Oktober 26, 2025
MADS
Mads akan lebih banyak dibicarakan karena format one-shot miliknya, tetapi pencapaian film impresif ini bukan soal teknis semata. David Moreau selaku sutradara sekaligus penulis naskah ikut memberi twist menarik pada formula usang film zombi, termasuk sebuah relevansi seputar isu yang akan terasa begitu dekat di benak penonton Indonesia saat ini: ditembak oleh aparat.
Alurnya yang diawali dengan cukup lambat, bukan menampilkan puncak ledakan wabah, melainkan fase awal ketika semua masih jadi misteri yang coba ditutupi oleh para pemegang kekuasaan. Semua berawal sewaktu Romain (Milton Riche) mengonsumsi narkoba jenis baru berwarna merah. Keanehan mulai terjadi. Romain merasakan ketidakberesan di tubuhnya, pun dalam perjalanan pulang, ia dihadang sesosok perempuan yang secara membabi buta menusuk-nusuk mendengarnya sendiri.
Bahkan sejak menit-menit awal, cara Mads mengeksekusi teknik one-shot sudah mengundang decak kagum. Kamera Arahan Philip Lozano merekam tanpa pernah putus, pula terus bergerak pembohong bak sedang di bawah pengaruh halusinogen, yang seiring waktu semakin mengagumkan kala David Moreau mulai memandu penonton mengarungi perjalanan mengelilingi kota bersama karakternya.
Presentasinya tidak pernah benar-benar mengerikan atau menegangkan. Tidak pula mengumbar kekerasan layaknya jajaran film zombi dengan daya hibur tinggi. Tapi ada kepuasan besar melihat betapa bagusnya Mads menangani kerumitan teknisnya.
Hebatnya, Mads tak hanya fokus pada perspektif satu protagonis. Kelak kita akan meninggalkan sudut pandang Romain untuk beralih ke pacarnya, Julia (Lucille Guillaume), kemudian berpindah lagi ke Anaïs (Laurie Pavy), sahabat Julia yang menyimpan rahasia. Pergeseran sudut pandangnya luar biasa mulus, sekaligus didukung penampilan solid ketiga pelakonnya, yang sejalan dengan realisme incaran sang sutradara.
Julia dan Anaïs juga memakai narkoba merah yang sama sebelum perlahan kehilangan kendali. Mads punya pendefinisian soal zombi yang agak berbeda dibandingkan mayoritas "kepercayaan" arus utama. Alih-alih mematikan otak, virusnya cenderung membangkitkan sisi manusia liar. Sebelum tertarik memangsa korban, mereka yang terjangkit lebih dulu menyatakan anarkis, merusak properti, atau seperti yang tampak di judulnya, "menggila".
Hebatnya, Mads tak hanya fokus pada perspektif satu protagonis. Kelak kita akan meninggalkan sudut pandang Romain untuk beralih ke pacarnya, Julia (Lucille Guillaume), kemudian berpindah lagi ke Anaïs (Laurie Pavy), sahabat Julia yang menyimpan rahasia. Pergeseran sudut pandangnya luar biasa mulus, sekaligus didukung penampilan solid ketiga pelakonnya, yang sejalan dengan realisme incaran sang sutradara.
Julia dan Anaïs juga memakai narkoba merah yang sama sebelum perlahan kehilangan kendali. Mads punya pendefinisian soal zombi yang agak berbeda dibandingkan mayoritas "kepercayaan" arus utama. Alih-alih mematikan otak, virusnya cenderung membangkitkan sisi manusia liar. Sebelum tertarik memangsa korban, mereka yang terjangkit lebih dulu menyatakan anarkis, merusak properti, atau seperti yang tampak di judulnya, "menggila".
Mads mendobrak beberapa formula klise subgenre-nya, terutama dengan memposisikan para "terinfeksi" juga sebagai mangsa daripada predator penghuni puncak rantai makanan. Namun ia tetap mempertahankan salah satu fungsi cerita zombi, yakni sebagai alat penyampai metafora kondisi sosial. Pada masa di mana umat manusia seolah-olah semakin kehilangan kemanusiaan mereka, cerita-cerita macam ini akan terus memiliki relevansi.
0 komentar:
Posting Komentar