Jumat, 24 Oktober 2025

M3GAN 2.0

 M3GAN 2.0

Ada beberapa film yang kerap jadi acuan Hollywood saat memproduksi sekuelnya: The Empire Strikes Back (1980), The Dark Knight (2008), Aliens (1986), dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Mengingat M3GAN (2022) berkisah tentang robot pembunuh, merupakan hal wajar saat sekuelnya mengambil opsi terakhir dengan lebih mengedepankan aksi daripada horor. Masalahnya Gerald Johnstone selaku sutradara sekaligus penulis naskah gagal memahami alasan keberhasilan mahakarya buatan James Cameron tersebut. 

Selepas pembunuhan berantai di film perdana, kini M3GAN (gesturnya dihidupkan kembali oleh Amie Donald, suaranya diisi oleh Jenna Davis) kembali sebagai antihero, dengan misi melindungi Cady (Violet McGraw), meskipun Gemma (Allison Williams) masih memberikan keajaiban terhadapnya. Lawan mereka adalah robot lain bernama AMELIA (Ivanna Sakhno) yang dibuat berdasarkan cetak biru M3GAN, namun telah dimodifikasi supaya lebih canggih.

Alurnya "sangat T2". Tapi ketika Cameron mengeliminasi nuansa horor sambil menggenjot kuantitas tembakan baku, Johnstone hanya melakukan poin pertama.  Sebagai syarat untuk menghidupkan M3GAN lagi, Gemma menaruh program yang membuat si robot tak bisa membunuh dan melontarkan sumpah serapah. Bayangkan bila T-800 dilarang memakai shotgun miliknya.

Horornya hilang, tetapi aksinya minim. M3GAN 2.0 pun menjadi 120 menit tanpa taring. AMELIA tidak memasang program serupa, namun yang membatasi justru pendekatan sang sineas. Sekalinya kematiannya dia lakukan, semua terjadi begitu cepat, atau secara off-screen. Di satu adegan, ia melemparkan tombak ke dada korban dan tak setetes pun darah tumpah. AMELIA tidak menari-nari sambil mengamati rasa takut si calon mangsa. Berbeda dengan M3GAN di film pertama, pembunuhan bak pekerjaan rutin yang tidak dinikmati AMELIA.

M3GAN 2.0 adalah tontonan penuh potensi yang gagal terpenuhi. Film ini bahkan tak mampu memenuhi janjinya menghadirkan pertarungan over-the-top antara dua robot. M3GAN dan AMELIA baru secara langsung beradu teknologi di babak puncak. Johnstone sebenarnya menampilkan kapasitas mengolah aksi lewat permainan tata kamera yang lincah, tapi presentasinya terlalu singkat. Filmnya tidak merasa perlu melunasi janjinya kepada penonton yang sudah sabar menanti.

Di sisi lain, kadar komedinya ditingkatkan. Beberapa di antaranya adalah humor kekanak-kanakan tak lucu, misal saat salah satu karakternya yang berprofesi sebagai ilmuwan cerdas dengan kebodohannya salah memakai sapu tangan berbalut obat bius untuk menyeka ingus. Upaya menghadirkan keabsurdan secara lebih kreatif, seperti kala M3GAN berlaku bak Putri Disney yang bernyanyi guna menyampaikan isi hati, mengurangi efektivitasnya melalui eksekusi yang terkesan menahan diri.
Apa maksudnya melontarkan ide absurd jika takut akan kekonyolan berlebihan? M3GAN 2.0 memang bak kebingungan menentukan jati diri. Belum lagi terkait pesan "pro-AI" yang disamarkan dalam bentuk pesan bijak mengenai harmoni antara manusia dan kecerdasan buatan yang disajikan secara halus oleh naskahnya. Apakah pembuat film ini belum menonton Terminator?

0 komentar:

Posting Komentar