Juli 14, 2025
Mangkujiwo (2020)
Pemeran: Asmara Abigail, Yasamin Jasem, Sudjiwo Tedjo, Djenar Maesa Ayu, Roy Marten, Samuel Rizal, Kedung Darma, Septian Dwi Cahyo, Landung Simatupang
Sutradara: Azhar Kinoi Lubis
Studio: Gambar MVP
Kanthi (Asmara Abigail) seorang gadis yang berprofesi sebagai penari kini hidupnya tersiksa. Ditengah kondisinya yang sedang hamil, ia dipasung dan ditempatkan di kandang sapi oleh Tjokro Kusumo (Roy Marten) karena dianggap gila, mengandung anak setan dan mempunyai kekuatan gaib. Tjokro sendiri merupakan seorang kolektor loji-loji pusaka dari keraton yang memiliki salah satu dari Pengilon Kembar, sepasang cermin keramat yang memiliki kekuatan magis. Namun Tjokro tidak terlalu percaya soal kekuatan yang ada pada loji-loji pusaka itu. Ia berencana akan membisniskan hal ini dengan Karmila (Karina Suwandi), seorang kolektor benda-benda pusaka. Keberadaan Kanthi yang semakin meresahkan warga, Ki Lurah (Landung Simatupang) memutuskan untuk meminta pertolongan pada Brotoseno (Sudjiwo Tedjo), mantan rekan Tjokro yang kini bermusuhan karena Tjokro melontarkan fitnah pada Brotoseno. Brotoseno sendiri dikenal sebagai orang yang mampu menyembuhkan seseorang dari kegilaan dan gangguan gaib karena dirinya memiliki salah satu Pengilon Kembar.
Terbebas dari Tjokro tak membuat Kanthi hidup normal. Ia kembali dipasung dan dikurung oleh Brotoseno di rumahnya. Tak hanya itu saja, Brotoseno memanfaatkan Kanthi untuk melakukan sebuah ritual yang siap membangkitkan sosok gaib untuk menghancurkan Tjokro. Kematian Kanthi ini melahirkan seorang bayi perempuan bernama Uma yang kini dibesarkan oleh Brotoseno.
Uma tumbuh menjadi remaja perempuan yang mandiri. Ia sekolah sekaligus bekerja sebagai staf restoran disebuah hotel. Suatu hari, Uma tak sengaja melihat aksi pembunuhan seorang kolektor benda-benda pusaka bernama Raymond (Marcus Hacquebord) yang dilakukan oleh Herman (Kedung Darma). Melihat adanya Saksi mata yang membuat atasan dari Herman yaitu Karmila dan Pulung (Samuel Rizal), anak dari Tjokro meminta dirinya untuk segera melenyapkan Uma. Kejadian tak terduga menghampiri Uma disaat dirinya sedang dalam bahaya. Uma selalu mendengar alunan suara seorang perempuan menyanyikan tembang Lingsir Wengi dan orang-orang yang mencoba mengganggunya itu selalu membunuh secara mengenaskan.
Kematian orang-orang disekitar Tjokro membuat ia panik. Hal ini juga dirasakan oleh Brotoseno, Karmila dan juga Nyi Kenanga (Djenar Maesa Ayu), penasehat Brotoseon dan juga Tjokro. Brotoseno yakin sudah saatnya Mangkujiwo bangkit dari Pengilon Kembar melalui perantara Uma yang merupakan anak dari Kanthi.
ini memang mengupas sangat detail tentang asal-usul sosok Kuntilanak. Kolaborasi sutradara dan penulis naskah ini mencoba menghadirkan plot yang maju mundur untuk membangun kisahnya. Disepanjang film, penonton diajak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada karakter Kanthi ini. Awalnya kami cukup khawatir dengan konsep cerita yang maju mundur ini akan berpengaruh pada akhir cerita yang menjadi terlalu memaksakan, namun kekhawatiran kami ini langsung dipatahkan. Dhirmawan dan Erwanto menyajikan seluruh plot yang awalnya terasa seperti puzzle menjadi akhir kisah yang apik, kuat dan mengesankan. Disepanjang durasi film, penonton tak diberi penampakan atau jumpscared murahan, Kinoi lebih tekanan pada drama anomali antara Brotoseno dan Tjokro yang berimbas pada kesialan yang dialami oleh Kanthi. Subplot lain soal karakter Karmila yang diperankan Karina Suwandi (yang merupakan jembatan penghubung pada film
ini pun dieksekusi dengan bagus, masuk akal dan cemerlang. Karakter-karakter pendukung lainnya juga mendapat penokohan yang cukup kuat dan membantu pada keseluruhan cerita. Tak boleh dilewatkan juga beberapa easter-egg kecil dari film Kuntilanak generasi pertama dan Kuntilanak generasi kedua juga muncul di sini. Kami yakin hal ini menjadi hal yang paling ditunggu bagi para penggemar dan pengikut semesta film Kuntilanak.
secara mengejutkan memiliki pemain ansambel yang memukau. Asmara Abigail memang tak perlu diragukan lagi jika memerankan sosok misterius. Aura menyeramkan namun tetap menarik empati penonton sukses yang ditampilkan oleh karakter Kanthi. Acungan dua jempol berikutnya kami berikan pada aktris muda Yasamin Jasem yang mememerakan karakter Uma. Secara mengejutkan ia tampil melampaui ekspektasi kami. Yasamin mampu tampil sebagai remaja perempuan tangguh. Adegan aksi berkelahi hingga bunuh-bunuhannya benar-benar memuaskan. Kami sangat menikmati salah satu adegan Yasamin beradu aksi dengan salah satu aktor dan ditayangkan oleh lagu lawas. Benar-benar ide dan konsep yang memukau untuk sebuah adegan dalam film horor. Performa aktor senior Sudjiwo Tedjo pun harus diapresiasi karena sukses menjiwai karakter Brotoseno. Aksinya menurutku cukup memukau dan menyamai aksi aktris Christine Hakim dalam film
ni sukses menampilkan serangkaian adegan-adegan mengganggu yang membuat kami memejamkan mata. Organ hewan, manusia, darah hingga hewan-hewan mengerikan ditampilkan dengan sangat nyata dan meyakinkan. Semakin tak sabar untuk melihat film-film selanjutnya dari semesta Kuntilanak ini. Semoga secepatnya bisa mempertemukan para karakter Kuntilanak generasi pertama dengan Kuntilanak generasi kedua. Ini akan menjadi epik!
0 komentar:
Posting Komentar