Sabtu, 25 Oktober 2025

 KONTINENTAL '25

Seorang tunawisma menjalankan rutinitas harian, dari memungut sampah, meminta sedikit koin pada pengunjung kafe, lalu menikmati alkohol di tengah bentangan kota Cluj. Begitulah cara Kontinental '25 mengawali penceritaan. Sekuen di atas mempunyai kesan candid sebagaimana gaya neorealis yang menginspirasinya (terutama Europe '51 karya Roberto Rossellini). Serupa pergerakan sinema itu pula, film buatan Radu Jude ini bertujuan menangkap dinamika individu dan realita sosial tak ideal yang harus dilewatinya. 

Si tunawisma bernama Ion (Gabriel Spahiu). Dia tinggal di sebuah ruang tungku tak terpakai, yang akan segera diruntuhkan guna dibangun hotel bernama Kontinental. Orsolya (Eszter Tompa) dikirim untuk menjalankan penggusuran. Sungguh malang, di tengah proses tersebut, Orsolya justru menemukan Ion mati bunuh diri akibat keputusasaan. Pertanyaannya, malang bagi siapa?

Orsolya yang tak mampu lepas dari rasa bersalah pun berusaha mencari ketenangan dengan bercerita kepada orang-orang terdekat. Kontinental '25 mengisi 109 menit alurnya dengan menampilkan si protagonis terus mengulang cerita yang sama, yakni mengenai kematian tragis Ion, serta kegundahan hati. Sebatas itu? Ya, karena justru di situlah salah satu poin utama narasinya: memberi ruang bagi perihal yang kerap dipandang sebelah mata. 

Manusia seperti sulit memvalidasi emosi negatif sesamanya. Luapan unek-unek pun kerap diberi respon sekenanya tanpa ada jejak simpati. Orsolya bercerita pada suami, sahabat, ibu, pendeta, hingga mantan muridnya. Si suami mengerdilkan luka Orsolya kala janji komentar warganet jahat yang menyalahkan sang istri atas kematian Ion, sedangkan ceramah tak ramah si pendeta justru membuat agama terdengar kejam dan tak mengenal keadilan.

Radu Jude mengambil keseluruhan gambarnya menggunakan iPhone, meniadakan gerak bak memasang kamera candid, yang terkadang mengalami perubahan fokus. Semua atas nama realisme, yang memposisikan penonton bukan hanya sebagai penikmat, melainkan pengamat yang seolah-olah hadir langsung di lokasi sambil diam-diam menghaluskan karakternya. 

Naskah tulisan hasil Radu Jude begitu cerdik menyusun percakapan, yang pelan-pelan mengungkap kumpulan informasi yang memberi gambaran mengenai kondisi sosial masyarakat beserta latar belakangnya. Ion rupanya bukan tunawisma biasa melainkan mantan atlet nasional peraih medali yang tak diperhatikan negara, adanya konflik Rumania-Hungaria, hingga ketidakbecusan aparat bekerja. Alhasil, Kontinental '25 berkembang tak lagi tentang kegundahan satu individu belaka.

Seiring waktu, saya dibuat menyadari kalau pengambilan gambar berisi pemandangan kota Cluj yang terkesan acak bukanlah sebatas jembatan antar adegan, tapi cara Jude menyoroti tendensi pemerintah yang hanya memedulikan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan, tanpa mau membuka mata pada retensi sosial.  

Jude juga jeli melempar ironi menggelitik. Tengok saat Orsolya benar-benar menguasai rasa halus hingga membuatnya merata dalam tangis, namun di belakangnya kita melihat sebuah patung dinosaurus animatronik bergerak sambil mengaum.

Obrolan Orsolya dengan sahabatnya, Dorina (Oana Mardare), pun kaya akan ironi. Dorina bercerita mengenai penderitaan orang-orang di Roma, mengajak sahabatnya untuk memberikan sedikit bantuan, namun sejurus kemudian mengeluhkan bau seorang tunawisma yang tinggal di samping rumahnya. Orsolya pun balas berkisah tentang rutinitasnya memberi kontribusi ke berbagai badan penyalur donasi. 

Satu hal yang berkali-kali Orsolya sampaikan adalah bahwa ia sudah berinisiatif memundurkan penggusuran agar memberi waktu bagi Ion untuk bekemas. Apakah itu cukup? Mengapa ia tidak berusaha lebih keras membantu Ion mencari tempat tinggal baru? Ketika penggusuran terhadap tunawisma begitu mengganggunya, mengapa ia enggan beralih profesi? Kontinental '25 juga mengungkap wajah kepedulian yang bersifat peformatif yang seolah-olah menjadi tren masyarakat masa kini.


0 komentar:

Posting Komentar