Oktober 24, 2025
THE BRUTALIST
Seorang pria berjejalan di dalam kapal yang penuh nan gelap. Hampir tak terlihat apa pun di sana. Rasanya menyesakkan. Hingga akhirnya cahaya mulai terlihat. Dia berjalan keluar, berdiri di bawah bentangan langit biru sambil memperkenalkan indah, sementara latar musik terdengar gemuruh megah mengiringi pemandangan yang ikut membuat kita merasakan kelegaan yang teramat sangat tersebut.
Begitulah awal dari perjalanan tiga setengah jam The Brutalis. Si pria, seorang imigran penyuntas holokaus asal Hongaria, telah tiba di Amerika yang konon merupakan tanah impian. Adegan menggugah itu berakhir saat kamera mendongak ke atas, lalu menampilkan Patung Liberty sebagai simbol kebebasan berdiri dalam posisi terbalik. Mungkinkah "American Dream" hanya sebatas angan semu?
Pria itu bernama László Tóth (Adrien Brody). Dia pergi seorang diri meninggalkan sang istri, Erzsébet (Felicity Jones), yang diharapkan akan segera menyusul. Untungnya László tidak seorang diri. Sepupunya, Attila (Alessandro Nivola), telah membangun kehidupan di Philadelphia dengan menjalankan bisnis furnitur. Attila telah mengganti nama belakangnya dari Molnár menjadi Miller, juga memeluk Katolik selepas menikahi Audrey (Emma Laird). Disitulah untuk pertama kalinya, László sadar bahwa harga mimpi di Amerika begitu mahal. Ada kalanya individu harus membayar dengan jati diri mereka.
Sejatinya László bukan pria biasa. Di Eropa Timur, namanya sudah cukup kondang sebagai arsitektur penganut gaya brutalisme, yang cenderung menekankan pada "kementahan" bangunan, sebagaimana film ini sendiri, yang mencoba memandang kehidupan sebagaimana adanya. Pertemuan László dengan Harrison Lee Van Buren (Guy Pearce) si industrialis yang mengagumi karyanya, jadi awal proses The Brutalis menelanjangi wujud asli kehidupan dengan berpijak pada upaya protagonisnya meraih mimpi.
Ditulis oleh sang sutradara, Brady Corbet, bersama partnernya, Mona Fastvold, naskah The Brutalis punya kemampuan menjaga ketegangan penonton selama tiga jam lebih. Durasi panjang yang terasa penuh karena kisahnya memang berhasrat. Dinamika László-Harrison dipakai untuk menyentil setumpuk isu, dari xenofobia, rasisme, hingga jurang kelas. Bagaimana individu dari kelompok mayoritas, terutama bila ia juga memiliki harta dan kekuasaan, seperti lintah yang enggan berhenti menyedot daya hidup kaum minoritas. Bahkan Corbet dan Fastvold memakai alegori yang lebih ekstrim: berbahaya.
Tapi bahkan durasi 200-an menit tak serta merta membuat The Brutalis menunjukkan segalanya. Beberapa peristiwa sebatas disiratkan, atau kita dengar dari cerita orang ketiga. Serupa karya arsitektur, film ini adalah monumen yang dapat membuat para penikmatnya mempelajari segudang cerita tanpa perlu menyaksikannya.
Departemen jasa lain perihal menjaga atensi pantang dilupakan. Musik gubahan Daniel Blumberg terkadang terdengar melankolis, terkadang menghantui, lalu sesekali menggelegar layaknya ledakan perasaan yang sudah terlalu lama terkubur. Sedangkan sinematografi Arah Lol Crawley menghadirkan keindahan yang janggal. Direkam memakai format VistaVision yang eksistensinya mulai dilupakan, gambarnya menyimpan keintiman, tak jarang mencuatkan klaustrofobia, namun terlihat masif secara bersamaan. Kita seperti diajak mengingat, betapa di tengah luasnya bentangan dunia mungkin eksistensi manusia tampak sangat kecil, namun bukannya tidak berarti.
Di departemen akting, Adrien Brody tampil luar biasa. Matanya menyimpan berbagai macam emosi, tidak terkecuali kesenduan yang seolah ingin terus menetap. Sebuah pertunjukan yang mampu melibatkan penonton agar ikut "merasakan". Sebaliknya, Felicity Jones yang memasuki sentral penceritaan di paruh kedua memancarkan martabat dalam diri Erzsébet, yang menolak untuk terkoyak biarpun semesta bak berkonspirasi meruntuhkan hidupnya dan sang suami.
Sebab ini bukan sebatas perusakan oleh satu pihak. Selain sebagian besar pemilik kekuasaan, László memiliki obsesinya terhadap idealisme, yang juga mencerminkan obsesi terhadap dirinya sendiri, juga terlibat dalam pengalaman hidupnya, sementara kecelakaan demi kecelakaan sering terjadi di luar kendali. Jadi (seperti yang disampaikan konklusinya) destinasi lebih penting daripada perjalanan yang dilalui, atau menganggap itu sekadar pemaksaan perspektif positif guna memandang tragedi demi menghibur diri?
0 komentar:
Posting Komentar