Minggu, 19 Oktober 2025

TRON: ARES

 TRON: ARES

Terdapat satu sekuen aksi di Tron: Ares yang sangat saya sukai, yakni saat Julian Dillinger (Evan Peters) berupaya meretas server perusahaan saingannya, ENCOM. Sebagai visualisasi peretasan, di bawah pimpinan Ares (Jared Leto), sekelompok pasukan yang mewakili program, menduduki benteng pertahanan ENCOM. Terjadilah pertarungan dua pihak, layaknya konfrontasi antara virus dengan perangkat lunak yang melakukan pembasmian. 

Meskipun estetika video game klasik digantikan oleh pemandangan digital yang lebih mutakhir (mungkin karena game sekarang sudah jauh berbeda dengan realita), sekuen di atas jadi bukti pemahaman film ini akan jiwa dari Tron. Sebuah cerita yang mengubah tetek bengek teknologi nerdy menjadi spektakel layar lebar keren. 

Ceritanya pun mengandung relevansi. Alkisah, teknologi yang sudah begitu maju memungkinkan manusia memindahkan benda atau entitas digital ke dunia nyata, menggunakan laser pencetak (versi canggih dari printer 3D). Julian melalui Dillinger Systems miliknya, serta ENCOM yang dikepalai Eve Kim (Greta Lee), berupaya menyempurnakan teknologi tersebut. Julian membuat tank guna dijual ke pihak militer, sedangkan Eve menciptakan pohon guna mensejahterakan umat manusia.

Naskah buatan Jesse Wigutow menyampaikan perspektifnya mengenai isu AI yang terus memancing kontroversi di dunia nyata. Di mana kita harus meletakkan garis batas terkait penggunaan AI? Kapan pastinya "membantu manusia" berubah menjadi "menghancurkan manusia"? Di situlah Ares mengambil peran penting. 

Sejatinya Ares merupakan program yang memegang kendali di dunia Grid kepunyaan Dillinger Systems. Misinya adalah merebut kode yang memungkinkan benda digital berpindah ke dunia nyata secara permanen (tanpa kode tersebut, mereka, termasuk Ares, hanya punya waktu 29 menit sebelum melebur, lalu kembali ke Grid). Sampai seperti sosok monster dalam kisah Frankenstein, Ares mulai tertarik pada hal-hal yang bersifat manusiawi seperti emosi dan mortalitas.

Jared Leto cukup cerdik mengakali performanya, dengan membedakan pendekatan antara karakter Ares sebelum memahami kemanusiaan (dingin, kaku, robotik) dan sesudahnya (lebih ekspresif, punya empati). Ares si program terkuat, yang kalau mau saja bisa membelot untuk menguasai dunia nyata, lebih tertarik menyelami rasa dari air hujan yang membasahi kulit.

Pernyataan dari naskahnya jelas: Mortalitas manusia tetap superior dibandingkan kecanggihan abadi entitas artifisial. Ekspresi kekagumannya bukan lagi terhadap teknologi, melainkan kemanusiaan. Klimaksnya juga menegaskan poin tersebut, dengan menolak membuat karakter manusia bisa berdiri sendiri tanpa harus terlampau bergantung pada AI. Justru sebaliknya, AI yang membutuhkan manusia. 

Tron: Ares membawa franchise-nya berevolusi, sambil menjaga agar tak kehilangan identitas. Salah satunya lewat penghormatan indah yang diberikan ke film aslinya, dalam bentuk kunjungan ke dunia Grid versi klasik. Ada kesegaran menyaksikan estetika lawas dihidupkan kembali memakai teknologi mutakhir. 

Visualnya kelas satu. Baik warna-warni neon dari light cycle yang kini dipacu ke seluruh kota pada malam hari, sampai visualisasi alat-alat canggih yang Ares dan bawa ke dunia nyata. Semua berjasa menyulap tuturan teknologi nerdy jadi parade estetika keren, yang semakin diperkuat oleh iringan musik gubahan Nine Inch Nails, yang membuat pengalaman menonton Tron: Ares bak kunjungan ke surga industrial kelam.

0 komentar:

Posting Komentar