mayat di tengah jalan. Responnya cenderung dingin, tak ubahnya seorang karakter dari film komedi kelam berbalut surealisme sedang menghadapi satu dari sekian banyak peristiwa absurd. Namun seiring kisahnya bergulir, lalu semakin banyak rahasia terkuak, rupanya ada alasan yang memang kelam namun sangat berpijak pada realisme di balik respon si perempuan. 

Shula (Susan Chardy) nama perempuan itu, sedangkan mayat yang tersebar di jalanan Zambia itu adalah milik pamannya, Fred (Roy Chisha). Nsansa (Elizabeth Chisela), sepupu Shula yang seorang pemabuk, tiba di TKP beberapa saat berselang. Di sela-sela sibuknya prosesi pemakaman, Nsansa dengan gayanya yang ceria, berkisah tentang bagaimana Fred pernah melecehkannya semasa ia kecil.

Penampilan kebejatan Fred sudah diketahui keluarga besarnya. Selain doyan mabuk-mabukan, dia sering melecehkan anak di bawah umur. Lokasi penemuan mayatnya yang berada tidak jauh dari rumah bordil pun memancing kekayaannya. Bahkan ia menikah sewaktu istrinya (Norah Mwansa) baru berumur 11 tahun. Benarkah kematian diratapi?

On Becoming a Guinea Fowl jadi cara Rungano Nyoni (I Am Not a Witch) selaku film sekaligus penulis naskah untuk menggugat norma, bahwasanya, beberapa keburukan yang dilanggengkan atas nama "adat" sudah sepantasnya dihapuskan. Shula dipusingkan oleh para bibinya, yang mengatur bagaimana ia harus berperilaku di tengah situasi keringat dingin, terutama kebutuhan untuk meraung-raung meratakan kematian Fred. 

Di mata Nyoni, beberapa hal berkedok "kultural" hanyalah bentuk pengekangan yang menciptakan kepalsuan. Pemakaman penuh puja-puji atas nama kekeluargaan meskipun si mendiang telah diketahui bersama kerap melakukan tindakan keji, para istri yang diwajibkan menuruti Arahan suami biarpun diperlakukan layaknya budak, hingga para perempuan yang terpaksa bungkam mengenai perilaku laki-laki yang mengedepankan gendernya.

Alurnya bergulir lembut, mulus, hingga eksposisi tak terasa seperti eksposisi, melainkan peristiwa yang terjadi secara natural. Pada suatu kesempatan, Shula berusaha mengajak bicara ibunya (Doris Naulapwa) mengenai kegundahan yang ia rasakan. Masalahnya sang ibu terlalu sibuk mengurusi keperluan pemakaman, menyiapkan makanan, sampai membersihkan kandang hewan peliharaan, sehingga tak sempat meluangkan sedikit waktu bicara hati ke hati.

Keharusan menuntaskan segala pekerjaan domestik membuat perempuan Zambia kehilangan ruang bersuara. Di sisi lain kita menyaksikan para laki-laki, yang juga memegang peran sebagai pemimpin adat, bebas bercengkerama, pula dengan santai mengeluhkan santapan yang belum tiba. 

Salah satu adegan paling ajaib di On Becoming a Guinea Fowl adalah saat Shula dan Nsansa berkumpul dengan para bibinya di dapur. Gerombolan perempuan dewasa yang sedari awal seperti hanya memedulikan sebanyak apa air mata yang ditumpahkan bagi Fred, tiba-tiba mengakui luka yang dipendam oleh dua keponakan mereka, sebelum melantunkan nada-nada tradisional indah bersama-sama. Di dunia tengah yang tunduk pada kekuasaan laki-laki, hanyalah bentuk "bersuara" yang bisa dilakukan perempuan.

Arti judulnya yang unik terungkap di sebuah kilas balik soal masa kecil Shula, ketika ia menonton program anak-anak di televisi. Di situlah Shula belajar tentang bagaimana ayam guinea (ayam mutiara) adalah hewan yang cenderung cerewet, dan menggunakan suara mungil mereka untuk memperingatkan satu sama lain bila ada predator yang mendekat.

0 komentar:

Posting Komentar