Jumat, 24 Oktober 2025

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON (2025)

 HOW TO TRAIN YOUR DRAGON (2025)

Banyak yang menyebut How to Train Your Dragon sebagai salinan mentah dari versi animasinya. Tidak salah, tapi justru karena itulah remake ini berhasil. Golnya jelas. Dean DeBlois (juga menyutradarai film aslinya) dan tim tidak bermaksud membawa interpretasi baru, tapi sebatas mengulangi sihir lamanya. Alhasil, penonton yang familiar dengan animasinya akan terpuaskan oleh perasaan nostalgia, sedangkan penonton muda bakal merasakan magis seperti kita, "penonton senior", alami 15 tahun lalu. 

Semuanya masih sama. Ceritanya sama, Mason Thames punya tampilan fisik sama bertahan dengan karakter Hiccup yang ia perankan, bahkan Gerard Butler kembali memerankan Stoick si kepala suku yang dahulu ia isi suaranya. Dua dekade telah berlalu sejak Butler menghidupkan Leonidas yang ikonik, namun seruan perang yang dinyanyikan aktor lontarkan tetap sama menggetarkannya.

Pada dasarnya, materi asli How to Train Your Dragon memang cenderung fleksibel. Animasi pembebasannya, tapi live-action pun adalah medium presentasi yang cocok. Misal gambar Hiccup. Dalam versi animasi pun, ia bukanlah protagonis yang kartunis dan menganggap sebagaimana pemuda yang canggung secara sosial di dunia nyata. Menerjemahkannya ke realita bukan sebuah kemustahilan.

Dibekali materi luar biasa kuat, DeBlois sadar betul bahwa kesalahan fatal yang berpotensi terjadi adalah, jika ia memaksakan diri untuk mengutak-atiknya, lalu memberi perbedaan semata-mata supaya semuanya tidak serupa. Tujuan "mengulangi" pun ditetapkan, dan menyanyikan sineas secara konsisten terus melangkah di jalur tersebut.

Saya tetap terikat oleh dunia mitologi fantasinya yang kaya, di mana Viking dari Desa Berk memulai permusuhan abadi dengan para naga; jajaran karakter utamanya, baik Hiccup dengan segala ide jenius yang membuatnya mudah disukai, maupun kelima kawannya, Astrid (Nico Parker), Snotlout (Gabriel Howell), Fishlegs (Julian Dennison), Ruffnut (Bronwyn James), dan Tuffnut (Harry Trevaldwyn), kembali membawa pesona unik masing-masing; kisah mengenai hubungan disfungsional antara si protagonis dengan ayahnya yang terus-menerus enggan mendengarkan sang putra pun masih menyentuh hati.

Toothless si naga Night Fury tidak diubah menjadi monster realistis yang rupanya buruk. Sentuhan realisme dihadirkan oleh beberapa detail tubuhnya yang lebih kentara, tapi mata besar nan menggemaskan miliknya masih sama seperti dulu. Genre fantasi dibuat supaya penikmatnya berkesempatan sejenak bertualang menjauhi kemonotonan dunia nyata, jadi kenapa harus memaksakan berpijak pada realita?
Peralihan dari medium animasi nyatanya tak mengurangi kualitas pengarahan DeBlois, yang baru kali ini mengarahkan film panjang fiksi live-action. Adegan "penerbangan perdana" yang terlihat terjalinnya koneksi antara Hiccup dan Toothless tampil dengan daya magis luar biasa, begitu pula klimaksnya, yang semakin bombastis berkat iringan musik garapan John Powell yang meraung-raung secara dahsyat membelah langit Berk. How to Train Your Dragon kembali terbang tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar