Juli 15, 2025
Pabrik Gula - Uncut Version (2025)
Pemeran: Ersya Aurelia, Arbani Yasiz, Erika Carlina, Bukie B. Mansyur, Wavi Jihan, Azela Putri, Benedictus Siregar, Arif Alfiansyah, Dewi Pakis, Budi Ros, Vonny Anggraini, Yono Bakrie, Sadana Agung, Gilang Devialdy, Hayati Azis, Pratito Wibowo
Sutradara: Awi Suryadi
Studio: Gambar MD
Menjelang panen ladang tebu, Pabrik Gula Sendoro merekrut pekerja musiman untuk membantu proses penggilingan dan produksi gula. Endah (Ersya Aurelia), Fadhil (Arbani Yasiz), Naning (Erika Carlina), Hendra (Bukie B. Mansyur), Wati (Wavi Zihan), Mulyono (Benedictus Siregar) dan Dwi (Arif Alfiansyah) adalah tujuh dari puluhan warga yang siap bekerja sebagai buruh di Pabrik Gula Sendoro.
Setibanya di pabrik, para buruh musiman ini disambut oleh penanggung jawab pabrik yaitu Ibu Marni (Vonny Anggraini). Pada kesempatan tersebut Ibu Marni menjelaskan tentang aturan serta larangan yang harus dipatuhi oleh semua orang yang akan bekerja disana. Selain itu, Ibu Marni juga memerankan jam malam dengan istilah Jam Kuning dan Jam Merah. Para buruh dan karyawan dibatasi untuk keluar dari loji atau tempat istirahat mereka dari selesai sampai bekerja pukul 21:00 yang disebut sebagai Jam Kuning. Lewat jam 21:00 disebut sebagai Jam Merah yang dimana, siapapun dilarang keluar dari loji dan berkeliaran sampai keesokan harinya.
Ibu Marni kemudian membagi puluhan buruh musiman ini untuk ditempatkan di beberapa area pabrik dengan didampingi masing-masing mandor. Fadhil, Hendra, Mulyono dan Dwi ditempatkan untuk berkumpul di ladang tebu. Naning dan Wati di bagian administrasi lapangan. Sementara itu, Endah dipilih menjadi asisten dari Ibu Marni dan ditempatkan di kantor pabrik.
Hari pertama berjalan dengan lancar. Setelah selesai bekerja, para buruh musiman ini langsung menempati masing-masing loji yang sudah ditentukan. Saat memasuki Jam Kuning, dua satpam area loji yaitu Rano (Yono Bakrie) dan Karno (Sadana Agung) berkeliling untuk memastikan semua orang tidak ada yang berkeliaran di luar. Jam sudah menunjukkan diatas jam 21:00 dan Jam Merah pun diberlakukan. Ketika Endah sedang beristirahat di kamar, ia melihat bayangan yang berjalan keluar dari loji. Karena penasaran, ia pun mengikuti bayangan tersebut yang berjalan menuju pabrik. Endah lalu masuk ke dalam pabrik yang kondisinya gelap. Dari penampakan terdengar lantunan iringan musik gamelan dan juga gendang seperti sedang ada pertunjukan wayang. Karena makin penasaran, Endah mendekati suara tersebut yang ternyata berasal dari gudang pabrik yang terkunci. Saat melihat dari celah, Endah melihat pertunjukan wayang namun dengan nuansa mistis. Karena terkejut, Endah terjatuh dan ia langsung berlari keluar dari pabrik dan menuju loji.
Keesokan harinya, berbagai kejadian aneh mulai terjadi di pabrik. Endah, Fadhil, Wati, Mulyono dan Dwi sering melihat penampakan sosok gaib yang mengganggu mereka ketika sedang beristirahat di loji. Tak hanya itu saja, terjadi kecelakaan kerja yang menimpa beberapa orang di pabrik. Di sisi lain, Fadhil yang memiliki indera keenam selalu mendapatkan mimpi buruk yang tempatnya sama bertahan dengan pabrik tempat ia bekerja di sana. Ibu Marni pun langsung berkoordinasi dengan dua cenayang yang sudah lama membantu menjaga pabrik yaitu Mbah Jinah (Dewi Pakis) dan Mbah Samin (Budi Ros). Setelah ditelusuri, pimpinan di kerajaan demit yang menghuni kawasan pabrik murka kepada para buruh karena sudah banyak peraturan. Terlebih lagi, sesajen dua ekor sapi yang biasanya diterima pun ditolak, sehingga kejadian-kejadian mistis semakin sering terjadi di pabrik. Jalan keluar satu-satunya yang harus mereka tempuh yaitu menemukan pelaku pelanggar aturan dan mengadakan ritual penganten tebu untuk diserahkan kepada kerajaan demit di sana.
penyelesaian terjadinya konflik, sumber masalah, jumpfear dan ancaman berbahaya untuk para karakter dalam film ini cukup menarik. Konsep Jam Kuning dan Jam Merah yang diterapkan dalam plot juga membuat intensitas horornya semakin mencekam. Luasnya wilayah pabrik juga dimanfaatkan secara maksimal oleh sang sutradara untuk menghadirkan serangkaian jumpfear yang tak hanya seram namun juga menghibur penonton. Teror mistis dari sosok-sosok gaib yang menghuni pabrik pun hanya berpusat pada tujuh karakter saja. Selain itu, pendalaman cerita dari masing-masing karakter pun terasa minim, sehingga penonton cukup sulit untuk memberikan simpati atau rasa peduli kepada mereka. Alhasil, sepanjang durasi film, kita hanya melihat mereka diganggu penghuni pabrik, melakukan kesalahan dan harus menerima akibatnya saja. Lebih lanjut, plot twist yang menjadi sumber permasalahan di pabrik pun masih bisa dieksplor lebih kompleks lagi, bahkan menurutku ada beberapa bagian yang sangat potensial dijadikan pelengkap yang akan menambah elemen dramatis dari para karakter yang ada di film ini. Terlepas dari plotnya yang tidak memberikan hal baru,
0 komentar:
Posting Komentar