Oktober 18, 2025
YAKIN NIKAH
Yakin Nikah adalah film yang sangat ringan. Pernyataan tersebut saya maksudkan sebagai pujian. Adaptasi serial web berjudul sama ini bak mengajak penontonnya kembali ke era kejayaan komedi romantis, di mana hal-hal sederhana seperti jatuh cinta dan patah hati, mampu mendatangkan pengalaman sinematik yang menyenangkan.
Ringan tidak berarti asal-asalan. Tengok cara kreatif filmnya dalam mengemas pembuka kredit, yang memajang nama para kru serta pemain di aneka properti. Bukan film Indonesia pertama yang menerapkan itu, tapi sudah cukup jadi bukti keseriusan pembuatnya, biarpun karya mereka "hanya" tontonan ringan.
Individu yang dipusingkan oleh pernikahan bernama Niken (Enzy Storia). Ibunya, Ratna (Ersa Mayori), mendorong Niken agar segera menikah, supaya tidak dilangkahi oleh sang adik, Anggy (Amanda Rigby), yang baru saja menerima lamaran pacarnya (Arya Vasco). Berkaca pada pengalaman pribadinya, Ratna percaya akan terciptanya konflik bila seorang adik mendahului kakaknya membina rumah tangga.
Anggapan "melangkahi" sebagai pamali merupakan isu yang meresahkan di keluarga Indonesia. Banyak keluarga pecah, pula pernikahan diadakan secara buru-buru akibat kepercayaan tersebut. Yakin Nikah yang ingin memposisikan dirinya sebagai romcom ringan yang tidak menempatkan dirinya dengan problematika kompleks, enggan memperdalam fenomena tersebut, dan bukan masalah. Eksistensinya sudah cukup memberi motivasi atas tindakan-tindakan karakternya.
Sebenarnya Niken sudah menjalin hubungan dengan Arya (Maxime Bouttier), hanya saja ia terlampau sibuk bekerja hingga kerap lalai meluangkan waktu. Lalu datanglah Gerry (Jourdy Pranata), mantan pacar Niken. Mereka bahkan sempat bertunangan, sebelum Gerry tiba-tiba menghilang.
Siapa yang Niken pilih? Yakin Nikah sekilas hanya membangun narasi berdasarkan pertanyaan klise dan memahami tersebut, tapi naskah buatan Bene Dion Rajagukguk, Sigit Sulistyo, dan Erwin Wu, sesungguhnya tampil lebih cerdik dari perkiraan. Arya dan Gerry tidak diberi cap "first/second lead" sebagaimana drama Korea yang jadi salah satu inspirasinya. Keduanya diberi kesempatan berimbang memamerkan pesona sambil menampakkan kelemahan masing-masing.
Keputusan itu sempat membuat alurnya terkesan repetitif, kala Niken dibuat berkali-kali menghilangkan hati, namun di sisi lain, pengulangan tersebut cukup efektif mewakili kondisi sang protagonis yang terombang-ambing dalam pilihan dilematis. Paparan kisah cintanya pun menyesuaikan dinamika kehidupan usia dewasa tokoh-tokohnya, di mana romantisme bukan didasari aksi saling tukar puisi yang cuma terdengar manis di mulut, pula memperhatikan hal-hal seperti kemampuan membahagiakan orang tua pasangan, hingga menciptakan keseimbangan kehidupan kerja demi stabilitas hubungan.
0 komentar:
Posting Komentar