TUKAR TAKDIR
Mengadaptasi novel berjudul sama karya Valiant Budi, Tukar Takdir bicara soal duka yang dilahirkan oleh tragedi. Banyak sineas tanah air yang niscaya bakal mengeksploitasi kondisi tersebut guna menjadikan setiap adegan sebagai alat penguras air mata, Mouly Surya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, menolak pendekatan nirempati dengan menaruh fokus pada keintiman humanis untuk mengajak penonton memahami duka tersebut.
Tragedi yang dimaksud adalah sebuah kecelakaan pesawat. Sebanyak 126 orang termasuk para kru terbunuh, menyisakan seorang saja penyuntas. Rawa (Nicholas Saputra) namanya, yang juga mesti bergulat dengan PTSD. Adegan kecelakaan itu divisualisasikan dengan CGI seadanya (bisa dipahami), pula berlangsung singkat, sebab detailnya baru akan kita saksikan seiring investigasi KNKT yang juga melibatkan bukti Rawa.
Sekali lagi, Mouly enggan menitikberatkan alurnya pada hal-hal sensasional seperti penyelidikan kasus penuh kejutan. Subplot tersebut bukanlah menu utama, melainkan bumbu penyedap bagi studi karakter miliknya, termasuk cara yang dilakukan para keluarga korban untuk menangani duka masing-masing.
Misalnya Dita (Marsha Timothy), yang menyalahkan Rawa atas kematian sang suami, Raldi (Teddy Syah). “Kenapa yang selamat Mas Rawa dan bukan suami saya?”, tegasnya. Ada juga Pak Mukhsin (Ayez Kassar) yang kehilangan istri, tiga anak, menantu, serta cucunya yang masih bayi meninggal dalam tragedi tersebut. Sulit menyangkal ketidakadilan takdir.
Tiada cara yang patut disalahkan, maupun emosi yang boleh dikerdilkan. Naskahnya membantu penonton memahami dinamika masing-masing karakter, begitu pun departemen akting. Nicholas Saputra tampil dengan salah satu rentang akting terluas di sepanjang performa, sementara Marsha Timothy berkali-kali menusuk hati dengan dinamikanya dalam mengekspresikan duka. Satu saja keluhan saya: jajaran figurnya berbicara sekaku AI.
Mouly menolak buru-buru dalam menggerakkan alurnya, membiarkan penonton perlahan meresapi kepiluan tiap individu yang tidak melulu harus diletupkan. Pengarahannya sarat sensitivitas, menciptakan momen-momen emosional tanpa terkesan mengemis tangis. Momen spesialnya kala Rawa akhirnya mengerti alasan mengapa takdir semesta membiarkan hidup. “Untung saya selamat”, ucapnya emosional, sebagaimana saya tenggelam dalam keharuan yang sama.






0 komentar:
Posting Komentar