Jumat, 17 Oktober 2025

Saving Mr. Banks

Saving Mr. Banks

[Catatan: dari pemutaran pers 12/11/13. Nantikan film-film keren lainnya setelah liburan. Selamat Liburan!)

Ada kisah di balik setiap film. Siapa sangka proses pembuatan "Mary Poppins" begitu panjang bak rollercoaster?

Sutradara John Lee Hancock menampilkan perjalanan penuh tantangan dalam "Saving Mr. Banks." Selama 20 tahun, penulis P.L. Travers (Emma Thompson) telah menolak upaya Walt Disney (Tom Hanks, "Captain Phillips") untuk mengadaptasi novel kesayangannya menjadi film. Agennya akhirnya menghubunginya ketika situasi keuangan sedang sulit. Namun, dengan satu syarat. Travers akan memegang keputusan akhir tentang adaptasi tersebut.

Travers dengan berat hati melakukan penerbangan Transatlantiknya dari Inggris ke Los Angeles. Percakapan sengit di pesawat dengan seorang pramugari dan seorang penumpang lain yang membawa anak, sindiran spontan setelah mendarat di bandara dan bertemu sopirnya (Paul Giamatti, "The Ides of March"), dan reaksinya yang kurang menyenangkan terhadap kamar hotel yang didekorasi dengan ceria, menceritakan banyak hal tentang Travers. Meskipun adegan-adegan tersebut terkesan lucu, jelas Disney akan mengalami perjalanan yang liar. Travers memiliki rasa jijik tertentu terhadap segala hal yang berkaitan dengan Disney, yang ia pandang semata-mata sebagai kerajaan penghasil uang.

Travers kemudian membuat penulis skenario (Bradley Whitford) dan komposer musik (B.J. Novak dan Jasson Schwartzman) tergila-gila. Ia bersikeras merekam setiap sesi dan mulai mengkritik setiap detail penggambaran karakter, lirik musik, warna desain set, atau kostum. Tanpa animasi. Menari atau berjingkrak-jingkrak mustahil. Lagu bukanlah pilihan. Disney sendiri berjanji tidak akan mencoreng karakter atau cerita. Membawa "Mary Poppins" ke layar lebar adalah janji yang dibuat oleh pakar hiburan tersebut kepada putri-putrinya dua dekade lalu, dan sebagai seorang ayah, ia akan melakukan apa saja untuk memenuhinya.

Seiring berjalannya cerita, film ini kembali ke masa kecil Travers (diperankan oleh Annie Rose Buckley) di pedalaman Australia. Film ini mengungkap hubungan yang dekat dan manis dengan ayahnya yang penuh kasih (Colin Farrell, "Total Recall"), yang sama mabuknya dengan minuman keras sebagai teman setianya. Ibunya (Ruth Wilson) sedang depresi dan berusaha keras untuk menjaga keutuhan keluarga, kemudian dengan bantuan bibinya (Rachel Griffiths). Ada peristiwa-peristiwa memilukan yang seharusnya tidak dialami anak-anak. Kekuatan batin mengambil alih semangat riang.

Kilas balik yang terus-menerus dan maju terkadang bisa sedikit mengganggu dan mengalihkan perhatian Anda dari intensitas beberapa momen, tetapi latar belakang sangat membantu dalam memahami sosok wanita tangguh ini. Sejujurnya, ada momen-momen emosional di masa lalunya yang lebih memikat daripada masa kininya. Penghargaan patut diberikan kepada Farrell dan Buckley yang membawakan adegan-adegan tersebut dengan lembut.

Hanks memang menghadirkan keramahan khas Amerika dan pesona gemerlap seorang 'Paman Walt' yang ramah. Namun Thompson-lah yang paling mengesankan. Pada dasarnya, ini adalah kisah Travers. Ia membawa aura kelas atas Inggris yang tegang, menyentuh setiap nada yang rewel dan keras kepala, tetapi juga nada-nada yang riang dan mengharukan. Para pemain pendukung dengan jenaka melengkapi produksi ramah keluarga ini, termasuk penulisan naskah dan lagu. Musik memainkan peran penting dan itu tepat.

Akhirnya Disney menyadari bahwa semua upaya pendekatan pun tidak membuahkan hasil. Karakter-karakter dalam "Mary Poppins" sangat disayangi dan personal bagi Travers; mereka seperti keluarga. Pesan dari cerita ini bukanlah tentang seorang wanita dengan payung terbang yang datang untuk menyelamatkan anak-anak. Dalam percakapan yang menyentuh hati, Disney berbagi kisah masa kecilnya. Ia memahami dan memahami apa yang dialami Travers. Momen ketika ia "mengerti" dan komitmennya yang teguh akhirnya mendorong Travers untuk menyerahkan hak ciptanya dengan sukarela.
Pesan moral dari kisah ini memang benar. Jangan biarkan masa lalu menentukan masa kini. Jika hidup mengecewakan, teruslah maju. Hidup memang untuk dijalani, dengan kenangan baru.

0 komentar:

Posting Komentar