Sabtu, 18 Oktober 2025

BLACK PHONE 2

 BLACK PHONE 2

Kalau ada waralaba horor klasik yang pantas diberi kesempatan (lagi) untuk meneror layar lebar, tentu A Nightmare on Elm Street jadi kandidat terkuat dengan segala gagasan inventif miliknya. Belum ada kabar mengenai upaya menghidupkannya kembali, tapi Black Phone 2 adalah hal terdekat yang bisa kita dapatkan. Scott Derrickson seperti mengungkapkan hasrat terpendamnya membuat ulang mahakarya ciptaan Wes Craven tersebut. 

Bagaimana membuat sekuel bagi film horor yang menutup kisahnya dengan kematian sang antagonis? Naskah yang Derrickson tulis bersama C. Robert Cargill punya jawaban tak terduga: Mengubahnya menjadi Freddy Krueger. Jika sebelumnya para korban dari The Grabber (Ethan Hawke) menyambangi dunia manusia demi membalas dendam, kini giliran si pembunuh berantai yang melakukannya.

Telepon tetap memegang peranan penting. Adegan pembukanya menampilkan seorang perempuan (Anna Lore) dari tahun 1957 melakukan panggilan di kotak telepon. Destinasinya belum terungkap. Lompat ke 1982, empat tahun pasca peristiwa film pertama, kita pun bertemu lagi dengan Finney (Mason Thames), yang masih diliputi trauma akibat perbuatan The Grabber. Mariyuana dan pertengkaran dia jadikan pengungsi. 

Di pihak lain, sang adik, Gwen (Madeleine McGraw), masih mendapat mimpi-mimpi aneh mengenai kematian sekelompok anak kecil, lengkap dengan petunjuk yang membawa dan Finney mengunjungi kamp Kristen di Alpine Lake. Bersama adik Robin (salah satu korban The Grabber di film pertama), Ernesto (Miguel Mora), mereka datang sebagai konselor kamp guna menyibak rahasia yang rupanya menyimpan koneksi dengan The Grabber. Mungkin Derrickson juga ingin membuat ulang Friday the 13th.

Ada kalanya dunia mimpi Gwen membaur dengan realita, tapi Derrickson memastikan penonton tidak kesulitan membedakannya melalui penerapan sebuah bahasa visual, yakni membungkusnya menggunakan tekstur gambar grainy. serupa trik yang ia gunakan untuk membungkus rekaman VHS di Sinister (2012), Derrickson tahu cara membangun atmosfer sureal nan mencekam lewat format gambar tersebut. 

Salah satu mimpi buruk paling mengerikan yang Fajar alami terjadi ketika ia menyaksikan wajah seorang anak terbelah oleh pecahan kaca. Potongan wajahnya terjatuh di lantai, sementara darah mengucur dari kepala si bocah yang tak lagi utuh, menampilkannya mengais sisa-sisa kehidupan yang masih tersisa.

Masalahnya, entah dipicu kekhawatiran filmnya tampak konyol atau murni karena minimnya kreativitas, naskah Black Phone 2 tidak banyak mengeksplorasi variasi teror dalam mimpi, yang sepertinya merupakan dunia tanpa batasan. Gwen mondar-mandir mencari petunjuk di mimpinya, melihat kematian beberapa bocah, sedangkan Finney sibuk mengangkat panggilan telepon dari neraka yang cuma bisa ia dengar. Formula itu terus diulang. Berulang-ulang. 

Pengarahan Derrickson yang menggunakan tempo lambat pun tidak membantu. Trik visual mencekamnya bakal segera terasa usang, menyisakan ketiadaan intensitas yang berpotensi membuat penonton diserang oleh satu hal yang amat Gwen takuti: Rasa mengantuk. Setidaknya menyaksikan Ethan Hawke memberi kepribadian pada The Grabber lewat permainan gestur dan suara di balik topeng, lalu membangun kemiripan dengan Freddy tanpa terkesan meniru kepribadian Robert Englund, merupakan rutinitas yang tak pernah membosankan.

0 komentar:

Posting Komentar