Jakarta Vs Everybody (2022)
Pemeran: Jefri Nichol, Wulan Guritno, Ganindra Bimo, Jajang C. Noer, Dea Panendra, Chicco Jerikho, Asta Nurcahya, Paul Agusta, Esa SigitSutradara: Ertanto Robby SoediskamStudio: Gambar Pratama Pradana, Bioskop Online
Tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta tak seindah yang dibayangkan. Itulah yang Dom (Jefri Nichol) rasakan. Mimpinya sebagai seorang aktor tak pernah berjalan mulus. Berbagai casting sudah ia lakukan namun hasilnya tak sesuai harapan. Kondisi keuangan yang semakin menipis membuat Dom harus berusaha bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara.

Suatu hari, Dom tak sengaja bertemu dengan pasangan suami istri yaitu Radit (Ganindra Bimo) dan Pinkan (Wulan Guritno). Ia meminta pekerjaan apapun dengan ketidakseimbangan bisa mempunyai tempat tinggal setelah dia diusir karena tak mampu membayar biaya sewa kontrakan. Radit dan Pinkan pun mengajak Dom ke kediaman mereka disebuah rusun. Setibanya di sana, Dom diberikan tempat tinggal yang bersebelahan dengan kediaman Radit dan Pinkan.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu kurir narkoba dari Radit dan Pinkan tertangkap pihak kepolisian. Melihat kekurangan personel membuat Dom tertarik untuk menjadi kurir narkoba. Ia siap mengerahkan kemampuan aktingnya agar tidak diketahui oleh polisi. Radit dan Pinkan kemudian memberikan Arah serta tata cara dalam menyembunyikan narkoba pada barang-barang yang tidak mencurigakan seperti bungkus permen, minuman kemasan hingga plester luka.
Selama menjalani tugas sebagai kurir narkoba, Dom bertemu dengan banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Dom pun mengerahkan kemampuan aktingnya dan membekali dirinya dengan banyak kostum sesuai dengan pelanggan yang ditemuinya. Meskipun kini fokus pada pekerjaannya sebagai kurir narkoba, namun Dom tidak pernah melupakan impiannya sebagai aktor meskipun semakin sulit untuk diraih. Suatu hari, Dom bertemu dengan salah satu pelanggan yaitu Khansa (Dea Panendra) yang berprofesi sebagai perias pemakaman. Pertemuan keduanya terus berlanjut dan tercapainya kerjasama untuk menemukan pelanggan baru. Akankah Dom bisa lepas dari profesinya sebagai kurir narkoba dan kembali mengejar impiannya sebagai aktor?
Untuk segi cerita, film JAKARTA VS EVERYBODY (2022) ini mengambil potret kelam bisnis narkoba di Jakarta dengan sangat berani dan vulgar. Film ini mengajak penonton untuk mengikuti perjalanan karakter Dom yang terpaksa masuk ke dunia bisnis narkoba demi bertahan hidup di Ibukota Jakarta. Kisah Dom ini dibuat serealistis mungkin oleh sang sutradara. Tak heran jika di sepanjang film ini, semua tingkah laku dari Dom, Radit dan Pinkan begitu natural dan tak dibuat-buat. Fokus cerita pun lebih mengarah pada kisah hidup Dom mulai dari kariernya sebagai aktor, kurir narkoba hingga kehidupan seksnya.Yang cukup berarti mungkin eksplorasi dunia kelam bisnis narkoba yang disajikan dalam film ini terlalu dibuat utama aman. Profesi kurir narkoba yang dijalani Dom dan anak-anak buah Radit Pinkan disini terasa lempeng-lempeng saja tidak ada situasi genting padahal risikonya sangat berbahaya. Padahal jika ingin lebih berani lagi, bisa saja menampilkan situasi kacau saat ketahuan oleh pihak kepolisian agar penonton semakin yakin jika profesi kurir narkoba itu sangatlah beresiko. Film ini lebih memilih untuk fokus pada interaksi seksual para karakter yang menurutku sangat berani untuk ukuran film Indonesia.
Selain itu, momen saat Radit meminta Dom menunjukkan kemampuan aktingnya saat melakukan tugas sebagai kurir narkoba pun tidak sepenuhnya menampilkan akting dari Dom. Ia sekadar melakukan penyamaran menjadi orang dengan berbagai profesi. Satu-satunya adegan yang menampilkan Dom benaran berakting mungkin disaat ia menirukan dialog "You're Talking To Me?" dihadapan cermin.Untuk jajaran pemain, para aktor yang terlibat dalam film ini memang harus diberi apresiasi. Mereka menampilkan pertunjukan yang sangat realistis dan tidak seperti dialog hafalan dari skenario. Setiap tingkah laku Jefri Nichol, Wulan Guritno, Ganindra Bimo hingga Dea Panendra begitu natural dan tidak over acting. Aksi sensual yang mereka lakukan pun sungguh mencengangkan. Apalagi adegan Jefri Nichol dan Dea Panendra benar-benar tidak akan disangka akan sepanas itu wkwkw.
Pemeran: Jefri Nichol, Wulan Guritno, Ganindra Bimo, Jajang C. Noer, Dea Panendra, Chicco Jerikho, Asta Nurcahya, Paul Agusta, Esa Sigit
Sutradara: Ertanto Robby Soediskam
Studio: Gambar Pratama Pradana, Bioskop Online
Tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta tak seindah yang dibayangkan. Itulah yang Dom (Jefri Nichol) rasakan. Mimpinya sebagai seorang aktor tak pernah berjalan mulus. Berbagai casting sudah ia lakukan namun hasilnya tak sesuai harapan. Kondisi keuangan yang semakin menipis membuat Dom harus berusaha bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara.
Tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta tak seindah yang dibayangkan. Itulah yang Dom (Jefri Nichol) rasakan. Mimpinya sebagai seorang aktor tak pernah berjalan mulus. Berbagai casting sudah ia lakukan namun hasilnya tak sesuai harapan. Kondisi keuangan yang semakin menipis membuat Dom harus berusaha bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara.
Suatu hari, Dom tak sengaja bertemu dengan pasangan suami istri yaitu Radit (Ganindra Bimo) dan Pinkan (Wulan Guritno). Ia meminta pekerjaan apapun dengan ketidakseimbangan bisa mempunyai tempat tinggal setelah dia diusir karena tak mampu membayar biaya sewa kontrakan. Radit dan Pinkan pun mengajak Dom ke kediaman mereka disebuah rusun. Setibanya di sana, Dom diberikan tempat tinggal yang bersebelahan dengan kediaman Radit dan Pinkan.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu kurir narkoba dari Radit dan Pinkan tertangkap pihak kepolisian. Melihat kekurangan personel membuat Dom tertarik untuk menjadi kurir narkoba. Ia siap mengerahkan kemampuan aktingnya agar tidak diketahui oleh polisi. Radit dan Pinkan kemudian memberikan Arah serta tata cara dalam menyembunyikan narkoba pada barang-barang yang tidak mencurigakan seperti bungkus permen, minuman kemasan hingga plester luka.
Untuk segi cerita, film JAKARTA VS EVERYBODY (2022) ini mengambil potret kelam bisnis narkoba di Jakarta dengan sangat berani dan vulgar. Film ini mengajak penonton untuk mengikuti perjalanan karakter Dom yang terpaksa masuk ke dunia bisnis narkoba demi bertahan hidup di Ibukota Jakarta. Kisah Dom ini dibuat serealistis mungkin oleh sang sutradara. Tak heran jika di sepanjang film ini, semua tingkah laku dari Dom, Radit dan Pinkan begitu natural dan tak dibuat-buat. Fokus cerita pun lebih mengarah pada kisah hidup Dom mulai dari kariernya sebagai aktor, kurir narkoba hingga kehidupan seksnya.
Yang cukup berarti mungkin eksplorasi dunia kelam bisnis narkoba yang disajikan dalam film ini terlalu dibuat utama aman. Profesi kurir narkoba yang dijalani Dom dan anak-anak buah Radit Pinkan disini terasa lempeng-lempeng saja tidak ada situasi genting padahal risikonya sangat berbahaya. Padahal jika ingin lebih berani lagi, bisa saja menampilkan situasi kacau saat ketahuan oleh pihak kepolisian agar penonton semakin yakin jika profesi kurir narkoba itu sangatlah beresiko. Film ini lebih memilih untuk fokus pada interaksi seksual para karakter yang menurutku sangat berani untuk ukuran film Indonesia.
Selain itu, momen saat Radit meminta Dom menunjukkan kemampuan aktingnya saat melakukan tugas sebagai kurir narkoba pun tidak sepenuhnya menampilkan akting dari Dom. Ia sekadar melakukan penyamaran menjadi orang dengan berbagai profesi. Satu-satunya adegan yang menampilkan Dom benaran berakting mungkin disaat ia menirukan dialog "You're Talking To Me?" dihadapan cermin.
Untuk jajaran pemain, para aktor yang terlibat dalam film ini memang harus diberi apresiasi. Mereka menampilkan pertunjukan yang sangat realistis dan tidak seperti dialog hafalan dari skenario. Setiap tingkah laku Jefri Nichol, Wulan Guritno, Ganindra Bimo hingga Dea Panendra begitu natural dan tidak over acting. Aksi sensual yang mereka lakukan pun sungguh mencengangkan. Apalagi adegan Jefri Nichol dan Dea Panendra benar-benar tidak akan disangka akan sepanas itu wkwkw.






0 komentar:
Posting Komentar