Juni 07, 2025
212 The Power of Love (2018)
Pemeran: Fauzi Baadila, Humaidi Abas, Abdul Hakim, Meyda Sefira, Hamas Syahid, Rony Dozer, Asmanadia
Sutradara: Jastis Arimba
Studio: Gambar Berwarna
Rahmat (Fauzi Baadila) seorang jurnalis tabloid Republik yang idealis dan realistis dalam hidupnya mendapat kabar duka, Ibu nya yang tinggal dikampung halaman tepatnya di Ciamis, meninggal dunia. Hal itu membuat ia memutuskan untuk pulang kampung setelah 10 tahun tidak pernah pulang. Perjalanan pulang ke kampung halamannya ia ditemani oleh Adhin (Abdul Hakim), satu-satunya teman yang dimiliki oleh Rahmat.
Setibanya di Ciamis, Rahmat bertemu kembali dengan ayahnya, Zainal (Humaidi Abas) yang merupakan seorang pemuka agama di kampung tersebut. Pulang kampungnya Rahmat tidak membuat sang ayah merasa bahagia, malah malah kecewa karena anak kandungnya itu menulis artikel tentang menyudutkan Islam secara terang-terangan di tabloid. Tak hanya itu saja, sikap Rahmat yang tak pulang-pulang dan nyaris hilang kabar selama 10 tahun lamanya itu juga membuat hadirnya konflik dan perselisihan pendapat antara Zainal dan Rahmat.
Usai acara pemakaman almarhum ibu, Rahmat mendengar kabar dari teman semasa kecilnya yaitu Yasna (Meyda Sefira) dan Abrar (Hamas Syahid) bahwa Zainal beserta murid-muridnya akan melakukan aksi longmarch dari Ciamis menuju Monas, Jakarta untuk mengikuti Aksi Damai 212, Jumat, 2 Desember 2016. Rahmat beranggapan aksi bahwa pertemuan umat Islam yang akan diadakan itu akan memicu konflik besar, karena terdengar politis dan pasti memakan korban jiwa yang tak sedikit. Ia lalu mencoba menghentikan rencana ayah untuk melakukan aksi yang menurut Rahmat itu adalah aksi yang konyol.
Namun, Zainal bersih keras akan melakukan longmarch sepanjang 300 kilometer lebih bersama umat muslim lainnya untuk membuktikan kecintaannya terhadap agama Islam dan Allah SWT. Tak hanya itu saja, jutaan umat Islam yang juga akan datang ke Monas, Jakarta ingin membuktikan bahwa mereka datang penuh dengan solidaritas dan cinta. Bukan untuk menampilkan keadaan.
Akankah peristiwa Aksi Damai 212 itu akan membuat hubungan antara Rahmat dan ayahnya menjadi membaik?ayah untuk melakukan aksi yang menurut Rahmat itu adalah aksi yang konyol.
Namun, Zainal bersih keras akan melakukan longmarch sepanjang 300 kilometer lebih bersama umat muslim lainnya untuk membuktikan kecintaannya terhadap agama Islam dan Allah SWT. Tak hanya itu saja, jutaan umat Islam yang juga akan datang ke Monas, Jakarta ingin membuktikan bahwa mereka datang penuh dengan solidaritas dan cinta. Bukan untuk menampilkan keadaan.
Akankah peristiwa Aksi Damai 212 itu akan membuat hubungan antara Rahmat dan ayahnya menjadi membaik?
Aksi Damai 2 Desember 2016 lalu boleh dikatakan sebagai salah satu momen paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jutaan orang dari seluruh pelosok negeri berkumpul di Monas, Jakarta untuk menujukkan rasa cinta dan rasa membela mereka kepada agama yang mereka anut yaitu agama Islam. Aksi damai yang dilakukan itu terjadi setelah kontroversi pidato berisikan (konon) penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama. Umat Islam terasa disakiti oleh pidato tersebut.
Namun kemacetan, Film ini tidak terlalu membahas lebih detail tentang kejadian tersebut karena berpotensi memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Disini sang sutradara dan penulis skenario justru menghadirkan sisi lain dari Aksi Damai 212 yaitu hubungan dan konflik antara ayah dan anak ditengah jutaan umat Islam yang mengikuti aksi ini.
Disini kita bertemu dengan sosok Rahmat dan ayahnya, Zainal. Keduanya sangat bertolak belakang. Rahmat anti agama, sedangakan ayahnya adalah kebalikan dari Rahmat. Aku cukup menikmati plot cerita ayah-anak dalam film ini dan sedikit mengingatkanku
Aku juga suka cara Jastis Arimba memberikan konflik antar ayah-anak ini masing-masing mempunyai watak dan sifat yang sama satu sama lain. Dua-duanya begitu kekeuh dengan pendirian masing-masing tapi mereka mempunyai alasan yang cukup kuat juga. Yang agak kurang pas dalam segi cerita film ini menurutku adalah dramatisasi asmaranya. Jika ditampilkan dengan tujuan untuk mempermanis film saja, saya rasa tidak begitu penting. Karena film ini mempunyai plot ayah-anak dengan latar belakang Aksi Damai 212 saja sebetulnya sudah cukup. Untungnya sisi percintaannya disini sedikit tertutupi oleh chemistry antara Rahmat dan sahabatnya, Adhin. Aku cukup terhibur disaat mereka berdua beradu argumentasi. Terasa tidak terlalu berlebihan. Yang kusuka berikutnya adalah menggabungkan cerita ini dengan beberapa selingan cuplikan dokumenter asli Aksi Damai 212 lalu itu cukup sukses membuat mataku berkaca-kaca, teringat kembali akan momen itu. Subhanallah.
Tata artistik, sinematografi, dan karya kamera dalam film ini agak mengecewakan. Ini yang sangat memalukan. Beberapa adegan yang menggunakan greenscreen masih sangat terlihat dengan jelas. Beberapa dialog juga menurutku terasa seperti ada yang di dubbing dan tidak sinkron antara suara dan gerakan mulut. Ditambah lagi penggunaan bahasa dan logat sunda dibeberapa adegan dalam film ini masih terasa banget bukan USA (Urang Sunda Asli).
Fauzi Baadila, Humaidi Abas dan Abdul Hakim menurutku menjadi nyawa utama dalam film ini. Tanpa chemistry mereka satu sama lain yang oke, mungkin film ini akan berakhir kaku dan penuh dramatisasi semata.
0 komentar:
Posting Komentar