Sabtu, 18 Oktober 2025

GOOD BOY

 GOOD BOY

Satu hal yang membuat sinema horor Asia menonjol dibandingkan rekan sejawatnya dari barat adalah perspektifnya terhadap fenomena mistis, yang tidak melulu dipandang sebagai kekuatan jahat untuk dibasmi, kecuali bagian siklus kehidupan. Good Boy karya Ben Leonberg merupakan produk Hollywood langka yang mampu memberikan cerminan untuk sudut pandang tersebut. 

"Horor yang dipresentasikan melalui sudut pandang anjing." Begitulah konsep "seksi" film ini. Leonberg mengambil gambar secara langsung di lokasi selama 400 hari, menjadikan anjingnya sendiri, seekor golden retriever cerdas bernama Indy sebagai pelakon utama, memerankan sahabat setia manusia yang menolak gentar meski harus berhadapan dengan entitas misterius.

Pemilik Indy bernama Todd (Shane Jensen), yang mengajak si anjing pindah ke rumah kakeknya di daerah terpencil, pasca divonis mengalami penyakit paru-paru kronis. Todd berharap tinggal dan beraktivitas di alam dapat memperbaiki kondisinya, tanpa menyadari kehadiran sosok hitam yang selalu mengintainya.

Tapi Indy sadar. Dia sering menatap dan menggonggong ke arah sesuatu yang tak bisa Todd lihat. Di sinilah letak kecerdikan konsepnya. Ketika horor konvensional sering menyulut kekesalan penonton dengan polah bodoh karakter manusianya yang secara ceroboh menyatroni area gelap nan berbahaya, Good Boy berbeda. Indy melakukan hal serupa, tapi didasari kemurnian hati dan keinginannya melindungi Todd. Bukannya kesal, justru kehangatan yang terasa. 

Dibantu tata kamera Arah Wade Grebnoel, Leonberg membangun nuansa atmosferik berbekal pendekatan visualnya yang fokus pada membatasi jarak pandang, baik berbekal gambar grainy ala home video, atau penggunaan lingkungan deklarasi sebagai latar. Keterbatasan itu melucuti rasa aman, pula menyebutkan kecemasan karena kepedulian penonton terhadap Indy.

Ada kalanya kecemasan tersebut memanipulasi pikiran. Kameranya yang sering berdiam diri menangkap sisi ruangan gelap selama beberapa waktu, mendorong saya untuk percaya bahwa di sana ada sesosok wujud yang perlahan terbentuk. Sama seperti yang dilakukan Kyle Edward Ball dalam Skinamarink (2022), Grebnoel menginvasi psikologis penontonnya, membuat kita melahirkan teror itu sendiri. 

Sayangnya kekurangan Good Boy segera menampakkan diri. Film ini tak berkuasa menyembunyikan ketipisan alurnya, meskipun memiliki durasi yang tergolong pendek (73 menit). Pasalnya, naskah buatan Grebnoel bersama Alex Cannon sebatas mengulangi rutinitas Indy memperhatikan berhasil, mengejar ketiadaan, kemudian sesekali memperoleh penglihatan sureal bak mimpi. Seiring waktu, amunisi tersebut mulai kehilangan daya bunuhnya. Rasanya Good Boy akan lebih efektif sebagai film pendek berdurasi 30-45 menit. 

Ada sebuah pilihan menarik yang diterapkan Grebnoel, yakni tidak menampakkan wajah karakter manusia. Salah satunya karena penggunaan low-angle guna memposisikan penonton di perspektif yang sama dengan Indy, sehingga wajah Todd sering tersamarkan oleh efek backlight.


0 komentar:

Posting Komentar