Senin, 20 Oktober 2025

MATERIALISTS

 MATERIALISTS

cap kali film romantis hadir layaknya dongeng dilengkapi pesan moral untuk tidak memandang sesuatu berdasarkan nilai komersial belaka. Tapi kita hidup di era yang cenderung mengedepankan sudut pandang sebaliknya, dan sebagai komedi romantis yang lahir pada era modern semacam itu, Materialis sadar betul akan fenomena tersebut, lalu alih-alih mengerdilkan satu sisi, memilih untuk menyeimbangkannya. Materi dan cinta tidak bisa ada pada diri seseorang. 

“Apakah film yang diputar keliru?”, begitu pikir saya sewaktu melihat adegan menampilkan manusia purba dimabuk asmara. Tapi memang itulah cara Celine Song membuka filmnya. Disiptakannya komparasi, betapa dahulunya jatuh cinta sungguh sederhana. Lompat hingga ratusan tahun berselang, rangkaian bunga cantik saja tak cukup untuk meluluhkan hati pasangan. Ada banyak pertimbangan kompleks yang harus dipikirkan.

Tata kamera Arah Shabier Kirchner menangkap kesibukan kota New York yang segera mengingatkan ke judul-judul romcom klasik, seiring perkenalan kita dengan Lucy (Dakota Johnson), karyawan perusahaan pencarian jodoh yang dikenal sebagai makcomblang terbaik. Sudah sembilan pasangan berakhir mengucap janji suci setelah dipersatukan oleh Lucy. Di matanya, kesesuaian dua manusia hanyalah standar rumus matematika. 

Lucy sendiri tidak buru-buru mencari pasangan. Jika kelak harus menikah, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki yang bukan hanya punya fisik rupawan (wajah ganteng, tubuh tinggi), pula kaya raya. Semakin banyak perempuan masa kini yang memasang standar serupa sehingga mendapat topi "matre" atau "terlalu pilih-pilih", seolah-olah para laki-laki tidak memasang banyak standar dan hanya berpura-pura kemurnian hati.

Tapi deretan permintaan beberapa klien Lucy menunjukkan fakta sebaliknya. Laki-laki dengan obsesinya terhadap gadis muda beserta segala tetek bengek tampilan fisik lainnya juga tidak kalah ruwet. Kaum materialis berhasil menyentil pemahaman seksis yang sudah mengakar terlalu kuat di masyarakat tersebut. 

Sampai di pesta pernikahan salah satu kliennya, Lucy berkenalan dengan Harry (Pedro Pascal), kakak dari pengantin laki-laki. Seorang pebisnis kaya raya dengan paras tampan, perawakan tanpa cela, selera mode kelas tinggi, penuh sopan santun pula. Sesosok laki-laki sempurna, yang saking langkanya, diberi status "unicorn" oleh perusahaan tempat Lucy bekerja. Di pesta yang sama, Lucy bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, John (Chris Evans), yang bekerja sebagai pelayan katering di sela-sela usahanya mewujudkan mimpi menjadi aktor. 

Lagu tidak menunggu lama sampai menumbuhkan api cinta segitiga di antara protagonisnya. Kali pertama tiga individu tersebut berada dalam satu frame, sang sutradara dengan jeli menciptakan momen canggung yang sangat menggelitik. Begitulah bentuk unsur komedi Materialis. Bukan kekonyolan luar biasa, melainkan satir untuk dinamika percintaan modern, yang penyajiannya berpijak pada realisme.

0 komentar:

Posting Komentar