The Siege At Thorn High

Tahun 2007, penyelenggaraan massal dengan skala nasional kembali terjadi. Aksi kekerasan, penjarahan dan kriminalitas lainnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Orang-orang keturunan China kembali menjadi sasaran para pelaku kriminal di tengah-tengahnya. Rumah dan toko-toko mereka dijarah dan dibakar. Yang lebih menarik lagi, tak sedikit para perempuan keturunan China mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh para pelakunya. Terulangnya kembali peristiwa ini menyebabkan Ibukota Jakarta menjadi kota yang tidak aman dan semakin rasis terhadap orang-orang keturunan China.
10 tahun berlalu, kondisi Jakarta semakin terpuruk. Demontrasi terjadi dimana-mana, perilaku rasis dan diskriminasi terhadap orang-orang keturunan Tiongkok terus terjadi, fasilitas umum semakin tidak terawat dan orang-orang pribumi semakin berdaya. Salah satu orang keturunan China yang masih bertahan hidup melewati semua peristiwa mengerikan itu adalah Edwin (Morgan Oey). Ketika masih remaja, Edwin harus kehilangan rumah dan juga kedua orang tuanya yang menjadi korbannya secara massal. Tak hanya itu saja, kakak perempuan dari Edwin yaitu Silvi (Lia Lukman) pun menjadi korban kriminal kekerasan seksual yang menyebabkan kondisi kesehatannya semakin melemah.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Silvi meminta bantuan pada Edwin untuk mencari anak kandungnya yang selama ini terpisah karena dititipkan ke orang yang salah. Satu-satunya petunjuk yaitu jika anaknya Silvi tinggal dan sekolah di wilayah timur Jakarta. Edwin pun bersedia membantu sang kakak mencari keponakannya itu dengan cara masuk ke beberapa sekolah yang ada di timur Jakarta sebagai guru pengganti. Setelah mengajar di dua sekolah, Edwin belum bisa menemukan keberadaan keponakannya itu. Edwin kemudian pindah ke sekolah terakhir yaitu SMA Duri Jakarta yang selama ini dikenal sebagai sekolah pembuangan anak-anak nakal. Meskipun sangat berisiko tinggi, Edwin tetap nekat melamar sebagai guru di sana.
Saat bertemu dengan kepala sekolah SMA Duri yaitu Pak Darmo (Landung Simatupang), Edwin diminta berpikir dua kali mengingat ia adalah keturunan Tiongkok. Pak Darmo khawatir nanti Edwin akan mendapat perlakuan rasis dari para siswa yang ada di sekolahnya itu. Hal tersebut tak membuat Edwin takut, dengan rekam jejak yang sangat baik di sekolah-sekolah sebelumnya, ia yakin bisa mengajar dan menjadi guru untuk para siswa di SMA Duri.

Hari pertama sebagai guru, Edwin dihadapkan dengan satu kelas yang sangat diskriminatif dan rasis terhadap orang-orang keturunan Tiongkok. Para siswa benar-benar tidak menghormati Edwin sebagai guru di kelas. Edwin berpose setenang mungkin agar tidak menahan emosi. Saat memberikan materi pelajaran seni, Edwin dilempari balok kayu oleh salah satu siswa yang ada di kelas tersebut. Edwin sudah bisa menebak jika pelakunya adalah Jefri (Omara Esteghlal), siswa paling berandal, paling sering mendapat hukuman dari sekolah dan memiliki hubungan yang sangat buruk dengan kedua orangtuanya. Jefri terkejut saat gurunya mengetahui semua hal tentang dirinya. Setelah selesai mengajar, Edwin berpapasan dan berkenalan dengan guru lain di sekolah yaitu Diana (Hana Malasan).

Merasa dipermalukan di kelas, Jefri beserta teman-teman satu gengnya yaitu Gerry (Dewa Dayana), Dotty (Satine Zaneta), Reihan (Faris Fadjar Munggaran), Sim (Florian Rutters), Jay (Farandika) dan Santo (Raihan Khan) menyusun rencana untuk membalas dendam terhadap Edwin. Sambil menunggu waktu yang tepat, Jefri dan teman-temannya ini juga sering melakukan aksi kriminal dan diskriminasi yang sangat berlebihan di luar sekolah. Mereka tak segan menculik siswa-siswa keturunan China untuk disiksa beramai-ramai. Hal inilah yang membuat dua siswa yang ada di kelas yaitu Khristo (Endy Arfian) dan Rangga (Fatih Unru) memilih untuk tidak lagi menjadi bagian dari geng nya Jefri.Saat senggang, Edwin mencari ketenangan di bar chinatown yang tersembunyi khusus untuk orang-orang keturunan China. Selama berada di sana, orang-orang keturunan China ini merasa lebih bebas dan juga aman dari orang-orang incaran yang berperilaku diskriminatif. Mendengar cerita Edwin dan chinatown tersebut membuat Diana penasaran. Ia ingin pergi kesana dengan ditemani Edwin agar bisa berbaur dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada disana.

Waktu terus berlalu. Setelah beberapa hari mengajar di SMA Duri, Edwin merasa jika keponakannya yang selama ini ia cari adalah Khristo. Ia sangat yakin karena Khristo memiliki bakat menggambar seperti sang kakak yang sama-sama punya hobi menggambar. Untuk memastikannya, Edwin menyusun rencana membawa Khristo, Rangga dan juga Diana datang ke sekolah saat akhir pekan. Edwin meminta bantuan kepada mereka untuk mendekorasi ruangan kelas dengan lukisan-lukisan para siswa yang sudah dibuat.
Saat Edwin, Diana, Khristo dan Rangga sedang sibuk mendekorasi dinding kelas, terjadi penyediaan massal di wilayah utara Jakarta. Siaran langsung di televisi menghimbau agar seluruh warga untuk tetap berada di tempat yang aman dan tidak berkeliaran di luar karena penyelidikan massal semakin meluas ke seluruh wilayah Jakarta. Disaat yang bersamaan, SMA Duri datangi juga oleh geng nya Jefri. Mereka menuntut balas dendam kepada Edwin. Rangga ketakutan saat melihat Jefri dan teman-temannya berjalan masuk ke sekolah sambil membawa banyak alat-alat berbahaya. Ia berlari dan menceritakan pada Edwin, Khristo dan juga Diana. Mereka berempat lalu bersembunyi dan terjebak di ruang aula sekolah. Untuk meminta bantuan di luar sekolah pun mereka kesulitan karena SMA Duri sengaja memasang pemblokir sinyal komunikasi. Bagaimana nasib Edwin, Khristo, Rangga dan Diana selanjutnya?

Tahun 2007, penyelenggaraan massal dengan skala nasional kembali terjadi. Aksi kekerasan, penjarahan dan kriminalitas lainnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Orang-orang keturunan China kembali menjadi sasaran para pelaku kriminal di tengah-tengahnya. Rumah dan toko-toko mereka dijarah dan dibakar. Yang lebih menarik lagi, tak sedikit para perempuan keturunan China mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh para pelakunya. Terulangnya kembali peristiwa ini menyebabkan Ibukota Jakarta menjadi kota yang tidak aman dan semakin rasis terhadap orang-orang keturunan China.
10 tahun berlalu, kondisi Jakarta semakin terpuruk. Demontrasi terjadi dimana-mana, perilaku rasis dan diskriminasi terhadap orang-orang keturunan Tiongkok terus terjadi, fasilitas umum semakin tidak terawat dan orang-orang pribumi semakin berdaya. Salah satu orang keturunan China yang masih bertahan hidup melewati semua peristiwa mengerikan itu adalah Edwin (Morgan Oey). Ketika masih remaja, Edwin harus kehilangan rumah dan juga kedua orang tuanya yang menjadi korbannya secara massal. Tak hanya itu saja, kakak perempuan dari Edwin yaitu Silvi (Lia Lukman) pun menjadi korban kriminal kekerasan seksual yang menyebabkan kondisi kesehatannya semakin melemah.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Silvi meminta bantuan pada Edwin untuk mencari anak kandungnya yang selama ini terpisah karena dititipkan ke orang yang salah. Satu-satunya petunjuk yaitu jika anaknya Silvi tinggal dan sekolah di wilayah timur Jakarta. Edwin pun bersedia membantu sang kakak mencari keponakannya itu dengan cara masuk ke beberapa sekolah yang ada di timur Jakarta sebagai guru pengganti. Setelah mengajar di dua sekolah, Edwin belum bisa menemukan keberadaan keponakannya itu. Edwin kemudian pindah ke sekolah terakhir yaitu SMA Duri Jakarta yang selama ini dikenal sebagai sekolah pembuangan anak-anak nakal. Meskipun sangat berisiko tinggi, Edwin tetap nekat melamar sebagai guru di sana.
Saat bertemu dengan kepala sekolah SMA Duri yaitu Pak Darmo (Landung Simatupang), Edwin diminta berpikir dua kali mengingat ia adalah keturunan Tiongkok. Pak Darmo khawatir nanti Edwin akan mendapat perlakuan rasis dari para siswa yang ada di sekolahnya itu. Hal tersebut tak membuat Edwin takut, dengan rekam jejak yang sangat baik di sekolah-sekolah sebelumnya, ia yakin bisa mengajar dan menjadi guru untuk para siswa di SMA Duri.

Hari pertama sebagai guru, Edwin dihadapkan dengan satu kelas yang sangat diskriminatif dan rasis terhadap orang-orang keturunan Tiongkok. Para siswa benar-benar tidak menghormati Edwin sebagai guru di kelas. Edwin berpose setenang mungkin agar tidak menahan emosi. Saat memberikan materi pelajaran seni, Edwin dilempari balok kayu oleh salah satu siswa yang ada di kelas tersebut. Edwin sudah bisa menebak jika pelakunya adalah Jefri (Omara Esteghlal), siswa paling berandal, paling sering mendapat hukuman dari sekolah dan memiliki hubungan yang sangat buruk dengan kedua orangtuanya. Jefri terkejut saat gurunya mengetahui semua hal tentang dirinya. Setelah selesai mengajar, Edwin berpapasan dan berkenalan dengan guru lain di sekolah yaitu Diana (Hana Malasan).

Merasa dipermalukan di kelas, Jefri beserta teman-teman satu gengnya yaitu Gerry (Dewa Dayana), Dotty (Satine Zaneta), Reihan (Faris Fadjar Munggaran), Sim (Florian Rutters), Jay (Farandika) dan Santo (Raihan Khan) menyusun rencana untuk membalas dendam terhadap Edwin. Sambil menunggu waktu yang tepat, Jefri dan teman-temannya ini juga sering melakukan aksi kriminal dan diskriminasi yang sangat berlebihan di luar sekolah. Mereka tak segan menculik siswa-siswa keturunan China untuk disiksa beramai-ramai. Hal inilah yang membuat dua siswa yang ada di kelas yaitu Khristo (Endy Arfian) dan Rangga (Fatih Unru) memilih untuk tidak lagi menjadi bagian dari geng nya Jefri.
Saat senggang, Edwin mencari ketenangan di bar chinatown yang tersembunyi khusus untuk orang-orang keturunan China. Selama berada di sana, orang-orang keturunan China ini merasa lebih bebas dan juga aman dari orang-orang incaran yang berperilaku diskriminatif. Mendengar cerita Edwin dan chinatown tersebut membuat Diana penasaran. Ia ingin pergi kesana dengan ditemani Edwin agar bisa berbaur dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada disana.

Waktu terus berlalu. Setelah beberapa hari mengajar di SMA Duri, Edwin merasa jika keponakannya yang selama ini ia cari adalah Khristo. Ia sangat yakin karena Khristo memiliki bakat menggambar seperti sang kakak yang sama-sama punya hobi menggambar. Untuk memastikannya, Edwin menyusun rencana membawa Khristo, Rangga dan juga Diana datang ke sekolah saat akhir pekan. Edwin meminta bantuan kepada mereka untuk mendekorasi ruangan kelas dengan lukisan-lukisan para siswa yang sudah dibuat.
Saat Edwin, Diana, Khristo dan Rangga sedang sibuk mendekorasi dinding kelas, terjadi penyediaan massal di wilayah utara Jakarta. Siaran langsung di televisi menghimbau agar seluruh warga untuk tetap berada di tempat yang aman dan tidak berkeliaran di luar karena penyelidikan massal semakin meluas ke seluruh wilayah Jakarta. Disaat yang bersamaan, SMA Duri datangi juga oleh geng nya Jefri. Mereka menuntut balas dendam kepada Edwin. Rangga ketakutan saat melihat Jefri dan teman-temannya berjalan masuk ke sekolah sambil membawa banyak alat-alat berbahaya. Ia berlari dan menceritakan pada Edwin, Khristo dan juga Diana. Mereka berempat lalu bersembunyi dan terjebak di ruang aula sekolah. Untuk meminta bantuan di luar sekolah pun mereka kesulitan karena SMA Duri sengaja memasang pemblokir sinyal komunikasi. Bagaimana nasib Edwin, Khristo, Rangga dan Diana selanjutnya?








0 komentar:
Posting Komentar