This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 31 Agustus 2025

SICARIO (2015)

SICARIO (2015)

Perlu saya tekankan sedari awal, Sicario bukanlah sajian full throttle action, di mana gelaran baku tembak di tampilkan, desingan perlu diperdendangkan atau kebut-kebutan di jalan raya dipertemukan. Ini lebih ke sajian slow-burn-thriller-yang menggelayuti pikiran, membuka mata dan mengganggu perasaan bahkan penglihatan. Sutradara Denis Villeneuve (Incendies, Prisioners, Enemy) menekankan hal tersebut dalam merangkai sebuah cerita agen CIA menelusuri kartel narkoba di Meksiko.

Terdengar seperti sebuah sajian b-movie memang, namun, naskah hasil tulisan Taylor Sheridan (Hell or High Water, Wind River) tidak sedangkal itu, di dalamnya terdapat sebuah kelokan membingungkan-yang bak sebuah labirin, di mana jalan kelar sukar untuk ditemukan. Itu sudah ia tampilkan sedari awal, kala sekelompok SWAT FBI yang dipimpin oleh Kate Macer (Emily Blunt) melakukan penyergapan terhadap markas gembong pengedar narkoba. Saat menyambangi tempat tersebut, alangkah terkejutnya Kate ketika melihat puluhan mayat dalam kondisi mengenaskan tersembunyi di balik tembok rumah. Villeneuve mengajak penonton untuk merasakan hal tersebut, sebagaimana ia menjadikan Kate sebagai sudut pandang utama film ini.

Ya, seperti yang telah saya singgung, Sicario dengan jenius membawakan penonton larut dalam cerita, kita diposisikan sebagai Kate-yang menemukan sebuah keanehan dan tanda tanya yang besar terkait penemuan mayat tersebut, bahkan berlangsung sampai penasehat Departemen Keamanan, Matt Gaver (Josh Brolin) merekrut Kate untuk bergabung dalam sebuah tim elit bentuknya. Matt menduga bahwa kartel narkoba di Meksiko bertanggung jawab atas penemuan mayat tersebut.

Bersama Alejandro Gillick (Benicio del Toro) rekan Matt-yang mempunyai perangai misterius, dilakukanlah sebuah penyerbuan sekaligus penyelidikan ke Juarez, Meksiko guna meringkus kartel Sonora Manuel Diaz (Bernardo P. Saracino). Kate seorang wanita idealis, mulanya menganggap misi ini akan berjalan sebagaimana mestinya, namun kenyataan yang dipikirkan Kate rupanya tak semulus apa yang dipikirkan.

Perjalanan menuju Meksiko juga membuka mata Kate terkait kejamnya dunia, di mana anggapan dan pikiran maupun tindakan idealis macam Kate terenyahkan di muka bumi ini. Mengingat hal tesebut memang nyata adanya, Villeneuve menghadirkan sebuah nuansa yang mencengkram ketika ketegangan perlahan dinaikan, membuka sebuah kejutan dan kemudian tampil begitu mengesankan.

Apalagi, kamera hasil rekaman Roger Deakins (Skyfall, Unbroken, Prisioners) selalu menghadirkan sebuah kesunyian, entah itu lewat tangkapan gambar berupa siluet maupun bentangan halaman tandus bermandikan cahaya matahari tenggelam. Sementara musik gubahan Jóhann Jóhannsson ikut menjadi penguat, kala lantunan musiknya begitu menusuk, menghantarkan sebuah pesan yang mengamini perasaan Kate di tengah situasi yang menghadapnya.

Villeneuve menjadikan Sicario sebagai sebuah sajian sarat ketegangan tanpa harus tampil -besar-besaran, berbekal kesunyian yang memekik pula ketajaman dalam menghantarkan adegan, Sicario tampil menekan perasaan berkat tampilan mengerikan terkait sebuah kekejaman yang terjadi di muka bumi ini. Tentu saja, ada peran kepolisian yang korup ataupun orang yang bermuka dua layaknya film bertema serupa, namun kehadiran mereka kian mengingatkan sebuah bahaya besar-yang dijalankan secara diam-diam alih-alih saat gebrakan memuakkan.

Emily Blunt tampil begitu mengesankan menampilkan sebuah dualitas yang mempunyai sisi memilukan, di tengah kekuatan sebagai seorang aparat, ia sering mengalami luka fisik dan mental yang begitu hebat. Sementara Benicio del Toro tampil intimidatif, memancarkan aura misterius yang pekat di tengah kehadiran Josh Brolin-yang sedikit berkontribusi menampilkan balutan komedi lewat tingkahya.
Layaknya seekor domba yang berada di tengah kawanan serigala, Scario memposisikan Kate sebagai seekor domba terkuat sekalipun-namun berada di antara kawanan serigala tetap adalah sebuah bahaya. Sekalipun ia berlari secepat mungkin, sebuah luka pasti akan menerpa. Begitulah Sicario berjalan, penuh tekanan, kekejaman hingga ambiguitas-yang memberikan beriringan. Villeneuve bak menyajikan sebuah realita yang benar adanya.


NEWTON (2017)

NEWTON (2017)

Newton garapan Amit V. Masurkar (Murder 3, Sulemani Keeda) dengan santai dimulainya sebuah demokrasi. Di mana, demokrasi bak hanya dijadikan sebuah formalitas belaka-demi terciptanya sebuah keuntungan semata. Hal ini tentu berlaku bagi mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat-yang sama sekali tak merakyat. Bagi mereka, masyarakat mengambil lebih dari sekedar syarat sekaligus media untuk menciptakan sebuah martabat.

Hingga kala seseorang yang mempunyai idealisme tinggi macam Nutan Kumar alias Newton Kumar (Rajkummar Rao) pegawai pemerintah tingkat kecil yang baru saja diperintahkan untuk menjadi petugas pemungutan suara di sebuah wilayah terpencil di tengah hutan yang bernama Chhattisgarh-yang diklaim berada di bawah kekuasaan gerilyawan Maois, meskipun pihak Pemerintahan India mengatakan bahwa daerah tersebut secara resmi telah berada di bawah kendali pemerintah.

Dengan 76 orang-yang memopunyai hak pilih, Newton bersama para petugas lainnya, Malko Netam (Anjali Patil) dan Loknath (Raghubir Yadav) di kawal oleh sekelompok anggota militer yang dipimpin oleh Aatma Singh (Pankaj Tripathi). Sikap idealis yang dimiliki Newton sering dibandingkan dengan Aatma Singh-yang menganggap pemilihan tidak terlalu penting, Aatma Singh adalah gambaran pihak berwajib-yang menomorduakan tugas sebgai sebuah formalitas. Tentu saja, orang-orang macam Aatma Singh sering berseliweran di sekitar kita.

Naskah yang ditulis oleh sang sutradara bersama Mayank Tewari pintar dalam mengolah dialog maupun latar belakang penokohannya. Terdapat sebuah makna filosofis terkait penggunaan nama Newton dan Nutan. Isaac Newton sang penemu relativitas dalam bidang fisika telah meruntuhkan sistem strata sosial dalam peradaban kehidupan manusia dengan teorinya, menjadikan manusia baik raja maupun pengemis sama sejajar. Baik raja maupun pengemis jika jatuh dari ketinggian maka akan menuju tanah. Newton kerap menerapkan ilmu itu demi terciptanya sebuah kehidupan yang baru (nutan).

Beragam analogi kerap Masurkar masukkan, sebutlah dengan sebuah papan tulis tempat dijadikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang kosong melompong, menandakan sebuah pemilihan yang kosong serta perhatian terhadap masyarakat yang tak datang. Newton adalah sebuah dagelan bagi demokrasi-yang kerap disalahartikan, dijadikan sebuah pemanfaatan tanpa adanya sebuah penyuluhan. Ini terus terjadi ketika pemilihan di Chhattisgarh dilakukan, ketika para pemilih tak mengerti bagaimana memilih dan siapa calon yang akan dipilih.

Rajkummar Rao menampilkan sebuah pertunjukan gemilang, memantapkan statusnya sebagai salah satu aktor yang paling menjanjikan, Raghubir Yadav menampilkan seorang pria paruh baya berpendidikan namun sering kebingungan, sementara Pankaj Triptahi bak seorang serigala berbulu domba.

Tak hanya perihal demokrasi yang ditelanjangi oleh Masurkar, kecenderungan masyarakat akan pendidikan juga dianggap sebagai bentuk penghambat kemajuan. Para orang tua memilih menjodohkan anaknya sebagai penunjang kehidupan alih-alih memposisikan mereka sebagai pengubah kehidupan. Newton dengan halus mengkritisi sistem pemerintahan dan kemasyarakatan di India-yang barangkali terjadi pula di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berbekal durasi 106 menit, Newton tampil padat berkat pengadeganan yang cermat-yang bermuara pada sebuah representasi yang tepat. Sesekali musik sarat rasa patriotis menemani, mengalun pelan dan menusuk perasaan. Konklusi dari Newton seakan menjawab pernyataan tersebut.

Newton seolah-olah mengeliminasi pengertian demokrasi yang disampaikan oleh Abraham Lincoln, menerapkan tesis Joseph Schumpter yang mengatakan bahwa demokrasi adalah “Sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kaum elite”. Miris, pendapat tersebut memang nyata adanya, di mana perubahan yang diinginkan rakyat yang termajinalkan urung direalisasikan. Newton dengan keras menolak legitimasi anggapan tersebut, sebuah wujud aspirasi yang mewakili.




WOUNDS (2019)

WOUNDS (2019)

Wounds sebagai film kedua dari sutradara asal Iran, Babak Anvari (Under the Shadows) memiliki muatan ampuh dalam menyulut rasa mengerikan, terutama bagi mereka para pengidap katsaridaphobia (fobia terhadap kecoak), mematenkan filmnya sebagai sebuah sajian horor psikologis, Wounds-yang perlahan bermain dengan sebuah misteri nyatanya berakhir anti-klimaks, menimbulkan sebuah kebingunan tersendiri, terutama karena kurang cakapnya Anvari menghasilkan sebuah konklusi berarti.

Will (Armie Hammer), seorang bartender asal New Orleans menjadi saksi terlibatnya sebuah perkelahian di bar, di mana sang sahabat, Eric (Brad William Henke) mengalami luka parah di pipi. Selepas terjadinya kejadian tersebut, Will menemukan sebuah ponsel yang tertinggal, diduga milik salah satu anggota remaja yang baru saja memesan bir. Ketimbang menyimpannya di bar, Akan alih-alih membawanya pergi lalu ia menemukan kembali pemiliknya

Sesampainya di rumah, Will mendapati sebuah pesan dari ponsel tersebut, berasal dari seseorang bernama Garret-yang menyatakan sebuah pesan ketakutan dan mengirimkan gambar menyeramkan berupa penggalan kepala manusia beserta kecoak yang mengelilinginya. Sang kekasih, Carrie (Dakota Johnson) meminta untuk melapor kepada polisi, namun Will bersikukuh mencari kebenarannya, hingga perlahan tapi pasti, Will mulai mengalami kejanggalan pasca ia memegang ponsel tersebut.

Dari sini, Babak Anvari mulai bermain dengan sebuah gambaran ketidaknyamanan-yang kemudian menyulut sebuah ketegangan terhadap apa yang terjadi. Luka yang tampil memikat berkat mondar-mandir yang senantiasa tertanam, perlahan menghadirkan pemandangan mengerikan pula tanda tanya yang menuntut sebuah jawaban. Keambiguan ini dijaga dengan rapi oleh Anvari, hingga puncaknya menghadirkan sebuah konklusi-yang nyaris tanpa arti.

Bukan sepenuhnya tak berarti, melainkan Anvari kurang cakap dalam menjalankan sebuah penebusan setimpal. Terlebih lagi terkait sebuah ritual gnostisme-yang urung dijelaskan lebih lanjut. Padahal, potensi tersebut akan memberikan sebuah pengetahuan baru pula eksekusi-yang dianggap seru, mengingat kurang terjamahnya aliran sinkretisme dalam sebuah film.

Disadur dari sebuah novel berjudul The Visible Flith buatan Nathan Ballingrud-yang hanya setebal 85 halaman, Anvari yang juga menulis naskahnya mengejawantahkan cerita tersebut dalam durasi 94 menit-yang cukup padat meski terlampau lemah di konklusi. Mungkin Anvari berniat mempertahankan keambiguan yang dimiliki cerita aslinya.

Armie Hammer adalah nyawa film utama ini, ia tampil berjanji dalam membawakan sebuah degradasi ketakutan, pun demikian dengan Dakota Johnson-ditengah screen time sedikit miliknya, sementara kehadiran Zazie Beetz hanya sebatas pelengkap cerita-yang urung dieksploitasi potensinya.

Meski tak se-efektif Under the Shadow dalam mempermainkan perasaan, kepiawaian Anvari dalam menghadirkan sebuah kengerian masih dapat terlihat, meski tak sampai berada pada tahap-yang lebih mendalam. Lukanya memang berkurang, meski tak berarti orang yang kontrolnya hilang sepenuhnya. Saya akan selalu menantikannya untuk mendatang.


TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

Dijual sebagai sebuah sajian inspiratif, Terbang: Menembus Langit-yang mengangkat kisah hidup pula sepak terjang sang motivator sukses Onggy Hianata, membawakan penonton menyanyikan sebuah makna perjuangan sesungguhnya, alih-alih meratapi semuanya dengan tangisan. Bukan berarti tak boleh menangis, melainkan tak boleh berlarut-larut dan selalu tetap kuat dan tegak saat dihadapkan pada suatu permasalahan yang sulit. Setidaknya itu sering diterapkan oleh sang protagonis utama kita, Onggy (Dion Wiyoko).

Onggy yang lahir dari keluarga sederhana di Tarakan selalu terngiang akan petuah sang ayah (Chew Kin Wah) yang selalu berkata "Beranikan hati. Raihlah kebebasan kau. Terbang, terbang setinggi-tingginya", hingga kala Onggy memberanikan diri merantau ke Surabaya-demi mengubah nasib keluarga menjadi sebuah pembuktian akan hal tersebut. Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka's Jakarta Undercover) selaku sutradara dan penulis naskah menampilkan sebuah bukti yang nyata bukan asal kata-yang kemudian membawa Terbang: Menembus Langit memulai sebuah pijakan baru terkait menapaki kehidupan yang sebenarnya.

Dari seorang pemasok apel hingga berjualan kerupuk, kita melihat kehidupan Onggy yang tak selalu berjalan mulus. Pun, setelah ia menikah dengan Candra (Laura Basuki) kehidupan urung berpijak kepadanya. Dari sini, Nugros menampilkan sebuah kekejaman realita di tengah upaya seorang manusia, menghasilkan sebuah drama-yang mampu membuka mata. Sepintas terpikir bahwa Terbang: Menembus Langit hanya mengeksploitasi derita demi derita, namun bukankah realita acap kali di sambangi oleh derita?

Dion Wiyoko menampilkan sebuah rentang emosi yang kuat, membuat adegan "mengadu kepada Tuhan" begitu meyakinkan dan menyayat hati. Laura Basuki-yang kembali kembali ke layar selalu menampilkan kekuatan di balik kelembutan-meski terkadang goyah berbekal sorotan mata yang terpancar nyata, menghasilkan sebuah chemistry solid yang kian menguatkan. Pun, dalam salah satu adegan di warung mie ayam, Nugros mampu menyulap kesederhanaan menjadi sebuah panggung sarat romantisme.

Pun, lewat Terbang: Menembus Langit, Nugros turut menyelipkan pesan nasionalisme yang lantang diteriakkan. Meski "ditunjukkan" lebih mengena alih-alih "dinyatakan". Tuturan nasionalisme-yang juga mengambil latar pada masa Orde Baru ini sempat menyulut sebuah konflik, meski elaborasi lebih lanjut yang terjadi padanya. Nugros lebih tertarik memperlebar sayap ke jalur-yang lebih kecil, kembali ke sebuah awalan, yakni keluarga.

Ya, tuturan keluarga mendominasi tuturan kisahnya, mengingat Onggy Hianata adalah pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan mustahil merupakan alasan Nugros mengedepankan unsur kekeluargaan. Karena jika mengeksploitasi kehidupan Onggy lewat kesuksesan secara finansial akan terasa kurang pas. Namun, ini bak sebuah pisau bermata dua. Nugros mengeliminasi fakta tersebut, menggantinya dengan penggunaan penting dan melupakan akar kesuksesan utama seorang Onggy Hianata. Hal terkait MLM yang dijelaskan, atau setidaknya secara singkat, ini tentu mengurangi taji pasca menontonnya.

Dalam sokong yang direkam kamera Padri Nadeak, Terbang: Menembus Langit mempunyai tata artistik yang autentik (juga berkat kejelian Nugros membangun set pula pemilihan lokasi) menampilkan sebuah nuansa menyelami masa lalu pula kembali ke masa lalu (baca: keluarga) yang mana merupakan alasan seseorang untuk pulang pasca meraih kesuksesan.

Terbang: Menembus Langit mencakup kendala berupa penulisan penokohan, di mana fakta perihal "ide" yang tercetus melalui mulut Onggy terasa kurang selaras jika menilik masa kecil sang tituler-yang disebutkan unggul oleh sang kakak, pun mengenai kehidupannya di kampus, kita tak diperlihatkan sebuah penguatan lebih selain eksploitasi karakternya-yang kerap telat membayar iuran. Setidaknya dari sana kita dapat melihat seorang Dayu Wijanto kembali mencuri perhatian, di samping Terbang: Menembus Langit yang bisa sedikit dimaafkan jika disandingkan film-film lokal yang bertema perjuangan inspiratif kebanyakan.

ANNABELLE: CREATION (2017)

ANNABELLE: CREATION (2017)

Bertindak sebagai sebuah prekuel dari prekuel Annabelle (2014, yes that's mengerikan bad movie), Annabelle: Creation adalah bagaimana sebuah film formulaik menyenangkan di buat, di nahkodai oleh David F. Sandberg (Lights Out), Creation membawakan sebuah penebusan setimpal atas terbuatnya The Conjuring (2013), bedanya, kali ini bumbu komedi sedikit ditaburkan, menghadirkan sebuah ragam baru-yang lebih menyenangkan.

Creation, membawa kisahnya mundur pada tahun 1950-an, ketika seorang pembuat boneka bernama Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto), kehilangan sang putri tunggal, Annabelle (Samara Lee) akibat sebuah kecelakaan. Dua belas tahun berselang, Samuel dan Esther menjadikan rumah mereka sebagai panti asuhan bagi segelintir anak perempuan-yang berada di bawah bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman) guna membuat suasana rumah mereka lebih meriah.

Dibantu sinematografer Maxime Alexandre (P2, The Crazies, The Other Side of the Door) opening-sequence Annabelle: Creation menangkap sudut demi sudut rumah milik keluarga Mullins, tekanan kesunyian pula memunculkan rasa misterius tersendiri-yang mana merupakan sebuah keindahan estetika atas dasar pentingnya, Sandberg jeli memainkan tempo penempatan, hingga terkadang menghadirkan sebuah mise-en-scène-yang tampak indah.

Naskah yang ditulis oleh Gary Dauberman (Blood Monkey, Annabelle, Wolves at the Door) boleh saja setipis kertas, namun eksekusi yang disajikan Sandberg mampu menutupi itu semua, itu terjadi semenjak karakter Janice (Talitha Bateman) salah satu anak panti tak sengaja membuka kamar milik Annabelle, menghidupkan kembali roh yang sudah lama terkurung.

Salah satu aspek yang tak dimiliki film pendahulunya adalah eksplorasi cerita, dari sini, Sandberg membangun eksplorasi cerita secara pelan-namun tepat sasaran. Masih berbekal jump scar khas James Wan, Creation tampil efektif berkat permainan timing dan pacing, menyulut atensi tanpa mengendorkan sebuah tensi.

Jika paruh pertama adalah panggung bagi Talitha Bateman yang menampilkan ekspresi ketakutan janji, second-act-nya adalah panggung bagi performa penuh talenta seorang Lulu Wilson, memerankan Linda, sahabat dekat Janice-yang selalu berharap bahwa mereka akan diadopsi bersama sebagai seorang kakak-adik. Berbekal keluguan karakternya, Wilson mampu mencuri perhatian berkat nada sarkasme menggelitik-yang terlontar dari dialognya ketika dibayangkan pada segelintir jumpscare, menghadirkan sebuah gelak tawa pula rasa takut selanjutnya.

Berbicara mengenai aspek teror, Creation mungkin nihil sebuah pembaharuan, namun Sandberg menghadirkan aspek tersebut secara variatif, film horor mana-yang menampilkan serangan hantu di siang hari? Semakin lengkap kala scoring gubahan Benjamin Wallfisch (Lights Out, Hidden Figures, A Cure for Wellness) mengiringi, menekankan sebuah kengerian-yang semakin terpatri.

Memasuki babak ketiga alias konklusi, Sandberg menumpahkan sebuah gelaran menyenangkan, kala barisan teror terus dipekik, ditekan secara penuh tanpa harus kehilangan dinamika-yang membangun filmnya, menghadirkan sebuah penutup yang memuaskan pasca film sebelumnya gagal menampilkan penebusan setimpal.


ANNABELLE COMES HOME (2019)

ANNABELLE COMES HOME (2019)

Selaku film ketiga dari seri Annabelle sekaligus film ketujuh dari semesta The Conjuring, Annabelle Comes Home menyuatkan sebuah pertanyaan terkait adakah cerita yang akan dituturkan? Pasca Annabelle (2014) yang hancur lebur, Annabelle: Penciptaan yang mengungguli pendahulunya dari beragam aspek, Annabelle Comes Home-tak lain dan tak-adalah usaha mengeruk finansial di tengah keringnya ide penceritaan.

Mengambil latar setelah adegan pembuka di The Conjuring (2013), pasangan Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine (Vera Farmiga) memutuskan untuk mengurung Annabelle dalam sebuah lemari kaca, karena menurut Lorraine “Annabelle adalah suar bagi para roh”. Menandai debut penyutradaraannya, Gary Dauberman-yang sebelumnya menulis naskah Annabelle: Creation-menjadikan adegan tersebut sebagai piondasi utama bagi filmnya, mengeluarkan kembali Annabelle beserta deretan makhluk-yang turut meramaikan rangkaian terornya-yang meski nihil elaborasi lebih, kesenangan tersendiri justru dapat.

Semua bermula kala Ed dan Lorraine memutuskan untuk pergi ke luar kota, meninggalkan sang puteri, Judy (Mckenna Grace) di bawah pengawasan sang baby sitter, Mary Ellen (Madison Iseman). Turut hadir pula Daniela (Katie Sarife) sahabat Mary Ellen-yang kemudian membuka lemari kaca Annabelle. Dari sini, teror sang roh jahat hadir bersama roh jahat-yang tak kalah kuat lainnya.

Ya, Daniela bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi. Namun, tanpa menjustifikasi maupun menyalahkan tindakan bodoh Daniela, Dauberman memberikan intensitas lebih terhadap motivasi ia melakukan hal tersebut-yang didasari sebuah keinginan untuk meminta maaf kepada sang ayah yang sudah tiada. Dari sini tindakan nekat Daniela bisa diterima, pun demikian dengan latar belakang Judy-yang kerap dicibir teman sekolahnya. Keduanya adalah korban perisakan profesi orang tua, meski mengenai karakter Mary Ellen urung diberikan porsi yang memadai.

Seperti yang telah disinggung, Annabelle Comes Homes turut menampilkan sederet roh jahat-yang bersemayam di rumah keluarga Warren, membuka jalan bagi The Conjuring Universe mengesksplorasi sederet makhluk ikonik penerus alam semestanya. Mulai dari The Bride-yang sering menyembunyikan pisau, iblis bertanduk, manusia serigala hingga The Ferryman yang terinspirasi sosok Charon dari mitologi Yunani.

Semuanya guna yang ditampilkan melangsungkan serangkaian jumpscare-yang meski terlampau lama membangun build-up, efektif mengundang denyut jantung meski saat itu. Semua disebabkan karena miskinnya kreativitas-yang hanya sebatas menampakkan wajah hantu secara tiba-tiba, tak ada urgensi lebih selain menakut-nakuti karakternya.

Hal itu yang kemudian berimbas pada karakter Annabelle-yang tersampingkan. Dauberman berdiam dalam membagi penampilan paramakhluk di tengah kosongnya penceritaan-yang hanya sebatas menghadirkan jumpscare tanpa adanya penebusan setimpal. Ya, konklusinya terlampau menggampangkan untuk mengembalikan paramakhluk dalam jumlah banyak ke asalnya.

Beruntung, Annabelle Comes Homes mempunyai sederet pelakon solid, baik itu Mckenna Grace, Katie Sarife maupun Madison Iseman-yang bermain apik. Kepiawaian Dauberman pun masih terlihat jelas, terbukti dari tata artistik filmnya yang tak sembarangan, terlebih ketika dalam salah satu adegan ia juga melibatkan sebuah televisi klasik di dalamnya-sebagai sebuah wahana yang menampilkan kreasi.

Annabelle Comes Homes mungkin gagal mengulangi keberhasilan Creation dalam segala aspek, meski sesekali menggetarkan berkat penokohan solid pula performa kaya rasa seorang Vera Farmiga yang mampu menyulap rangkaian dialog terdengar indah. Memang suatu penurunan yang cukup signifikan masih bisa diberi kesempatan


THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS (2018)

 THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS (2018)

Membawakan sumber dari pertunjukan balet dua babak The Nutcracker karya Marius Petipa sekaligus mengadaptasi cerita The Nutcracker and the Mouse King buatan E.T.A. 99 menit durasi penuh kebosanan.

Disutradarai oleh Lasse Hallström (What’s Eating Gilbert Grape, Hachi: A Dog’s Tale, Dear John), yang berbagi penyutradaraan kredit dengan Joe Johnston (Jumanji, Jurassic Park III, Captain America: The First Avenger), yang mengambil alih proses pengambilan gambar ulang selama sebulan. The Nutcracker and the Four Realms adalah sajian penuh kebingunan. Benar, karya Asleigh Powell dan Tom McCarthy menampilkan sebuah keindahan artistik berupa pameran CGI memanjakan mata berkat keunikan para karakternya, namun demikian dengan cerita-yang sebatas membuka empat dunia daripada mengeksplorasi lebih banyak keunikan hingga sejarah miliknya.

Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy) tengah bersumpah, menolak menikmati malam Natal selepas kematian sang ibu, Marie (Anna Madeley). Hubungan dengan sang ayah Benjamin (Matthew Macfayden) merenggang, karena menurut Clara, sang ayah lebih mementingkan soal reputasi daripada perasaan sang puteri. Demi mengurangi kesedihan sang putri, Benjamin memberikan sebuah hadiah Natal titipan sang ibu, Clara menerima hadiah berupa telur misterius-yang konon dapat mengabulkan segala keinginan dengan syarat membukanya dengan sebuah kunci. Sayang, sang ibu tak memberikannya sebuah kunci.

Akhirnya, Clara mengikuti ajakan sang ayah demi menikamati malam Natal sambil berdansa, meski tujuan sebenarnya adalah bertemu dengan sang ayah baptis, Drosselmeyer (Morgan Freeman) yang diyakini menyimpan kunci telur tersebut. Namun, sebelum memberikan jawaban, Drosselmeyer meminta Clara untuk menemukannya sendiri melalui sebuah benang yang terbentang, yang kemudian membawanya ke Four Realm, dunia fantasi di mana sang ibu pernah menjadi Ratu di sana.

Setibanya di Four Realm, Clara bertemu dengan Captain Phillip Hoffman (Jayden Fowora-Knight) nutcracker penjaga jembatan, Clara di bawa menuju ke duni di mana Marie memerintah, mempertemukannya dengan tiga dari empat penguasa alam: Sugar Plum (Keira Knightley) dari Land of Sweets, Hawthorne (Eugenio Derbez) dari Land of Flowers, dan Shiver (Richard E. Grant) dari Land of Snowflakes.Dari sini, The Nutcracker and the Four Realms kembali mempeertemukan kita dengan dunia buatan sarat keindahan, di mana kostum unik yang dikenakan, hingga lanskap menawan disajikan.

Setelah bertemu dengan mereka, Clara menemukan satu kebenaran lain yang terkait dengan Mother Ginger (Hellen Mirren) si penguasa Land of Amusement. Mother Ginger menjadi penyebab terpecahnya keempat alam tersebut-karena ia berniat menguasai dunia yang Marie bangun hingga tercetusnya peperangan antara mereka. Land of Amusement adalah tempat bermain di mana di dalamnya berisi Mouse King dan lima "Badut Matryoshka"-yang bagi beberapa penonton, wujud mereka mampu menghasilkan sebuah ketakutan tersendiri.

Ketimbang menjelaskan sebuah flashback, The Nutcracker and the Four Realms-hanya menampilkan gelaran tempat berbalut CGI megah, seolah para pembuatnya bangga dengan gelaran anggaran besar miliknya. Balet menjadi satu-satunya penghantar cerita-yang setidaknya memberikan sebuah gambaran, meski terkait kedalaman, sang sutradara belum piawai menyampaikannya secara sempurna.

Kesalahan paling fatal yang menimpa The Nutcracker and Four Realms adalah perihal naskah-yang hanya sebagai sebuah jembatan penghubung ke sebuah twist-yang tak cukup kuat. Akibatnya, eksplorasinya pun tidak menghasilkan suatu cakupan yang lebih, selain menjawab kekutannya sendiri. Terlebih lagi, adegan perang yang melibatkan Mouse King atau Hellen Mirren-yang membawakan pecut pun tak seberapa menyenangkan, ini membawa lemahnya sebuah penuturan pula penempatan yang benar-benar memadai.
Mackenzie Foy adalah penyelamat film ini. Berkat persona yang dimilikinya, sang aktris mampu menangani adegan sederhana dengan tampilan yang kaya rasa. Meski saya sendiri sering terganggu oleh suara nyaring dan menyebalkan Keira Knightley si ratu-yang mempunyai rambut arumanis itu. Terkait konklusinya, tidak ada perubahan ataupun memutar lebih lanjut. Setidaknya, credit tittle-yang kembali menampilkan pertunjukan balet mampu sedikit mengobati kekecewaan-pasca memperlihatkan sebuah sajian potensial yang terabaaikan.


LAMPOR: KERANDA TERBANG (2019)

LAMPOR: KERANDA TERBANG (2019)

Nama Lampor mungkin kurang dikenal di seluruh masyarakat Indonesia, tapi untuk seseorang yang hidup dan tumbuh di daerah Jawa (khususnya daerah Yogyakarta, terutama Temanggung) Lampor adalah sebuah dongeng mengerikan, pun menilik beberapa kejadian-keabsahannya pun kian dibenarkan keberadaannya bagi sebagian masyarakat. Sebagai seseorang yang tumbuh dari lingkungan tersebut, Guntur Soeharjanto-yang merupakan sutradara berbasis drama religi macam 99 Cahaya Di Langit Eropa (2013), Assalamualaikum Beijing (2014), Jilbab Travelers: Love Spark in Korea (2016) hingga Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) menjajal genre horor untuk pertama kalinya. Demikian pula dengan sang aktris, Adinia Wirasti-yang mengembangkan kemampuannya untuk bermain di genre horor.

Netta (Adinia Wirasti) kembali ke kampung halamannya di Temanggung guna menyampaikan wasiat sang ibu, Ratna (Unique Priscilla) terhadap sang ayah, Jamal (Mathias Muchus). Meski di selimuti trauma masa lalu yang mengerikan, Netta pun harus menghadapi kenyataan bahwa bisnis sang suami, Edwin (Dion Wiyoko) kini berada di ujung tanduk, mereka kemudian memutuskan untuk meminjam dana kepada ayah Netta sebagai penopang kebutuhan keluarga, terutama untuk masa depan kedua anak mereka, Adam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie) yang ikut di boyongnya ke Temanggung.

Sesampainya di Temanggung, Netta harus menghadapi kenyataan bahwa sang ayah baru saja meninggal. Pun, orang setempat memandang sinis Netta, menyalahkan kedatangannya sebagai alasan datangnya teror Lampor (hantu pembawa keranda terbang berwujud seperti Dementor) di kampung mereka. Tak butuh waktu lama untuk Netta kembali menghadapi ketakutan terbesarnya, apalagi nyawa keluarganya bisa menjadi taruhannya.

Lampor: Keranda Terbang-yang ditulis naskahnya oleh Alim Sudio (Kuntilanak, Makmum, Twivortiare) setidaknya menyumbangkan waktu untuk mengembangkan penceritaan terkait mitos Lampor-yang pada paruh pertama filmnya terlihat begitu meyakinkan. Guntur Soeharjanto membawakan Lampor: Keranda Terbang perlahan menuju penceritaan, mengembangkan narasi-yang meski tidak tepat pada tempatnya dapat dipahami.

Memasuki pertengahan durasi, Lampor: Keranda Terbang mulai memainkan tensi terkait pemaparan misteri yang ditebar secara pasti-yang mana kesempatan ini digunakan sang sutradara sebagai alasan kematian tak wajar Jamal-yang memancing kualitas bahwa ia sejatinya dibunuh oleh orang yang mengincar warisannya. Ada sejumlah tersangka, diantaranya Esti (Nova Eliza) isteri muda Jamal, Bimo (Dian Sidik) si orang kepercayaan Jamal, Mitha (Steffi Zamora) si puteri angkat Jamal dan Esti ataukah Nining (Annisa Hertami) si pelayan yang terlihat baik. Naskahnya mengeksplorasi karakter tersebut secara baik, di samping juga melibatkan mitos-mitos mistis sebagai pemanis, sebutlah awan berbentuk naga atau kucing hitam sebagai pertanda bencana.

Sayang, memasuki paruh kedua, Lampor: Keranda Terbang mulai menginjak sebuah batu sandungan berupa permainan "rules" Lampor dengan memilih mengeksploitasi drama berbasis keluarga-yang mana adalah keahlian Guntur. Tak masalah jika aspek tersebut diterapkan dengan syarat memberikan penguatan. Namun, untuk kasus Lampor: Keranda Terbang sendiri karena kebingungan mempadu-padankan dua elemen tersebut, alhasil terciptalah sebuah kecanggungan.

Kecanggungan di sini berupa penempatan teror Lampor itu sendiri-yang meski di beberapa kesempatan tampil mengerikan berkat pasokan musik dan penggunaan CGI yang meyakinkan, meski berada dalam kegelapan mampu memudahkan atau menyamarkan penggunaan teknisinya. Lampor sendiri di gambarkan sebagai makhluk mengerikan, membawa keranda terbang guna menjemput "pendosa" dan siapa saja yang melihatnya di samping statusnya sebagai pajurit Nyi Roro Kidul. Sayang, potensi ini urung tersampaikan secara meyakinkan berkat kurangnya film dalam menuturkan.

Adinia Wirasti di tengah kurang mulusnya penceritaan mampu tampil meyakinkan, meski naskah kerap menggirinya melakukan sebuah perwujudan. Sebutlah keputusan ia pergi meninggalkan sang anak di tengah bahaya Lampor di tengah keharusannya menjaga sang anak alih-alih mengundang bahaya baru. Dion Wiyoko seperti biasa tampil meyakinkan, meski dorongan naskahnya membuat ia tampil menyebalkan, sering mengambil keputusan secara tiba-tiba dan gemar melontarkan teriakan amarah.

Bukannya tak mampu, Guntur Soeharjanto belum berpengalaman membuat sajian horor. Ini pula yang berimbas dan terjadi pada konklusi yang penuh sesak, di mana ia jadikan sebagai ajang untuk membuka tabir secara terbuka alih-alih menebarnya secara perlahan. Pun, penyuntingan kasar (penyakit film garapan Starvision) menjangkiti adegan, terutama saat menampilkan sebuah adegan sarat kekacauan. Lampor: Keranda Terbang memang problematis, meski saya tak keberatan perihal memberikan setitik kesempatan terhadapnya.


RATU ILMU HITAM (2019)

RATU ILMU HITAM (2019)

Selaku remake (atau reboot) Ratu Ilmu Hitam (1981)-yang mengantarkan almarhumah Suzzanna menyabet Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1982, Kimo Stamboel (DreadOut, Rumah Dara, Killers) kini menampilkan kembali teror ilmu hitam sarat ketakutan, kengerian hingga rasa mual lewat naskah hasil tulisan Joko Anwar (Orang Kaya Baru, Gundala, Perempuan Tanah Jahanam) menghasilkan sebuah sajian horor terbangsat nan biadab sepanjang tahun 2019. Sebuah duet paripurna bagi sebuah sajian membayangkan neraka dunia.

Tanpa mengeliminasi sumber adaptasinya, Joko memberikan sebuah tribut dengan sentuhan modernisasi, kegilaan pula ke-khasan film pendahulunya tetap diterapkan, pun sama dengan karakter Murni-yang tetap digunakan. Bedanya, kali ini karakter tersebut digunakan sebagai kejutan di akhir sebagai twist utama filmnya.

Sebelum mengetahui hal krusial tersebut, kita diajaka terlebih dahulu berkenalan dengan Hanif (Ario Bayu), yang mengajak istrinya, Nadya (Hannah Al Rashid) bersama ketiga buah hatinya, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara JKT48) dan Haqi (Muzakki Ramdhan dalam sebuah penampilan yang paling mencuri perhatian, sebagai seorang anak kecil yang mempunyai rasa ingin tahu lebih lanjut) mengunjungi panti asuhan tempat dirinya dibesarkan.

Turut hadir pula Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) sahabat Hanif-yang juga membawa istri masing-masing, Eva (Imelda Therrine) dan Lina (Salvita Decorte). Kedatangan mereka tak lain untuk menjenguk Pak Bandi (Yayu Unru) si pemilik panti yang kini tengah sakit keras. Semua awalnya terasa aman, sarat nostalgia hingga penuh canda. Kita diajak untuk menyaksikan olok-olok dialog mengasyikkan antara Eva dan Anton, tingkah polos serta celotehan Haqi bahkan karakter Maman (Ade Firman Hakim) dan Siti (Sheila Dara Aisha) dua kawan Hanif-pun ikut kebagian mencuri perhatian lewat satu sekuen pertunjukan ketika mereka larut dalam romantika, setelah awalnya tampak misterius.

Satu-satunya gangguan adalah ketika hendak perjalanan mobil Hanif tak sengaja menuju menabrak seekor rusa. Merasa janggal, ia mengajak Jefri untuk menyantroni tempat tersebut-yang kemudian menjadi sebuah pembuka bagi gelaran teror demi teror yang hendak menerpa. Perlahan tapi pasti, masing-masing karakter akan merasakannya, menampilkan sebuah kesenangan pula ketakutan tersendiri saat menyaksikannya.

Ratu Ilmu Hitam memang naskah Joko-yang lugas-meski ampuh memainkan atensi. Penonton di bawa untuk menebak sebelum ia kembali belokkan, namun tak berujung sebuah kekecewaan. Pasalnya, ketika salah satu tokoh mulai terendus kemisteriusannya, Joko kembali membuka sebuah fatwa kebenaran yang menambah bobot penceritaan, membuat sebuah perjalan menyenangkan.

Ya, sama menyenangkannya saat menyaksikan membayangkan para karakternya-yang mendobrak batas, mengingat ketabuan dan melipatgandakan kengerian. Kimo menyentuh ranah-yang jarang dijamah para sineas kita dalam menghasilkan sebuah teror, di mana bukan jumpscare-yang dikedepankan melainkan pemandangan mengerikan-yang merujuk pada sebuah fobia (beberapa dimiliki para karakternya). Sebutlah munculnya kelabang yang menyerang atau punggung berlubang (yang merupakan ketakutan terbesar saya bagi penderita trypophobia seperti saya).

Tak hanya menyentuh ranah body-horror, Kimo juga mengajak kita untuk menengok sudut demi sudut neraka-di mana teriakan hingga mengubur manusia tercipta, sebuah ketidakberdayaan dari memeras yang tak pernah terbayangkan. Hingga kala sosok Ratu Ilmu Hitam ditampilkan, kebodohan bertumpuk ketegangan tercipta, meski saya sadar betul kelak sang protagonis utama akan menemukan sebuah jalan keluar-yang mana saya kira sebuah penebusan setimpal.

Dari sini naskah garapan Joko terlampau mudah untuk mengkahiri semuanya, bukan berarti buruk, melainkan tak mampu mengungguli atau bahakan menyeimbangkan sebuah parade sinting sebelumnya. Namun, pasca sebuah ketakutan, penyiksaan hingga kebiadaban dalam level bangsat yang ditampilkan, itu semua tampak seperti sebuah coretan kecil yang tak sebanding dengan banyaknya rasa ngeri, ngilu bahkan mual yang dirasakan. Ratu Ilmu Hitam menampilkan semuanya dalam level yang sekali lagi menyenangkan.

 

 

Naskah Joko mungkin terlalu banyak menampilkan karakter, bahkan saya belum menyebut Hasbi (Giulio Parengkuan) dan Rani (Shenina Cinnamon) duan anak panti yang bertugas mengurus Pak Bandi-hingga karakter anak panti yang dimainkan Gisellma Firmansyah dalam salah satu sekuen mengejutkan. Tentu, hal ini disengaja demi menciptakan sebuah keajaiban variatif di tengah petunjuk sebagai seorang dalang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Beruntung, kehadiran mereka tak berlomba mencuri layar saat Kimo membagi-rata masing-masing karakter-guna mendapatkan sebuah siksa-yang sama besarnya.

Saya pernah menyebut Kimo butuh sebuah penceritaan handal, Joko memfasilitasi keinginan tersebut dalam Ratu Ilmu Hitam, naskah Joko perlahan membuka tabir misteri secara perlahan dan kemudian menampilkan sebuah akselerasi pencapaian yang tak tertahan. Seperti biasa, Joko kerap menebar sebuah petunjuk dalam barisan dialognya, tak terkecuali di sini. Sudahkah Anda menemukan pesan terkait kekuatan wanita hingga karakter LGBT di sini?


CHHICHHORE (2019)

 CHHICHHORE (2019)

Chhichhore (Flippant) membawakan pengisahan terkait kehidupan, terutama bagi mereka yang telah melakukan usaha dan berakhir pada sebuah kegagalan. Seberapa kuat kita menyembunyikan dan menguburnya rapat-rapat kerap kita lakukan dari kehidupan, karena pada akhirnya sebuah "kegagalan" merupakan "coretan" yang menghambat laju kehidupan. Pemikiran pula kondisi tersebut kerap kita lakukan, sehingga sulit untuk mengakui bahkan menganggukan kepala ketika Chhichhore berbicara.

Disutradarai oleh Nitesh Tiwari (Chillar Party, Bhoothnath Returns, Dangal) Chhichhore membagi pengisahan dalam dua lini masa. Annu (Sushant Singh Rajput) tengah menikmati kehidupannya sambil menunggu hasil tes sang putera, Raghav (Mohammad Samad)-yang ia yakin akan lolos. Sampanye sebagai bukti perayaan telah ia siapkan-meski Raghav acap kali menolak sebelum melihat hasilnya. Malang bagi Raghav, hasil tes yang ia nantikan berakhir kegagalan. Putus asa karena tak seperti kedua orang tua-yang selalu behasil, Raghav kemudian melompat dari balkon, sebelum cap "pecundang" ia terima.

Keputusan Raghav memukul hati Anni pula sang mantan istri, Maya (Shraddha Kapoor)-yang menurutnya-Annu terlampau memberikan tekanan terhadap sang putera. Berangkat dari kejadian itu, Anni kemudian membuka kembali lembaran foto, mengingat perjuangannya ketika di asrama kampus, menceritakan sebuah nilai kehidupan kepada sang putera-sembari menanti sebuah keajaiban medis datang.

Dari sana pula, cerita tentang Sexa (Varun Sharma) si hiperseksual, Acid (Naveen Polishetty) si muka "asam" yang mudah marah, Bevda (Saharsh Kumar) si pemabuk, Mummy (Tushar Pandey) si "anak mami" hingga "sang bapak" Derek (Tahir Raj Bhasin) hadir-menghibur terkait hati Raghav-meski sebaliknya. Annu kemudian menghubungi kembali geng "Losers" yang terjalin di asrama Hostel 4 "H4", mengadakan sebuah reuni sambil kembali membuka napak tilas kehidupan yang pernah dilalui.

merangkap sebagai penulis naskah membaurkan dua lini masa secara rapi, menghadirkan sebuah tautan-yang saling terjalin satu sama lain-di mana sebuah benang merah kisahnya saling terjalin satu sama lain. Ini seperti sebuah percakapan intim orang tua sebagai alumni kehidupan kepada anaknya sebagai calon penyusong masa depan.

Meski bermain di ranah drama, Chhichhore berhasil pula mengundang gelak tawa, di mana masa-masa selama hidup di asrama memberikan sebuah kesenangan terhadap sebuah kenangan. Kedekatan para geng “Losers” begitu membumi-mencuri perhatian dengan tingkah pula ciri khas-nya masing-masing, membuat saya kembali mengingat masa-masa bersama sahabat tercinta lengkap dengan tingkah bodoh pula kejenakaan miliknya. Chhichhore kembali berjasa menghadirkan sebuah "kapsul waktu" yang benar-benar nyata adanya.

Semakin kompleks kala Chhichhore tak sebatas menyampaikan pesan, melainkan juga menerapkan-yang kemudian menjadi motivasi utamanya untuk beergerak membersihkan cap "pecundang" terhadap siswa asrama H4 yang kian berserak. Anni menjadi penggerak pemikiran para anggota, di mana sebuah kejuaran olahraga tahunan-adalah jalan keluar bagi mereka melepaskan segala sesuatunya dan keterpurukan. Apalagi kehadiran Raggie (Prateik Babbar) si anak asrama H3-sang pemborong kejuaran-menjadi saingan sekaligus tantangan bagi mereka untuk membuktikan.

Menyelenggarakan beragam pertandingan cabang olahraga di tampilkan dengan penuh kejenakaan melalui akal bulus curang para anggota asrama H3, meski sulit untuk dibenarkan namun mudah untuk dipahami intensitasnya. Apalagi ini meliputi harga diri pula sebuah pembuktian menghempaskan keseluruhan. Nitesh Tiwari kembali mencuri perhatian lewat eksekusinya-kala momen olahraga-yang notabene-nya ditampilkan cukup berat mampu terhantar begitu menyenangkan.

Beruntung pula Chhichhore disokong tampil para pelakon yang tampil solid dalam bermain adegan, terutama momen olok-olok kalimat-yang menyenangkan untuk disimak. Gelar MVP (Most Valuable Performance) mungkin tak jatuh ditangan Sushant Singh Rajput maupun Shraddha Kappor atau bahkan Tahir Raj Bhasin sebagai penggerak drama, kecuali trio Varun-Tushar-Naveen yang selalu mengundang gelak tawa lewat ciri khas miliknya, melihat ekspresi dan olok-olok kalimat mereka bak memperoleh sebuah kebahagiaan tersendiri.

Seperti yang telah saya singgung, Chhichhore dengan mulus melakukan transisi adegan maupun peralihan lini masa-hingga kala Tiwari kembali menampilkan drama suguhan, semuanya begitu terasa. Entah lewat guliran dialog penuh makna maupun hasil luapan emosi karakternya, Chhichhore selalu berhasil mengundang emosi tak tertahan maupun luapan tangis sebagai bentuk penghargaan atas sebuah penyesalan.
Meskipun saya sangat menyyangkan tempelan make-up pada riasan karakternya-yang kentara terlihat tak sepadan kala karakternya memerankan karakter dewasa atau lebih tepatnya orang tua, keengganan Chhichhore yang tak menghadirkan dua generasi pemain mungkin membuktikan-meski hasil akhirnya mampu mengeliminasi hal itu. Terlebih kala Chhichhore ikut memperhatikan tata artistik, lewat iringan musik dari Pritam serta bidikan kamera Amalendu Chowdhary-yang menghadirkan sebuah montase sarat makna (petunjuk: terjadi menjelang ending) yang menjadi favorit saya, di samping Chhichhore adalah sebuah sajian yang benar-benar nyata adanya.


Sabtu, 30 Agustus 2025

PORTALS (2019)

PORTALS (2019)


Benar. Sebuah niatan berupa pemikiran dasar sebuah cerita tidak juga mengangkat derajat filmnya, Portal yang merupakan omnibus hasil kerjasama empat negara (termasuk Indonesia) membuktikan hal itu. Kala sebuah pemikiran pembohong berupa sebuah ide dasar-dengan latah dijadikan sebuah bahan utama. Alhasil terciptalah sebuah sajian mentah-yang sama sekali tak menggugah.
Premisnya sendiri mengenai sebuah percobaan pembuatan lubang hitam oleh para ilmuwan-yang berakhir terciptanya sebuah gangguan kosmik berupa pemadaman listrik di dunia. Selama 24 jam lamanya, sebuah portal misterius hadir, menimbulkan sebuah ketakutan pula kemisteriusan tersendiri. Dari sini Portals membagi premis tersebut ke dalam empat cerita babak-yang masing-masing dipicu hadirnya sebuah portal. 
Garapan The Other Side Liam O'Donnel (Skyline, Beyond Skyline) mengetengahkan seorang keluarga yang dipimpin oleh Adam (Neil Hopkins) yang berencana berlibur. Malang, dalam perjalanan, Adam menabrak sebuah portal-yang kemudian membuatnya dibawa ke rumah sakit, di mana Dr. Leslie (Deanna Russo) dan Dr. Markonen (Ptolemy Slocum) memeriksanya. Harus diakui, O'Donnel membuka filmnya dengan cukup menjanjikan, kala ketidaktahuan Adam akhirnya menyibak sebuah misteri yang menimpa dirinya dan keluarganya. Sayang, The Other Side urung menampilkan sebuah metode yang menjanjikan, di mana proses karakternya menyibak sebuah kejadian tampil datar, sarat unsur futuristik namun lemah dalam penyajiannya.
Garapan Call Center Eduardo Sanchez (The Blair Witch Project, V/H/S/2) berpotensi tampil mencekam sebagai horor berlatar sempit, menjadikan kantor sebagai pusat tertumpahnya darah kala Stan (Paul McCarthy-Boyington) memaksa para staf untuk masuk ke dalam portal. Andai Sanchez melipatgandakan nuansa teror pula cipratan darah, Call Center akan tampil lebih baik alih-alih berakhir anti-klimaks sarat keambiguan-yang gagal meraih atensi.
Sarah garapan Timo Tjahjanto (Sebelum Iblis Menjemput, The Night Comes For Us) menjadi segmen terbaik yang dimiliki Portals-meski tak tersaji sedemikian kompleks, Timo paham betul bagaimana bermain dalam keadan chaos, menggunakan basement/atau tempat parkir sebagai tempat terjadinya teror gila para pengunjung-yang hendak membunuh Sarah (Salvita Decorte) dan saudaranya, Jill (Natasha Gott). Sarah adalah satu-satunya segmen yang mempunyai narasi cukup kuat, latar belakang karakternya dijadikan sebagai penyulut rasa takut di tengah nuansa atmosferik yang Timo tampilkan.
Call Center Part 2 a.ka The End garapan Gregg Hale (V/H/S/2) menjadi penutup paling singkat sekaligus cerita paling simpel, mengetengahkan proses percobaan transmisi terhadap portal yang dilakukan oleh dua fisikawan, Anna (Georgina Blackledge) dan James (Dare Emmanuel). Segmen ini menampilkan dialog padat-meski yang diungkapkan acap kali terdengar, klimaksnya tampil mengejutkan meski intensitas ketiadaan jelas menghalangi penyampaiannya.
Secara keseluruhan, Portals adalah sebuah percobaan yang dapat dikembangkan lebih baik lagi danai kompetensi terkait naskah di gali lebih dalam, tak hanya sebatas mengetengahkan eksekusi kecocokanologi-yang dangkal dengan penyederhanaan yang kerap dilakukan. Pun, ini yang menimpa gelaran gore yang tampil malu-malu alias tanggung.

HOT SUMMER NIGHTS (2017)

HOT SUMMER NIGHTS (2017)

Bercerita perihal kejadian musim panas yang dilakukan para remaja, mudah untuk menyebut Hot Summer Nights sebagai sebuah sajian drama coming-of-age sederhana, namun-penyutradaraan perdana Elijah Bynum (turut merangkap sebagai penulis naskah) ini mempunyai cukup daya guna menampilkan sebuah tuturan proses pencarian jati diri serta makna hidup sebuah kejadian di malam penuh peristiwa di liburan musim panas.

Protagonis utama kita bernama Daniel Middleton (Timothée Chalamet) yang dikirim oleh sang ibu untuk menghabiskan liburan musim panas di rumah sang nenek di Cape Cod. Daniel adalah tipikal remaja introvert-yang semula menolak menghabiskan musim panas demi berdiam diri di kamar, hingga saat ia mencoba melangkahkan kaki menuju sebuah pesta yang menegangkan untuk berkomunikasi pun di dapat.

Pertemuan berbasis membantu menyembunyikan ganja milik Hunter Strawberry (Alex Roe) di kasir minmarket yang berubah untuk memaknai musim panas. Hunter adalah sosok pria idaman-yang digilai wanita, jago bertarung bahkan membunuh seseorang pun ia lakukan. Ia menjadi pusat perhatian saat memasuki pesta, pusat perbincangan para remaja tentang keperkasaannya memiliki penis berukuran 11 inchi. sama seperti membayangkan remaja yang haus akan menjadi pusat perhatian, menjadi/atau berteman dengan Hunter adalah sebuah mimpi. Pun demikian yang dilakukan oleh Daniel.

Kedekatan Hunter dan Daniel membuatnya menjadi rekan bisnis penjualan ganja, membawa mereka ke gelimang pula harta tahta. Bisnis mereka semakin hari semakin menghasilkan sebuah keuntungan yang besar. Ini kemudian menjadikan seorang Daniel berani mencium McKayla (Maika Monroe) di depan sang pacarnya. McKayla adalah sosok wanita idaman-yang membuat seseorang rela untuk menguntit demi menikmati kemolekan tubuhnya atau bahkan mengunyah permen karet bekas miliknya.

Konflik utama Hot Summer Nights adalah polemik seorang Daniel untuk mencintai McKayla-yang merupakan adik kandung Hunter. Meskipun komunikasi keduanya berjalan baik pasca kematian sang ibu, Hunter melarang keras atau bahkan akan membunuh Daniel jika mendekati McKayla. Gambaran ini memberikan sebuah relevansi dalam kehidupan nyata, bahwa seburuk apapun pandangan sang adik terhadap sang kakak atau bahkan tak mulusnya hubungan keduanya, kecintaan terhadap keluarga (yang kadang ditunjukan dengan larangan atau bahkan kekangan) adalah prioritas utama. 

Itulah mengapa Hot Summer Nights dapat diterima, kala penceritaan Bynum begitu dekat dengan realita. Meski poin terkait tindakan kriminalitas tidak cukup membantu dalam menghasilkan sebuah penebusan setimpal, setidaknya Bynum paham betul bagaimana menjadikan elemen tersebut sebagai pemantik alih-alih sebatas pelengkap. Keputusan ini bisa diterima-meski penyelesaian terhadap konklusi tak seberapa berdampak, ini terjadi ketidaktepatan narasi guna mengakhiri pengisahannya.

Meski demikian, dampak pasca menonton masih dapat terasa, terlebih kala Bynum menjadikan satu malam penuh tekanan di tengah badai datang. Sekilas, keduanya memberikan sebuah makna yang beriringan di tengah kejadian meski sebuah kausalitas tak sepenuhnya terasa.

Lagi pula ini adalah pertikaian permasalahan remaja-yang kebanyakan tak cukup, hingga ketika Hot Summer Nights terlampau mudah mengakhiri cerita polemik remaja yang masuk ke dalam ruang durjana-setidaknya dapat dengan mudah diterima. Timothée Chalamet berjasa menampilkan kecanggungan remaja di samping tutunan sebuah degradasi emosi sepanjang situasi berubah. Alex Roe sempurna menampilkan sosok penuh kharisma di tengah keputusan yang tak segan menghilangkan nyawa. Sementara Maika Monroe adalah gadis populer dengan setumpuk derita yang ia tutupi dengan tampilan luarnya.

Ditemani iringan musik otentik bernuansa 90-an hasil olahan Will Bates, Hot Summer Nights kian tampil bernyawa dalam tuturan neo-noir remaja yang penuh akan cerita. Keputusan dalam memasukan kolase gambar berupa cerita kejadian pun memberikan bobot tersendiri kala kebanyakan sebuah epilog kekurangan nyawa dalam menampilkannya. Hingga Hot Summer Nights ditutup dengan sebuah tampilan mengenai "the art of leting go" tuturannya begitu terasa.


VODKA DIARIES (2018)

VODKA DIARIES (2018)

Sebagai thriller berbasis whodunit, Vodka Diaries tampil dengan world building yang meyakinkan-berbekal tampil konsisten menelaah pertanyaan 5W1H. Misteri di sibak perlahan oleh sutradara debutan Kushal Srivastava berdasar naskah hasil pemikiran Vaibhav Bajpai-yang juga pertama kali menulis naskah. Bajpai amat terinspirasi oleh Shutter Island-nya Martin Scorsese dalam mengembangkan cerita, itu bukanlah sebuah dosa pula tak haram hukumnya selama penceritaannya tersaji seperti aslinya. Sayang, kegemaran Bajpai terhadap karya Scorsese menghantarkan Vodka Diaries pada titik terendah filmnya seputar penebusan-yang tak setimpal atau dengan kata lain terlampau cethek.

Park Your Demons in the Dark, demikian ucap salah satu karakter yang dimainkan oleh Raima Sen sebagai Roshni Banerjee kepada protagonis utama kita, ACP Ashwini Dixit (Kay Kay Menon) yang tengah menyelidiki pula melakukan penyelidikan terhadap serangkaian pembunuhan di Manali-yang menimpa tiga orang pria pula tiga orang wanita dalam kematian yang misterius. Vodka Diaries disinyalir sebagai pusat terjadinya pembunuhan tersebut. Bersama sang rekan, Ankit Dayal (Sharib Hashmi), ACP Ashwini Dixit memecahkan misteri terkait dalang di balik pembunuhan tersebut. Pada saat itu juga, sang isteri, Shikha (Mandira Bedi) tiba-tiba menghilang.

Meski paruh pertama tampil sesuai prosedur, Vodka Diaries tampil cukup menjemukan saat membuka guliran penceritaan, di isi oleh perkenalan karakter-yang daripada memberikan pencerahan alih-alih tampil cukup menggelikan lewat barisan dialog (sok) puitis yang dilontarkan Shikha (dia seorang penulis) yang bak kumpulan kalimat di rajut secara paksa-demi terciptanya sebuah hasil rangkaian kata yang tak mempunyai makna. Beruntung, momen tersebut tampil sebentar di tengah Srivastava mulai banting setir menghadirkan sebuah petunjuk penghantar kejadian sebenarnya.

Harus diakui, penebaran benih tersebut menghasilkan sebuah sinkronasi penyelidikan cerita-yang hendak kita menebak arah kebenarannya-meski acap kali terkendala perihal penempatan timing sempurna bagi pengadeganannya yang bak asal tempel-yang contohnya masih bisa Dipahami. Setidaknya, keriuhan bar tempat pesta pora pula penjelajahan tak terduga memberikan sebuah sentuhan yang masih bisa dipatenkan-di tengah karakterisasi si protagonis utama yang terkadangkala tampil menyebalkan.

Kay Kay Menon boleh saja memberikan nyawa terhadap karakternya-yang dilanda kesusahan, namun naskah tak memberikan banyak nyawa untuk tampil mengesankan. Ini akibat dari penulisan Bajpai-yang sengaja menyimpannya sebagai twist utama filmnya-yang terlampau boros menjawab pertanyaan di penghujung cerita daripada memberikan sebuah sentuhan sebagai proses menuju sebuah gerbang kebenaran.

Meski sempat dilakukan, Vodka Diaries tekendala perihal penyusunan berbalut misteri yang tak terelakkan, kehadiran karakter yang memainkan sebuah karakterisasi bermuka dua gagal memberikan sumbangsih sempurna akibat ketiadaan performa yang meyakinkan. Alhasil, saat mereka menampilkan opsi tersebut, kecanggungan di dapat-yang kemudian ikut di amini oleh eksekusi kebanyakan filmnya. 

Meskipun demikian, bentangan alam yang menangkapnya begitu cantik oleh Maneesh Chandra Bhatt, sinematografer yang paham betul bagaimana menampilkan sebuah pemandangan yang meyakinkan, contohnya adalah ketika Bhatt menangkap gambar menggunakan drone ketika Ashwini Dixit berlari di kemiringan salju, momen tersebut memberikan nyawa tersendiri terkait keindahan pengalaman sinematik.
Vodka Diaries memang bermasalah. Paruh pertama menawarkan sebuah janji terhadap imaji-yang juga tersaji mengingkari sebuah introduksi. Sungguh inspirasi yang tidak terwakili.

7 DAYS (2018)

7 DAYS (2018)

7 Days sebagai karya keempat Panjapong Kongkanoy (Shambala, The Rooms, The Moment) mempunyai premis seputar menghargai memori pula memanfaatkan waktu sebelum menghabiskan waktu itu dalam sebuah hubungan percintaan. Tentu, intisari tersebut akan disibak ketika filmnya berakhir. Sementara pada proses eksekusinya Kongkanoy memanfaatkan ketidaktahuan penonton-yang mana ini adalah sebuah keharusan yang kemudian dienyahkan. Hasilnya adalah berakhirnya batin ketika kita mulai meraba proses introduksi-yang tercapainya keberhasilan ia tebus ketika mendekati konklusi.

Ya, ketidaktahuan kita sama seperti apa yang karakter utama kita rasakan, ketika Meen (Nittha Jirayungyurn) sulit untuk menghubungi keberadaan sang kekasih, Tan (Kan Kanthavorn) pasca sebuah pertengkaran antar keduanya. Tanpa diketahui Meen, Tan rupanya selalu berada di dekat Meen, setidaknya ia selalu bersamanya dan mendapati ponselnya berdering meski di tubuh lain yang berbeda. Ya, 7 Hari mengetengahkan sebuah jiwa yang mendapati dirinya selalu terbangun dalam tubuh yang berbeda setiap harinya, selama tujuh hari berturut-turut.

Tak mudah untuk Meen menyadari bahwa orang lain yang berada di perkebunan adalah Tan. Momen ini dijadikan Kongkanoy sebagai sebuah prosa filtrasi terhadap memori-di mana-di tiap Tan berganti tubuh, selalu ada sebuah kata yang mewakili frase bagi kehidupan Meen (passion, dream, soul, mind) yang disampaikan oleh orang terdekat atau bahkan yang pernah mereka lihat bersama, seperti kala Tan berada di tubuh seorang pria gay bernama Giorgio (Lawrence de Stefano) hingga tubuh sang rekan sesama koki (Ananda Everingham).

7 Hari meleburkan batas pula persyaratan penglihatan hingga pemikiran tentang sebuah hubungan. Bahwa sebuah hubungan bukan hanya perihal mengenai kontraksi rasa, melainkan juga melibatkan sebuah tempat hingga orang-orang sekitar yang memberikan warna bagi sebuah kenangan yang akan selalu di ingat. Pesan ini sejatinya sampai dengan tepat, bahkan berpotensi menusuk perasaan-andai juga dibarengi persentasi sempurna bagi filmnya.

Permasalahan yang menghalangi lajur penceritaan 7 Hari ialah pondasi filmnya-yang terkadang kurang berimbang. Dalam prosesnya, terdapat karakter baru yang hendak menghantarkan sebuah pesan seorang Tan terhadap Meen, ketidakberimbangan inilah yang menjadi kendala kala kehadiran seseorang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi perasaan Meen begitupun sebaliknya. Pun, Kongkanoy menebarkan beberapa humor yang bernasib sama seperti hasil eksekusinya, yakni tabrak-dan-melewatkan.

Hingga saat konklusi tiba, dampak yang dihasilkan tidak terasa sepenuhnya. Ya, saya menitikan air mata ketika menemukan sebuah kejutan yang dihantarkan filmnya-meski tak sampai banjir air mata sebagaimana yang diharapkan. Berkat pembawaan penuh sensibilitas pula emosi mengoyak perasaan seorang Nittha Jirayungyurn momen tersebut terasa nyata-di tengah kekurangan porsi dalam menghadirkan sebuah jalinan chemistry bersama Kan Kanthavorn-yang mencakup masih bisa terasa.

Pun, dalam memandang sebuah makanan, jalur bersebrangan pun menimpa, termasuk perbedaan persepsi antara Tan (seorang koki) dan Meen (kritikus masakan). Apabila Tan gemar bereksperimen, lain halnya dengan Meen yang menurut aturan buku teks. Pun dalam kehidupan, Tan ingin melanglang buana sementara Meen ingin berada di zona nyaman. 7 Days mungkin gagal membentuk sebuah jalinan sempurna kehidupan-namun berhasil mewakili keduanya, daripada memilih maupun mengalah, 7 Days merangkul aspek kehidupan yang berbeda guna mencipatakan sebuah aspek terpenting dalam kehidupan: perjalanan berharga.


CREED (2015)

CREED (2015)

Sebagai spin-off sekaligus sekuel bagi film-film "Rocky", Creed memang enggan menutupi kenyataan bahwa formula klasik macam from zero to hero masih bisa tampil mengesankan selama si pembuat paham dan cinta terhadap materi utamanya. Ryan Coogler (Fruitvale Station) adalah salah satu sutradara yang memiliki hal tersebut. Creed adalah sebuah bukti nyata sebuah film spin-off maupun sekuel harusnya di buat, memiliki semangat sang pendahulunya tanpa menolak lupa dan selalu setia terhadap sumber aslinya. 

Tokoh utama kita adalah Adonis Johnson (Michael B. Jordan), putera dari Apollo Creed yang baru lahir pasca kematian sang ayah. Meski tak saling kenal maupun dekat, Adonis mewarisi sifat sang ayah, semenjak kecil ia sering berkelahi-hingga tak salah jika tinju adalah mimpi terbesarnya. Ia bahkan memilih keluar dari kantor tempat ia bekerja pula pindah ke Philadelpia demi fokus bertinju, berharap mendapatkan pelatihan khusus dari rival Rocky Balboa (Sylvester Stallone) sekaligus sahabat sang ayah. Semula, Rocky menolak untuk melatih Adonis-namun ia menyetujuinya dengan tujuan membimbing Adonis demi memberikan sebuah "makna" terhadap tinju pula lepas dari bayang-bayang sang ayah.

Naskah garapan menyanyikan sutradara bersama Aaron Covington paham betul bagaimana membentuk sebuah cerita yang kompleks. Creed tak hanya sebatas mengulang sekaligus memberikan nostalgia kepada penggemar serial Rocky yang berjaya pada masanya, melainkan memberikan sebuah ciri khas tersendiri di balik arena tinju yang menjadi Saksi. Dengan demikian, mudah menyebut Creed sebagai sebuah tontonan yang di susun dengan hati pula akhirnya mencuri perhatian.

Ya, perhelatan pertandingan tinju memang di tampilkan-meski tersusun atas dua pertandingan. Namun, pertanyaannya bukan tentang seberapa sering pertandingan itu ditampilkan, tetapi seberapa banyak "makna" dari sebuah pertandingan pula perjalanan karakternya. Coogler menekan opsi tersebut secara kuat nan mengikat, hingga ketika kulminasi menjelang akhir di tampilkan, sulit untuk tak menolak bahwa Creed tampil memuaskan.

Terlepas dari seberapa dasar formula yang diterapkan, Creed pun ikut memasukkan elemen romansa berupa hubungan Adonis dengan Bianca (Tessa Thompson) tetangga sekaligus penyanyi-penulis lagu yang berhasil memikat hati Adonis. Dalam pemanfaatannya, Coogler enggan untuk mengeksploitasi hubungan mereka dengan sebuah elemen sarat dramatisasi, melainkan mengedepankan sebuah motivasi terhadap perjuangan sang karakter. Bukankah wujud cinta yang sebenarnya ialah selalu memberikan motivasi bagi sosok tercinta?

 Mengatasi konflik yang di alami Adonis begitu manusiawi namun kompleks. Adonis tetap menyaksikan bahkan menyaksikan sosok sang ayah. Kematian terbesar adalah ia takut terbebani nama besar Apollo Creed-yang bisa saja saban kali berakhir pada sebuah mengecewakan atas nama tersebut. Itulah sebabnya ia enggan memakai nama Creed sebagai nama panggung. 

Pujian terbesar mungkin tak di emban oleh Michael B. Jordan sebagai pemeran utama (meski kharisma serta performa kuat yang ia miliki) namun berasal dari seorang Sylvester Stallone-yang kali ini membuktikan bahwa aktor gaek juga bisa tampil mencuri perhatian. Stallone selalu memberikan nyawanya kepada Rocky-yang kini tak se-prima dan se-jaya dahulu. Bertambahnya pula umur berubahnya kehidupan membuat seorang Rocky selalu berdiri tegak, memandang kehidupan dengan positif bahkan kala ia memberikan petuah (atau lebih tepatnya pengalaman) terhadap Adonis auranya terpancar dengan membungkuk kuat yang selalu ia berikan sebagai sebuah semangat.

Puncaknya adalah sebuah pertandingan sebagai sebuah pembuktian. Coogler merangkai pula menghidupkan kembali momen pertandingan tinju kaya esensi-jika ditilik dari segi filmis maupun teknis. Jika pertandingan pertama ia mengajak penonton untuk menonton secara langsung seorang Adonis, maka pertandingan kedua iakan dalam bentuk tampilan kursi penonton sementara layar televisi mengumpulkan pertandingan-yang juga menjadi media penyalur dukungan bagi sosok tercinta yang tak terlihat, ini tentu berasal dari Mary Anne (Phylicia Rashad) pengasuh yang selalu tampil memberikan cinta dan kasih sayang terhadap Adonis.

Pertandingan penyulut atensi tersebut semakin kuat kala scoring gubahan Ludwig Göransson menemani, baik itu berupa dentuman lonceng maupun pekikan sarung tinju yang mendarat di tubuh kentara memberikan sebuah efek surealitas sempurna-membentuk sebuah pertandingan paripurna. Ini bukan perkara siapa yang menang atau kalah, melainkan bagaimana sebuah kerja keras dan tekad yang di buktikan. Creed menampilkan hal demikian sebagai sebuah pemaknaan-di samping hati saya juga yang ia berhasil menangkan.

GRINGO (2018)

GRINGO (2018)

Sebagai sajian dark comedy, sutradara Gringo garapan Nash Edgerton (The Square) memantik isu seputar rasisme hingga seksisme-yang kerap diiringi sarkasme. Bahkan, secara tersirat naskah hasil tulisan Anthony Tambakis dan Matthew Stone (juga sebagai pemilik ide cerita) terang-terangan mengkritisi kebijakan Trump terkait pembangunan tembok pembatas di wilayah perbatasan San Diego. Pun secara tersurat, protagonis utama yang bernama Harold Soyinka (David Oyelowo) seolah menunjukkan sifat asli para pemilik kulit hitam yang digambarkan sebagai seorang yang berpikiran lurus, meskipun ia mengungkapkan mengungkapkan sana-sini.

“Jika Anda datang ke Amerika dan mengikuti aturan, hal-hal baik akan terjadi” demikian prinsip yang selalu diterapkan Harold. Ketika tuntutan pekerjaan memaksanya untuk pergi dari Chicago ke Meksiko mengiringi sang atasan sekaligus teman karib semasa kuliahnya, Richard Rusk (Joel Edgerton) bersama Elaine Markinson (Charlize Theron) rekan bisnis sekaligus wanita pemuas hasrat Richard-untuk mendatangi sang manejer lab, Sanchez (Hernán Mendoza) guna menghentikan pasokan pil berbahan ganja kepada Black Panther (Carlos Corona) si mafia sadis. Malang bagi Harlod, ia menyadari bahwa kebaikan Rusk ternyata sebuah kepalsuan-yang kemudian bermaksud akan memecatnya.

Harold kemudian membuat sebuah skenario pemutaran dirinya guna menggertak Rusk pula Elaine. Skenario yang semula sebuah kepalsuan ternyata menjadikan Harold sebagai sosok incaran yang diinginkan. Incaran terbesar datang dari Black Panther yang mengira Harold adalah sang bos utama, sementara orang seperti Gonzales bersaudara (Diego Catano dan Rodrigo Corea) hingga Mitch Rusk (Sharlto Copley) adik Richard-yang seorang pembunuh bayaran menggunakan kesempatan langka demi mendapat sejumlah uang.

Dari sini persona Gringo keluar, kala sosok kepercayaan hingga orang terdekat, termasuk sang istri, Bonnie (Thandie Newton) yang berselingkuh dengan sang rekan, seketika melecut prinsip yang selalu diterapkan Harold dalam memandang kehidupan. Nash menghadirkan sebuah ironi terkait kehidupan-yang tak sesuai dengan ekspetasi. Namun, dalam tuturannya, Edgerton tak lantas memukul rata, masih ada Sunny (Amanda Seyfried) yang berhati mulia dan berakhir bernasib sama seperti Harold, ia dijadikan sebagai alat penutup kejahatan sang kekasih Miles (Harry Treadaway) si penyuplai narkoba-yang menggunakan kedok liburan terhadap Sunny.

Gringo menyimpan setumpuk relevansi pula pembelaan terkait bangsa negro-yang kerap terasingkan. Dalam eksekusinya, Edgerton memanfaatkan "kedok kejahatan" sebagai sebuah twist tak terduga-yang kemudian semuanya berpusat pada Harold, si kunci utama. Meski kerap tak berimbang dalam membagi porsi (keberadaan Miles dan Sunny harus mengalami kekurangan eksplorasi dan motivasi) benang merah Gringo sejatinya masih terasa, terjaga di samping presentasi tak merata.

Kekuatan utama Gringo terletak pada barisan dialog yang secara tak langsung melayangkan sebuah kritikan tajam, termasuk lontaran barisan dialog bernada sarkastis yang dilontarkan Charlize Theron-yang sempurna memerankan sosok rasisme pula perawakan seksi sebagai penggoda birahi. Puncak performa Theron bisa anda saksikan ketika sebuah sekuen menampilkannya berbicara kesal di depan spion mobil-yang pada momen ini juga menciptakan sebuah sinematik teknis berupa pengadeganan kamera Eduard Grau (Buried, The Gift, Boy Erased) dalam merangkai sebuah mise-en-scène.

Pun jajaran pemain lainnya turut berjasa menampilkan sebuah performa apik, termasuk David Oyelowo yang mampu melontarkan dialog menggelitik tepat sasaran, sementara Sharlto Copley mencuri perhatian lewat tingkahnya yang terkadang tampil di luar dugaan. Gringo adalah sebuah panggung bagi olok-olok kalimat menarik yang terlontar sedemikian nyentrik. 

Bukannya tanpa cela, Gringo harus menginjak batu sandungan kala Edgerton merangkai sebuah aksi-yang menciptakan sebuah kesenangan tersendiri pula konsekuensi terkait sebuah penyederhanaan. Edgerton bak terburu-buru mengakhiri penceritaan seolah-olah kerumitan bagaiman memanjangkan adegan. Alhasil, impresi yang semuala terasa kian mengendor seketika-meski tak sampai menghilangkan aspek utama.

Meskipun demikian, Gringo yang merupakan sebuah derogatori (pengungkapan pelanggaran atau teguran) masih bisa mengangkat derajat filmnya dalam upaya melontarkan sebuah kritikan dalam sistem kebijakan-yang mana acap kali kurang seimbang di tengah beragam petisi kerap diperbolehkan.

MELODYLAN (2019)

MELODYLAN (2019)

Diangkat dari tulisan Wattpad-yang kemudian dijadikan novel oleh Asri Aci, MeloDylan tampil serupa film romansa putih abu-abu kebanyakan, mengetengahkan romansa (sok) dewasa-yang menurut remaja kebanyakan adalah sebuah romansa kompleks. Dalam MeloDylan, bukan cinta segitiga-yang ditawarkan, melainkan kisah cinta segiempat.

Melody (Aisyah Aqilah) seorang anak baru, menyulut kehebohan seisi sekolah pasca sebuah kabar menyatakan bahwa ia diantar pulang oleh Dylan (Devano Danendra), si cowok populer sekaligus idola para wanita. Sayang, si pria hanya mencintai Bella (Zoe Abbas Jackson) teman masa kecilnya yang sakit-sakitan. Di sisi lain, Bella sudah lama memendam perasaan terhadap Fathur (Angga Yunanda), si cowok berkacamata yang rupanya mencintai Melody.

Selanjutnya, MeloDylan bergerak pada sebuah perjuangan karakternya menghadapi cinta yang melingkar di sebelah tangan. Romansanya tampil episodik, di mana skrip garapan Endik Koeswoyo (Me & You vs The World, Erau Kota Raja) bak kepingan halaman novel, mempersentasikan semuanya tanpa memilah sisi subtansial, alhasil terjadilah perpindahan adegan kasar nan tak beraturan.

MeloDylan juga mengetengahkan soal “move on”. Mulai dari Melody yang dikhianati sang pacar, pula Dylan yang merasa cintanya tak berbalas. Naskahnya lalai menjabarkan sebuah proses, mengingat move on sendiri membutuhkan proses. Alhasil kala Dylan mengaku mencintai Melody di depan Bella menimbulkan sebuah pertanyaan terkait alasan mengapa ia mencintai Melody begitu cepat di tengah cintanya terhadap Bella yang sudah tertanam hebat? Apakah ada kriteria-yang membuatnya tiba-tiba luluh? Saya tidak menemukan alasan yang pasti selain mereka masing-masing memiliki wajah cantik dan rupawan.

Aisyah Aqilah tampil dengan gaya memikat Shandy Aulia di Eifell...I’m in Love, di mana sang aktris mulus menampilkan gaya manja nan keras kepala. Sebuah prestasi lebih yang saya temukan di diri sang lawan utama, Devano Danendra-yang tampil kaku, bingung saat dituntut memerankan pria cuek idola remaja. Romansa keduanya pun tampil hambar, nihil sebuah chemistry menawan akibat syarat sebuah ikatan.

Setidaknya, saya lebih suka menyaksikan romantika Anna (Yasmin Napper) dan Little Prince-nya, Angga (Indra Jegel)-yang meski tampil lebay, tapi sukses menghibur perasaan. Begitu pula dengan sentuhan komedinya yang tampil mengugguli aspek romansa. Di mana nama seperti Erick Estrada (memerankan karakter Mukidi untuk kedua kali) bersama Arief Didu tampil mengocok perut berkat lawakan garing-yang tampil disengaja oleh Fajar Nugros (Yowis Ben, Yowis Ben 2).

Menuju konklusi, MeloDylan bergerak menambahkan konflik-yang tampil disepelekan kalau bukan karena sebatas memantik. Ya, kala sentuhan komedi ditiadakan, Fajar seolah-olah kesibukan membungkus pengadeganan. Apa susahnya bagi Dylan untuk berpamitan kepada Melody? Keputusan sepele ini tidak memiliki urgensi lebih selain menambahkan bobot tak perlu. Hingga saat MeloDylan ditutup lewat aksi dewasa, saya sama sekali tidak merasakan adanya rasa urgensi lebih dari kenyataan filmnya gagal menyajikan romantika yang memikat berkat ketiadaan waktu lebih para protagonisnya.