This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 24 November 2025

CHALLENGERS

 CHALLENGERS


Melalui Challengers, Luca Guadagnino (Call Me by Your Name, Suspiria) mengubah materi yang biasanya identik dengan opera sabun murahan menjadi observasi tentang dorongan hasrat manusia, yang tampil cerdas, intens, indah, dan di luar dugaan, sangat seksi.

Art Donaldson (Mike Faist) dan Patrick Zweig (Josh O'Connor) bukan hanya sahabat sejak kecil, pula pasangan ganda tenis yang berprestasi. Keduanya pun tertarik pada orang yang sama, yakni Tashi Duncan (Zendaya), yang digadang-gadang sebagai calon bintang tenis masa depan. Sebelum pertandingan final yang mempertemukan Art dengan Patrick, siapa Tashi berjanji akan memberi nomornya pada pun yang keluar sebagai pemenang. 

Cinta segitiga penuh khusus membentang selama belasan tahun hingga meruntuhkan persahabatan dua laki-laki. Ide dasar Challengers memang "sangat opera sabun". Tapi di sini kita melihat bagaimana seniman hebat dapat menikmati warna mereka guna mengubah ide usang menjadi karya yang terasa segar.

Agar penceritaannya lebih berbumbu, Justin Kuritzkes selaku penulis naskah memakai teknik non-linear, di mana tiap pengkhianatan adalah twist menusuk, dan isi hati manusia merupakan misteri yang lebih dalam dari lautan. Challengers menggiring penontonnya mengumpulkan apa yang masing-masing karakternya pikirkan, rasakan, serta sembunyikan di balik segala keputusan mereka. 

Satu hal yang jadi motor penggerak trio Tashi-Art-Patrick: hasrat. Apa yang kita saksikan selama kurang lebih 131 menit tidak lain adalah dinamika tiga manusia, baik sadar maupun tidak, selalu mencari dorongan nafsu, mendambakan pacuan adrenalin, guna menjaga nyala api kehidupan mereka. Zendaya, Mike Faist, dan Josh O'Connor saling terkoneksi kuat, memendam geliat hasrat, kemudian diungkapnya di setiap kesempatan yang didapat.Kata "hasrat" adalah kunci. Di tangan Kuritzkes dan Guadagnino, "hasrat" yang sejatinya adalah dorongan yang bersifat universal yang dibawa ke pendefinisian yang kental sensualitas. Tapi siapakah lapangan tenis yang merupakan panggung sempurna bagi pertukaran hasrat tersebut? 

diucapkan Tashi, "Tenis adalah sebuah hubungan". Di Challengers, sewaktu dua individu mencengkeram raket dalam satu lapangan, saling memukul bola ke arah masing-masing seolah tengah mengomunikasikan perasaan sambil berpeluh berdua, saat itulah tercipta ikatan intens yang memerlukan bahasa verbal untuk saling memahami dan merasakan.
Dibarengi beragam pilihan shot indah nan kreatif dari kamera sang sinematografer, Sayombhu Mukdeeprom, pula musik elektronik gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross yang menghipnotis, Guadagnino menuangkan kenakalannya. Semua interaksi karakter tak pernah lepas dari aroma sensualitas yang sekaligus menyengat menegangkan, di mana setiap gestur maupun celotehan tersusun atas sindiran seksual. Begitu tiba di konklusi yang begitu nakal sekaligus ceria, sulit rasanya menahan hasrat untuk melepaskan tawa penuh kekaguman. Brilian!

CIVIL WAR

 CIVIL WAR


Melalui Civil War yang jadi film termahal produksi A24 sampai saat ini (50 juta dollar), Alex Garland tidak sedang menudingkan jari ke pihak tertentu, melainkan Amerika Serikat secara menyeluruh. Dilukiskannya gambaran kemungkinan masa depan, di saat negara yang terpolarisasi berakhir meruntuhkan dirinya sendiri. Tidak ada yang benar atau salah. Hanya kehancuran dan kematian.

Alkisah perang sipil tengah pecah di Amerika. Garland tak menjabarkan alasan pastinya, karena penonton cukup memahami satu hal: kebencian mengakar terlampau kuat di sana. Para loyalis pendukung pemerintahan presiden yang telah menjabat selama tiga periode berhadapan dengan beberapa faksi yang tersebar di berbagai daerah. Lee Smith (Kirsten Dunst), si jurnalis perang ternama, juga meliput peperangan tersebut di garis depan. 

Joel (Wagner Moura) dari Reuters, Sammy (Stephen McKinley Henderson) si jurnalis senior The New York Times, dan Jessie (Cailee Spaeny) yang sangat mengidolakan Lee, juga serta dalam liputan berbahaya tersebut.

Terdapat satu poin menarik, di mana keempat karakternya tampak seperti kelanjutan sebuah keluarga (ayah, ibu, anak, kakek) yang tengah melakukan road trip. Seiring waktu ikatan di antara mereka menguat, pun di sepanjang perjalanan, masing-masing memperoleh pelajaran berharga. Bedanya, bukan kehidupan yang mereka saksikan, tapi bau busuk kematian. 

Selama 109 menit, Civil War menempatkan karakternya dalam beragam skenario berbahaya, yang masing-masing mewakili gagasan Garland tentang bagaimana rupa suatu negeri yang dikuasai kebencian. Kita tidak pernah mengetahui alasan di balik perang sipilnya, dan bisa saja, orang-orang bersenjata yang karakternya temui pun tidak benar-benar memahami, atau telah melupakan alasan tersebut. Mungkin mereka hanya menikmati kebebasan meluapkan kemarahan dan kebencian atas nama perang.

Dari situlah kita memahami keresahan Lee, yang diperankan oleh Kirsten Dunst dengan kematangan dan kekokohan hasil gemblengan realita pahit. Berkali-kali ia lolos dari medan perang untuk menginformasikan horor di garis depan lewat foto-fotonya, tapi mengapa peristiwa serupa selalu terulang? Apakah profesinya yang konon penuh jasa itu benar-benar berdampak? Apakah umat manusia dengan segala hasratnya memang sudah tak tertolong lagi?  

Dibantu tata suara mumpuni yang bakal membuat penonton merasa diletakkan di tengah baku tembak sebenarnya, Garland menyajikan ketegangan lewat keping-keping peristiwa yang protagonisnya alami. Jadilah film perang yang tak kalah mengerikan dibandingkan horor.

Ada kengerian yang bersumber dari dampak bakal bagaimana kondisi dunia selepas filmnya usai (imajinasi penonton), ada pula kengerian yang berasal dari paparan lebih gamblang tatkala Garland secara efektif memvisualisasikan kondisi perang sipil tersebut. Menonton Civil War seperti menyaksikan cuplikan hari berhenti dengan atmosfer menghantui yang sukar dihapus dari ingatan. 

Satu hal yang agak membuat marah adalah terkait tendensi Garland untuk menjauh dari sudut pandang para jurnalis, menyoroti pusat peperangan secara lebih dekat, guna menghadirkan spektakel yang lebih besar. Hasilnya lebih seru, lebih epik, namun realisme dan keintiman filmnya justru melemah.
Garland memilih jurnalis sebagai protagonis untuk menekankan netralitas Civil War. Bukan berarti sang sineas kurang tegas bersuara. Sebaliknya, poin tersebut membuktikan kalau Garland tidak naif dengan memandang salah satu pihak politik lebih baik dari yang lain. Perjalanan para jurnalisnya merupakan proses menangkap realita secara apa adanya, dan akhirnya realita tersebut hanya menunjukkan potret kematian.


TOTTO-CHAN: THE LITTLE GIRL AT THE WINDOW

 TOTTO-CHAN: THE LITTLE GIRL AT THE WINDOW

Sampai saat ini, Totto-Chan: The Little Girl at the Window adalah film terindah yang saya tonton sepanjang tahun 2024. Slice of life yang ringan di permukaan namun di dalamnya menyimpan kompleksitas, menggelitik sekaligus menyakitkan, tampil begitu cantik meski mempunyai sisi kelam. Adaptasi novel otobiografi berjudul sama karya Tetsuko Kuroyanagi ini adalah mahakarya yang sanggup mengalirkan air mata selama 114 menit durasinya.

Hal di atas jadi satu-satunya kekurangan (minor) Totto-Chan: Gadis Kecil di Jendela. Sisanya adalah presentasi indah mengenai kehidupan. Bagaimana hidup sungguh berat, khususnya pada masa perang, namun Totto-Chan dan kawan-kawan selalu menemukan cara untuk tersenyum berkat kepolosan mereka. Hal-hal sederhana seperti menginap bersama di sekolah guna menunggu kedatangan gerbong kereta bekas yang Pak Kobayashi pakai sebagai pengganti ruangan nyatanya bisa menghasilkan kebahagiaan. 

Tawa bahagia para bocah dalam ruang aman yang memberi mereka kebebasan mampu menciptakan pemandangan menyentuh, apalagi saat musik kaya rasa gubahan Yuji Nomi selalu mengiringi. Pun sebagai sutradara, Shinnosuke Yakuwa tahu betul cara mengaduk-aduk hati penonton. Contohnya tiap Totto-Chan: Gadis Kecil di Jendela beralih sejenak dari realisme, menuju momen sureal (dengan gaya animasi berbeda-beda di setiap adegan) yang mewakili indahnya imajinasi anak-anak.

Bahasa visual memang merupakan keunggulan terbesar Yakuwa, yang membuat filmnya piawai menyampaikan pesan dan rasa melalui teknik non-verbal. Lihat adegan saat Pak Kobayashi diam-diam mengamati tindak-tanduk murid-muridnya dari jendela, atau pemandangan indah sekaligus menyakitkan di babak ketiga kala Totto-Chan berlari melintasi kota, mewakili proses tumbuh kembangnya yang memperkenalkan konsep kematian serta kehilangan. 

Perjalanan kedewasaan tersebut ditutup secara begitu menyentuh lewat satu kalimat hangat. Di situ kita menyaksikan Totto-Chan yang sudah lebih dewasa, yang paham betul rasa sakit dari kebencian-ujaran kebencian, memberikan cinta sebagaimana pernah ia dampakkan. Indah.

Goresan warna lembut dengan garis putus-putus yang mencerminkan keindahan di balik ketidaksempurnaan hidup melatari dunia tempat kita diperkenalkan dengan gadis cilik bernama Totto-Chan. Perang Dunia II mulai menyelidiki, tapi ada masalah yang lebih dekat tengah dialami Totto-Chan. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sulit diatur. Sebutan "biang masalah" pun sering didapat, tapi secara tersirat kita tahu ia bukan sebatas bocah nakal, melainkan pemilik ADHD. 

Sampai sang ibu menemukan sekolah baru bagi Totto-Chan, yakni Tomoe Gakuen milik Pak Kobayashi. Di sanalah Totto-Chan bertemu teman-teman yang juga dianggap berbeda, termasuk Yasuaki si pengidap polio, dan rutinitas mereka menjadi landasan alur film ini. Naskah buatan sang sutradara, Shinnosuke Yakuwa, bersama Yōsuke Suzuki bercerita secara episodik, menghasilkan lompatan-lompatan yang cenderung kasar antar peristiwa.


ABIGAIL

 ABIGAIL



Abigail berangkat dari premis tentang serangan vampir balerina. Dilihat dari sudut mana pun, sebutan "vampir balerina" memang terdengar konyol. Bodoh. Tapi poin film terbaik garapan duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett ini bukanlah berhasil "memintarkan" ide tersebut, melainkan kesediaan mengamini menggalinya. Kenapa harus malu bila ukiran tersebut mampu melahirkan daya hibur tinggi?

Dikisahkan, enam kriminal bertugas menculik bocah bernama Abigail (Alisha Weir) dengan tujuan meminta uang tebusan sebesar 50 juta dollar kepada ayahnya. Keenamnya memakai nama samaran untuk berkomunikasi, dan Joey (Melissa Barrera) adalah panggilan yang dipakai oleh protagonis kita, sedangkan Abigail merupakan si vampir balerina yang bakal merenggut nyawa enam leluhurnya satu per satu. 

Penonton yang familiar dengan tipikal tontonan semacam ini pasti sudah hafal pola penceritaannya. Sebelum menyantap menu utama yang lezat, kita harus melewati sajian pembuka yang cenderung melelahkan, karena berisi obrolan membosankan antara karakter-karakter yang disampaikan minim daya tarik. Sebatas upaya memenuhi durasi daripada sungguh-sungguh berusaha membangun latar belakang secara solid. Tapi Stephen Shields dan Guy Busick selaku penulis naskah punya rencana lain.

Barisan manusia di Abigail memang tak dibekali penokohan yang sangat mendalam, namun kebanyakan dari mereka terasa “berwarna”. Frank (Dan Stevens) si pemimpin tim, hingga Peter (Kevin Durand) si pria berotot besar dengan kapasitas otak kecil, kepribadian punya yang bisa memproduksi rangkaian interaksi menarik, karena karakter mereka tidak pernah diperlakukan dengan terlalu serius oleh para penulis naskah. 

Seluruh manusia di film ini sadar seaneh apa situasi yang sedang dialami. Mereka paham betapa absurdnya dikejar-kejar oleh vampir balerina, atau membekali diri dengan bawang putih sebagai metode membasmi sang monster. Dari situlah kelucuan kerap dibangun.

Ketimbang basa-basi yang melelahkan, Shields dan Busick pun menyiapkan bentuk adegan yang lebih kreatif guna memperkenalkan setiap individu, ketika Joey menunjukkan kemampuan deduksi ala detektif yang ia pakai untuk membaca latar belakang masing-masing orang. Menyenangkan. Apalagi para pemainnya juga tampak bersenang-senang melakoni peran mereka, dari kepiawaian Dan Stevens membuat sarkasme, pembuktian kematangan Melissa Barrera hasil pengalamannya menjadi final girl, sampai bagaimana Alisha Weir selalu mencuri perhatian sebagai predator kecil yang bermain-main dengan mangsanya.  

Dihasilkan oleh dua sineas yang menciptakan Ready or Not (2019) dan meningkatkan kadar kekerasan di seri Scream melalui Scream VI (2023), begitu sang vampir mulai beraksi, banjir darah jelas tak terelakkan.

Bettinelli-Olpin dan Gillett menerapkan kekhasan mereka untuk sedikit memodifikasi formula kisah vampir. Di film ini, ketika terpapar cahaya matahari atau jantungnya ditikam, tubuh para vampir tidak terbakar tetapi meledak. Kegemaran keseluruhan tubuh itulah yang akan memunculkan perbandingan antara konklusi Abigail dengan karya mereka berdua sebelumnya.

Kekurangannya malah terletak pada premis eksplorasi "vampir balerina", yang meski mampu memproduksi beberapa momen nyeleneh, sayangnya tak pernah benar-benar jadi bagian esensial yang menambah kesegaran filmnya di ranah eksekusi. Alhasil, petak umpet yang terjadi antara manusia melawan vampir ada kalanya terasa lebih umum dibandingkan apa yang berpotensi mencapai capaian filmnya. Tapi semangat bersenang-senang yang tertanam di setiap sudut Abigail membuatnya mampu mempertahankan kekuatan untuk menghibur penonton hingga akhir.

MENJELANG AJAL

 MENJELANG AJAL


Suatu hari nanti, pada waktu yang tepat, saya sekuel Rumah Dara akan dibuat, dan penampilan Shareefa Daanish sebagai Ibu Dara yakin akan ramai dibicarakan. Entah kapan "suatu hari nanti" tiba. Tapi untuk saat ini, nikmati saja dulu pertunjukan tunggal sang aktris, yang mampu mengangkat kualitas sebuah film horor seorang diri, sebagaimana yang sering ia lakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Di Menjelang Ajal, Shareefa memerankan Sekar, ibu dari tiga anak: Dani (Daffa Wardhana), Ratna (Caitlin Halderman), dan Dodi (Shakeel Fauzi). Sekar menempati cukup keras pada anak-anaknya. Dia mengusir Dani dari rumah karena si putera sulung menolak berkuliah dan ngotot ingin memilih jalan hidupnya sendiri. Dia tegur pula Ratna yang masih SMA, karena diantar pulang oleh laki-laki lebih tua. 

Menurut Sekar, ia hanya ingin anak-anaknya sukses, berbeda dengan dirinya yang hanya membuka warung makan. Masalahnya Sekar bukan sekedar menjalankan bisnis kuliner. Dipakainya ilmu penglaris yang dipasang oleh dukun bernama Mak Ambar (Dewi Pakis). Sampai suatu ketika, tiba-tiba pengunjung warung makannya sepi selama berbulan-bulan, dan pada saat yang sama kondisi fisik serta perilaku Sekar pun menjadi aneh.

Satu hal subtil yang saya apresiasi dari naskah buatan Deni Saputra adalah ketiadaan figur jahat di sini, kecuali sosok setan yang merasuki Sekar (ia hadir karena dipanggil dan hanya murka akibat dilakukannya sebuah perjanjian). Tidak ada orang jahat, tidak ada dendam kesumat, tidak ada permusuhan, tidak ada upaya menghancurkan kehidupan. Hanya ada kisah mengenai manusia yang terkena dampak tindakannya sendiri. 

Penceritaan di paruh pertama bergulir apik sekaligus merupakan fase terbaik Menjelang Ajal. Di situlah timbul misteri seputar gangguan yang dialami Sekar, disertai potret menarik terkait dunia klenik dalam lingkup bisnis kuliner. Babak-babak berikutnya tak pernah kembali mencapai hal itu, namun Dedi Saputra memastikan bahwa naskahnya memang mengandung sesuatu untuk diceritakan, alih-alih sekadar menjembatani penampakan-penampakan hantu.

Peristiwa yang judulnya dijanjikan pun berhasil digambarkan, tatkala kita melihat sulitnya Sekar menyambut ajalnya, dan mengalami berbagai rekonstruksi fisik. Sementara luka psikis karakter-karakternya tidak begitu kuat karena minimnya eksplorasi. Padahal ada potensi untuk menghadirkan drama menggigit seputar ketidaksempurnaan seorang ibu. Seorang ibu juga bisa berdosa. Seorang ibu tidak selalu benar. Seorang ibu juga bisa salah menilai darah dagingnya. Tapi bukan berarti tiada kasih sayang. 

Terkait kualitas teror, sayangnya Hadrah Daeng Ratu selaku sutradara belum mampu mengulangi kengerian Pemandi Jenazah beberapa waktu lalu. Pendekatan atmosferik menunjukkan gambar-gambar mengerikan yang digantikan oleh jumpscare generik berbalut tata suara berisik. Untunglah kuantitas penampakannya tidak seberapa tinggi, disokong elemen gore yang cukup menyenangkan, dan tentunya tertolong oleh transformasi Shareefa Daanish.
“Aktor menjelma menjadi makhluk artistik yang mampu menghayatinya tanpa disadari sesuai gerak imajinasi”. Dahulu Shareefa pernah menulis kalimat tersebut di akun Instagram miliknya. Itu pula yang tampak di Menjelang Ajal. Caranya mengolah ekspresi dan gestur menampilkan wujud seni peran yang tidak hanya berusaha tampil seram, tapi memperhatikan nilai artistik.

KINGDOM OF THE PLANET OF THE APES

 KINGDOM OF THE PLANET OF THE APES


Apalagi yang bisa dicapai seri Planet of the Apes pasca trilogi reboot yang ditutup dengan sempurna tujuh tahun lalu? Apakah Kingdom of the Planet of the Apes sebatas upaya mengeruk keuntungan yang memaksakan arah penceritaan? rupanya bukan. Bahkan secara ambisius ia mencoba membawa kisahnya ke ranah yang semakin kompleks, di mana definisi dalam istilah "perlawanan" yang dikaburkan.

Berlatar 300 tahun setelah War for the Planet of the Apes (2017), kondisi dunia sudah sama sekali berbeda. Kera berkuasa, sedangkan manusia, akibat terinfeksi flu simian yang bermutasi, kembali menjadi makhluk primitif. Di masa itulah hidup Noa (Owen Teague), simpanse muda dari "klan elang". Hal tersebut demikian karena mereka menjadikan elang sebagai hewan peliharaan yang membantu menuntaskan berbagai aktivitas sehari-hari.

Pertama kali kita bertemu Noa, ia sedang mencari telur elang untuk upacara yang menandai kedewasaannya. Wes Ball (trilogi Maze Runner) yang mengisi film yang membungkus fase perkenalan itu dengan luar biasa, seolah ingin segera memamerkan segala amunisi yang ia punya. Efek visual yang membuat para kera tampak benar-benar hidup sehingga penonton memedulikan nasib mereka, hingga adegan aksi menegangkan yang tak terkesan buatan adalah beberapa di antaranya.

Semakin jauh kita mengamati kehidupan Noa, semakin terasa bahwa film ini memiliki bangunan dunia yang cukup kokoh (tengok bagaimana klan elang kaya akan sentuhan budaya), walaupun nantinya muncul sebuah tanda tanya. Apa yang membuat klan elang hidup begitu terasing hingga masyarakatnya melupakan eksistensi Caesar beserta ajaran-ajarannya? Mungkin sekuelnya kelak bakal memberi jawaban.

Alih-alih hidup dalam damai sebagaimana Caesar perjuangkan, generasi kera ini dibayangi ketakutan akibat tangan besi Proximus Caesar (Kevin Durand), yang memakai nama sang pahlawan untuk berkuasa secara semena-mena. Klan elang pun hancur akibat serangan pasukannya yang sedang mencari keberadaan seorang anak manusia bernama Mae (Freya Allan).

Ditemani Mae yang terus menyusul karena kelaparan, juga Raka (Peter Macon) si orang utan bijak yang ingin kebenaran ajaran Caesar, Noa pun melakukan perjalanan mencari tempat Proximus Caesar menawan seluruh anggota klannya. Perjalanan yang meski dilatari lanskap pasca-apokaliptik megah berhiaskan bangkai kapal tanker dan memenuhi bandara, di luar dugaan tampil intim, dengan tempo lambat pula berskala kecil (didominasi dialog dua kera). Langkah berani untuk blockbuster dengan biaya 165 juta dolar. 

Bukan berarti Ball tak piawai menangani spektakel. Sebaliknya, ia begitu lihai mengombinasikan gerak kamera dinamis dengan penggunaan CGI yang presisi untuk menghasilkan aksi yang sederet intens. Di situlah letak keunikan Kingdom. Ada kalanya ia terasa sebagai drama yang “kecil”, namun saat beralih ke aksi, tanpa terkesan janggal, filmnya bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih masif.

Satu hal yang patut dicatat adalah kurangnya eksplorasi terhadap tema "nabi palsu" yang dibawakan oleh Proximus Caesar. Padahal poin ini merupakan cara cerdas untuk mengingat Kingdom sebagai sekuel yang berdiri sendiri dengan trilogi reboot-nya, sekaligus pengembangan natural dari kisah sebelumnya. Fokus naskahnya diuraikan dengan keharusan memaparkan proses perkenalan Noa dengan dunia luar. Proximus pun berakhir sebagai antagonis pengincar kekuasaan biasa. 

Beruntung, seiring bergulirnya waktu, tema utamanya, yakni pertanyaan soal "Dapatkah manusia dan kera hidup berdampingan?" selanjutnya mengalami peningkatan dalam kadar eksplorasinya. Semakin kompleks, karena yang bergesekan adalah dua pihak dengan alasan yang kuat. Manusia dengan ambisi mengklaim kembali dunia yang mereka bangun, melawan kera yang enggan mengalami kemunduran demi memenuhi keinginan pihak lain yang bahkan tak memedulikan mereka.
Konklusi Kingdom of the Planet of the Apes menutup konflik tersebut dengan indah, sambil menyiratkan bahwa mungkin saja, apa yang baru kita Saksikan selama 145 menit (berlalu tanpa terasa) adalah proses lahirnya dua figur yang kelak bakal memimpin spesies masing-masing memperjuangkan kemerdekaan mereka.

IMMACULATE

 IMMACULATE


Hanya memakan waktu sekitar satu bulan, The First Omen dan Immaculate, dua horor dengan premis serupa (suster Amerika datang ke Italia, kemudian terjebak alur yang melibatkan bayi iblis) dirilis secara bergiliran, menambah jumlah film kembar yang telah terjadi sejak lebih dari satu abad lalu. Penyelewengan ajaran agama dengan segala ritual, gambaran mengerikan, serta entitas tak terlihatnya memang santapan lezat bagi sineas horor.
Perbandingan antara kedua judul jelas mustahil dihindarkan. Apalagi saat di sini kita mendapati Suster Cecilia (Sydney Sweeney) juga memiliki teman seorang suster "nakal" bernama Gwen (Benedetta Porcaroli). Di biara yang ia datangi atas ajakan pendeta Sal Tedeschi (Álvaro Morte), Cecilia bertugas merawat para suster senior yang telah mendekati akhir hayat mereka. 
Tidak butuh waktu lama bagi Cecilia untuk menyadari ketidakberesan di biara tersebut, di mana beberapa suster tampak aneh. Bukan hanya itu, suatu hari Cecilia diinterogasi oleh Kardinal Franco Merola (Giorgio Colangeli) perihal keperawanannya. Dari situlah naskah buatan Andrew Lobel mulai pelan-pelan menebar remah-remah yang membangun pesan mengenai isu gender.
Cecilia merepresentasikan perempuan yang terkekang dalam penjara bernama "peran gender". Sebagai perempuan ia dituntut bertindak santun, berlaku suci, lalu hanya diminta mengandung dan melahirkan bayi. Tentu kalau bisa bayi laki-laki, yang diharapkan akan menjadi figur penting di masa depan.  
Jadilah 89 menit durasi Immaculate membentuk proses perempuan lepas dari kekangan "setan". Tidak hanya setan bertanduk dari neraka, tapi juga mereka yang berkontribusi melanggengkan peran destruktif gender tersebut, baik itu penguasa laki-laki maupun sesama perempuan.
Di antara penelusuran tersebut, filmnya menyelipkan deretan jumpscare yang dieksekusi secara umum oleh Michael Mohan selaku sutradara. Populasinya hanyalah penampakan Minim dampak. Beberapa kali Mohan coba menerapkan pembangunan lambat bagi jumpscare-nya, namun daripada terasa mencekam, justru kesan draggy yang didapat akibat kurangnya kemampuan sang sutradara menyusun atmosfer.
Immaculate malah mampu tampil menyentak saat tidak berusaha terlalu keras menggedor jantung. Tengok saat seorang suster tewas akibat jatuh dari lantai atas. Tanpa musik menggebrak namun lebih menggigit, dan menariknya, lebih mengagetkan. Kuncinya ada di timing. Mohan berhasil membuat penonton lengah di momen tersebut. 
Sentuhan kekerasannya yang cukup brutal pun memberi daya hibur tambahan, yang turut membuka jalan bagi konklusi memuaskan tatkala kita menyaksikan si perempuan akhirnya meruntuhkan tali kekang yang merenggut kebebasannya. Di situ pula totalitas ledakan akting Sydney Sweeney memberikan kontribusi besar, seolah membuktikan bahwa keputusannya membeli hak cipta naskah Immaculate, lalu memproduserinya sendiri, merupakan langkah tepat.

HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES

 HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES

Warisan dapat menghancurkan keluarga. Mungkin darah lebih kental dari udara, tapi ia bisa seketika memudar saat dibayangkan dengan lembar demi lembar uang. How to Make Millions Before Grandma Dies merupakan proses karakternya (serta penonton) memahami bahwa harta bukanlah segalanya.

Bila pesan di atas terdengar klise, itu karena debut penyutradaraan layar lebar Pat Boonnitipat ini memang tidak bermaksud merombak formula. Dia tetaplah pembuat air mata yang dibuat untuk membanjiri pipi penonton dengan air mata. Ketika di menit awal para karakternya yang merupakan sebuah keluarga tengah berziarah di makam leluhur, tidak sulit menebak adegan seperti apa yang akan menutup filmnya. 

Tapi di sisi lain, ada warna berbeda yang ia tawarkan. Lihat saat si protagonis, M (Putthipong Assaratanakul), mengunjungi rumah sang nenek yang dipanggil Amah (Usha Seamkhum) untuk pertama kali. Dia berjalan melintasi sudut-sudut kota, melewati pepohonan yang basah oleh rintik gerimis, diiringi musik lembut buatan Jaithep Raroengjai. Syahdu.

Kedatangan M bukan kunjungan biasa. Amah baru didiagnosis mengidap kanker usus stadium 4, yang membuat sisa umurnya tinggal setahun lagi. Mengetahui bagaimana sepupunya, Mui (Tontawan Tantivejakul), memperoleh warisan rumah karena merawat kakeknya hingga akhir hayat, M yang gagal meraih kesuksesan sebagai streamer pun berharap bisa mendapatkan keberuntungan serupa. 

Sekali lagi, kita tahu ke mana kisahnya bakal bermuara. Rencana culas M untuk memanfaatkan sang nenek nantinya malah berakhir benar-benar merekatkan hubungan keduanya. Tapi siapa yang peduli di saat proses menuju ke sana mampu menghadirkan beragam emosi, dari tawa hangat sampai tangis haru?

Usha Seamkhum yang di usia senjanya baru melakoni debut di film ini membuat saya tenggelam di setiap menemukannya yang menyimpan setumpuk misteri mengenai isi hati Amah. Sedangkan Putthipong Assaratanakul paling piawai membawakan tendensi M menyembunyikan kegundahan serta kesedihan memakai senyum dan tawa (poin ini akan berdampak besar di ending). Mereka berdua menjalin chemistry solid yang melahirkan interaksi penuh warna. Ada saling cela, bertukar canda, dan tentunya berbagi rasa. 

Di sisi lain, baik pengarahan Pat Boonnitipat maupun naskah yang ia tulis bersama Thodsapon Thiptinnakorn (SuckSeed, Friend Zone, The Con-Heartist) sama-sama jeli merancang teajerker yang menyentuh tanpa harus terkesan mengemis tangis. serupa tampak pada momen kedatangan M yang saya singgung sebelumnya, Pat membangun dinamikanya secara bertahap. Cenderung lambat di paruh awal yang berfungsi sebagai fase observasi, sebelum akhirnya menutupi emosi sehingga memastikan penonton sudah terikat dengan karakternya.

Kejadian pun kalian menahan cucuran air mata, kemungkinan besar tembok tersebut akan runtuh di ending berlatarkan sebuah mobil pikap, yang menyampaikan salam perpisahan dengan begitu indah. Tebersit sebuah pertanyaan saat menyaksikan adegan itu. Apakah tangisan yang tumpah disebabkan oleh penggarapan filmnya yang bagus, atau semata-mata karena penonton (termasuk saya) segera menayangkan acara di layar dengan kenangan pribadi? 

Jawabannya adalah "keduanya". Cara Menghasilkan Jutaan Sebelum Nenek Meninggal terasa dekat karena ia paham betul dinamika keluarga, khususnya keluarga Asia. Bagaimana warisan bisa melenyapkan kasih sayang, bagaimana berkumpul di rumah nenek merupakan momen hangat yang selalu dinanti, bagaimana si nenek dengan tidak sabar menantikan kedatangan anak-cucu sembari mengenakan pakaian terbaiknya, pula bagaimana kesepian selepas kebersamaan terasa begitu menyengat terutama bagi lansia yang hidup seorang diri. Kenangan segala tentang kebersamaan itulah warisan berharga yang sesungguhnya.


DO YOU SEE WHAT I SEE

DO YOU SEE WHAT I SEE

Mengadaptasi salah satu kisah paling populer (First Love) dalam siniar bernama sama, Do You See What I See memang bukan invasi baru dalam horor Indonesia. Masih menjadikan pocong sebagai pusat teror, masih didominasi pencahayaan temaram, masih pula mengambil latar kuburan di adegan puncak. Namun demikian, ia adalah salah satu yang paling kompeten dalam beberapa waktu terakhir. Pembuatannya tidak berusaha mendobrak formula, tapi memastikan tiap pembagian digarap secara layak.

Si pendamba cinta pertama itu bernama Mawar (Diandra Agatha), yang baru berulang tahun ke-20. Meski memiliki sahabat-sahabat setia seperti Vey (Shenina Cinnamon) dan Kartika (Sonia Alyssa), Mawar tak juga memiliki kekasih. Kondisi itu berubah setelah Mawar berziarah ke makam orang tuanya. Sambil malu-malu ia mengaku telah bertemu laki-laki impiannya. 

Sayangnya itu bukan awal kebahagiaan, karena tingkah laku Mawar yang sebelumnya ramah tiba-tiba berubah jadi aneh. Vey dan Kartika curiga keanehan itu disebabkan oleh pacar barunya yang dipanggil "Mas Restu". Sebagai penonton, kita sudah lebih dulu tahu bahwa Mas Restu bukan manusia, melainkan pocong. Tapi kesan misterius tetap terjaga, sebab naskah buatan Lele Laila memilih untuk menyembunyikan wujud si hantu sampai menjelang babak akhir.

Naskah Do You See What I See merupakan karya terbaik Lele sejauh ini karena konsistensinya. Tidak ada kengawuran tiba-tiba sebagaimana terjadi di konklusi Pemandi Jenazah. Semua rapi dari awal hingga akhir, pula didukung dengan keseimbangan kuantitas jumpscare. Apalagi solusinya menyembunyikan sosok Restu memaksa Lele memutar otak lebih keras untuk mengembangkan teror. Beberapa jumpscare paling efektif di sini bukan berasal dari penampakan wajah hantu. 

Tapi prestasi terbesar naskahnya terletak pada caranya menyusun subteks soal "mereka yang menderita karena cinta". Ada karakter yang terluka akibat diselingkuhi, dan sebaliknya, ada yang terluka akibat dijadikan orang ketiga. Ada yang bersumpah setelah idola yang ia cintai diberitakan mati, ada yang dihantui kesepian karena tak mempunyai siapa pun, ada yang jatuh cinta pada sesosok hantu.

Hasilnya adalah benang merah yang menyatukan seluruh aspek cerita Do You See What I See sebagai horor berbumbu kisah cinta. Pilihan konklusinya yang kelam sekaligus mengejutkan juga masih setia melangkah di jalur tersebut. Bukan asal kelam semata agar terlihat keren, tapi punya dampak emosi yang mengingatkan kita betapa jatuh cinta pun bisa begitu mematikan. 

Naskahnya agak mengendur di klimaks ketika tak memberi cukup materi, namun intensitas berhasil dijaga berkat pengarahan Awi Suryadi, yang sukses membuat Do You See What I See sebagai horor terbaiknya sejak Sunyi (2019). Berbekal kepiawaiannya mengolah teknis, terutama deretan tata kamera yang stylish (pemakaian sudut pandang orang pertama, split focus shot, dll.), Awi memberikan efek dramatis yang menghilangkan kesan monoton.
Di sisi lain, penampilan solid jajaran pemainnya semakin menguatkan penampilan drama film ini. Shenina berjasa membawakan bobot dramatis, Sonia mencuri perhatian lewat beberapa celotehannya, sedangkan Diandra, biarpun pelafalan Bahasa Jawanya belum sempurna (ditambah kombinasi dengan Bahasa Indonesia yang mengganggu dan penempatannya kurang natural), mampu menghipnotis berkat klik dan senyuman tajamnya.

 

IF

 IF


Melalui If, John Krasinski yang menyutradarai sekaligus menulis naskah seolah ingin membuat film Pixar versinya (mungkin dengan tambahan inspirasi dari serial animasi Foster's Home for Imaginary Friends). Keunikan dunia serta karakter, pula kemampuan filmnya mengaduk-aduk perasaan memang mengingatkan pada judul-judul milik rumah produksi tersebut, hanya saja dengan kualitas penceritaan yang lebih inkonsisten.
Di dunia film ini teman imajiner benar-benar eksis, dan mereka dipanggil IF (Imaginary Friends). Bentuknya beragam. Ada monster, naga, hantu, astronot, dan lain-lain sesuai dengan imajinasi bocah yang menjadi teman mereka. Apabila si bocah telah tumbuh dewasa, para IF bakal tak lagi bisa dilihat, kemudian memulai proses untuk menemukan pasangan baru. 
Fakta-fakta yang dipelajari Bea (Cailey Fleming), gadis 12 tahun yang untuk sementara tinggal bersama neneknya (Fiona Shaw) karena ayahnya (John Krasinski) akan menjalani operasi jantung. Di situlah Bea mulai mengalami peristiwa ajaib di mana ia bisa melihat para IF sejak pertemuannya dengan Cal (Ryan Reynolds), seorang pria yang bertugas menemukan pasangan baru bagi IF yang telah dilupakan oleh teman lamanya.
Sedikit membahas karya-karya Pixar, salah satu keunggulan mereka adalah soal bangunan dunia yang luar biasa detail. Naskah Krasinski belum berada di level serupa. Banyak lubang bertebaran terkait aturan di dunia ciptaan sang sineas. "Kenapa Bea bisa melihat semua IF termasuk yang bukan miliknya?" merupakan salah satu yang paling menonjol. 
Penyelamatnya adalah kemampuan Krasinski sebagai sutradara mengolah deretan momen menyentuh yang tak asal menguras air mata, namun turut didukung keindahan estetika. Sebutlah beberapa sekuen imajinasi yang terselip di babak kedua. Kemunculannya menonton aliran cerita, berpotensi menarik perhatian penonton anak-anak yang juga merupakan target pasar film ini, namun tetap memiliki rasa berkat sensitivitas penggarapan Krasinski. Begitu pula epilognya yang tetap tampil sangat manis meskipun berada di jalur yang sama (atau lebih tepatnya "terlalu baik") aturan yang filmnya bangun sendiri.
Musik buatan Michael Giacchino turut berkontribusi besar memberi dampak emosi. Inilah salah satu karya terbaik sang kompetisi dalam beberapa tahun terakhir. setara dengan scoring ikoniknya di Inside Out (2015), musik If memiliki efek magis yang bakal dengan cepat menempel di memori tiap penonton. 
Para pelakonnya tidak kalah berjasa. Cailey Fleming memancarkan kemurnian hati Bea, Ryan Reynolds kembali piawai menggabungkan kejenakaan dengan kehangatan, bahkan John Krasinski dengan screen time terbatas mampu mencuri perhatian sebagai sosok ayah yang enggan memandang dunia melalui kacamata negatif. Belum lagi jajaran pengisi suara bertabur bintang yang menghidupkan para IF dengan ragam wujud aneh mereka.
Desain karakternya yang kreatif patut mendapat pujian, meski di paruh akhir, terungkap bahwa desain yang didominasi makhluk aneh tersebut juga jadi cara curang guna mengalihkan perhatian penonton dari twist yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. 
Di luar berbagai kekurangan naskahnya, kemampuan memancing haru jelas pantas disebut "kelas satu". Sebuah kisah yang akan terasa dekat justru bagi orang dewasa, yang di tengah kemonotonan hari-hari mereka, terkadang memerlukan pelukan hangat dari teman lama yang tak terlupakan.

Minggu, 23 November 2025

FURIOSA: A MAD MAX SAGA

 FURIOSA: A MAD MAX SAGA


Bagaimana cara mengungguli dua jam kejar-kejaran mobil epik berlatar padang tandus dengan jagoan perempuan tangguh serta barisan karakter unik bernama Mad Max: Fury Road (2015)? Jawabannya “tidak ada”. Furiosa: A Mad Max Saga yang bertindak sebagai prekuel bukanlah mahakarya serupa pendahulunya, namun tetap suguhan aksi bertenaga, yang membuktikan bahwa bagi sang sutradara usia hanyalah sebuah angka.

Tatkala banyak sineas blockbuster muda zaman sekarang terlampau bergantung pada manipulasi komputer, George Miller yang sewaktu memasuki masa produksi sudah menginjak 77 tahun menunjukkan bagaimana adegan aksi seharusnya diarahkan dengan segenap jiwa dan raga. 

Fury Road bak Miller memanfaatkan embel-embel "Mad Max" agar bisa dengan mudah membuat film dengan jagoan utama perempuan. Hasilnya luar biasa. Furiosa kini dicintai penonton modern layaknya Max di mata masyarakat 80-an. Di sini kita bakal melihat proses yang dilalui si jagoan sebelum menyandang gelar "Imperator".

Furiosa kecil (Alyla Browne) terpisah dari sang ibu (Charlee Fraser) setelah diculik oleh Dementus (Chris Hemsworth) beserta pasukan geng motor pembohongnya. Kehidupan berat di tanah tandus menggembleng Furiosa, membuatnya tumbuh menjadi perempuan dewasa yang kuat (Anya Taylor-Joy), dan bekerja untuk Immortan Joe (Lachy Hulme). Namun demikian Furiosa bukanlah budak siapa pun. Dia hanya ingin bebas, untuk kemudian pulang seperti janjinya kepada sang ibu.  

Furiosa punya cara bercerita yang lebih konvensional dibandingkan Fury Road. Ketimbang mengembangkan cerita seiring aksi kebut-kebutan, kini naskah yang ditulis Miller bersama Nico Lathouris sesekali menghentikan pacuan gas guna menyediakan ruang bagi cerita untuk berkembang.

Keunikan cara tuturnya mungkin tak lagi dipunyai film ini, tapi setidaknya Furiosa berhasil memunculkan keserasian dengan Fury Road. Timbul kesan bahwa keduanya memang merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebuah cerita besar mengenai perjalanan panjang protagonisnya mencari jalan pulang. 

Kesan tersebut semakin menguat karena Miller dan Lathouris tidak luput melengkapi detail semesta Mad Max. Tempat-tempat yang sebelumnya cuma terdengar namanya seperti Bullet Farm dan Gas Town akhirnya berkesempatan kita kunjungi, meski sayangnya, secara desain artistik tak ada yang benar-benar membedakan keduanya. Sebatas lokasi industri usang di tengah padang gersang.

Selama durasi 148 menit, filmnya melemparkan berbagai macam penderitaan ke arah Furiosa, baik yang bersifat fisik maupun psikologis, sebagai penegas betapa mematikan kehidupan di Wasteland. Berat, namun mereka berhasil bertahan bakal menjadi individu tangguh. Furiosa termasuk salah satunya, yang dihidupkan oleh persona sarat karisma milik Anya Taylor-Joy, sementara Chris Hemsworth tampak bersenang-senang memerankan antagonis sinting yang membantai manusia hanya untuk merasakan pacuan adrenalin. 

Miller boleh saja tidak menginjak pedal gas sesering di Fury Road, tapi penyutradaraannya yang jeli mengatur timing (kapan seseorang jatuh menghantam tanah, kapan senjata tajam membelah tubuh korban, kapan lesatan peluru menembus area vital, dll.) benar-benar memberi energi tingkat tinggi bagi Furiosa. Belum lagi ditambah raungan musik buatan Tom Holkenborg.

MALAM PENCABUT NYAWA

MALAM PENCABUT NYAWA


Bagi pencerita, elemen mistis seharusnya jadi media yang memerdekakan. Di sana batasan eksplorasi tak lagi ditentukan oleh garis-garis logika yang penuh aturan. Tapi apa daya, tuntutan industri menjadikan dunia tanpa batas tersebut sebagai komoditas. Formula pun dirancang, pola-pola yang harus diikuti pun mulai mengekang atas nama uang. Begitulah kondisi perfilman horor Indonesia belakangan ini.

Untunglah beberapa sineas masih berani berpikir pembohong. Joko Anwar dengan Siksa Kubur beberapa waktu lalu menjadi salah satu yang terdepan. Kali ini menyusul Malam Pencabut Nyawa garapan Sidharta Tata, merupakan adaptasi novel Respati karya Ragiel JP, yang memperlakukan aspek klenik bukan sebatas menakut-nakuti alat-alat, tapi gerbang pembuka bagi ruang eksplorasi yang lebih luas. 

Respati (Devano Danendra) mengira dirinya hanya menderita insomnia biasa akibat duka selepas kematian kedua orang tuanya. Sekalinya tertidur, ia bermimpi aneh dan melihat banyak orang asing yang mengalami nasib naas. Belakangan barulah Respati sadar, ia bukannya bermimpi buruk melainkan masuk ke mimpi orang lain, yang nyawanya tengah terancam oleh kehadiran sosok misterius bernama Sukma (Ratu Felisha).

Satu hal yang langsung tampak dari menit-menit awal filmnya adalah keunggulan di departemen teknis. Sidharta Tata enggan membuat horor cepat saji. Dibantu Bagoes Tresna Aji selaku penata sinematografi, menyusun rangkaian gerak kamera yang stylish, yang semakin terasa dinamis ketika penyuntingan dari Ahmad Fesdi Anggoro ikut berkontribusi. Banyak transisi unik sekaligus tak terduga muncul di film ini. 

Terkait penceritaan, naskah yang ditulis Sidharta bersama Ambaridzki Ramadhantyo menghadirkan salah satu kisah paling ambisius yang dimiliki horor lokal dalam beberapa waktu terakhir. Formula khas horor dikembangkan ke ranah fantasi yang berpijak di seluk-beluk dunia mimpi. Seiring penyelidikannya, Respati mempelajari banyak hal, salah satunya adalah, seseorang harus mati bila ingin lepas dari kejaran Sukma di dunia mimpi. Anggaplah Malam Pencabut Nyawa sebagai Inception dengan kearifan Indonesia.

Keputusan untuk menjauh dari pemakaian jumpscare (horor Indonesia rilisan 2024 yang paling anti mengagetkan penontonnya) sungguh saya apresiasi, meski naskahnya belum mampu memaksimalkan kemungkinan tak terbatas yang disediakan oleh konsep mimpi. Beberapa titik penceritaannya masih terasa monoton. 

Paruh akhir menjadi panggung Sidharta dan tim mengungkapkan segala kreativitas mereka. Diawali adegan kesurupan yang tersaji intens, lalu dilanjutkan oleh klimaks seru yang dikemas layaknya pertarungan dalam film pahlawan super. Tentunya sang protagonis tidak lupa memamerkan "superhero landing" versinya.

Di klimaks itu perpaduan apik antara CGI dengan efek praktikal yang sama-sama mumpuni semakin kentara, sehingga menciptakan parade visual yang cantik. Pengadeganan Sidharta pun seperti biasa hadir penuh gaya, termasuk lewat upaya melakukan reka ulang bagi salah satu momen paling ikonik di Inception. 

Tapi di luar segala pameran teknis sarat trik di atas, Malam Pencabut Nyawa juga patut dipuji karena satu hal yang jauh lebih sederhana. Apalagi kalau bukan pemakaian Bahasa Jawa. Tidak ada campuran yang dipaksakan dengan Bahasa Indonesia, bahkan dialognya cukup banyak memakai kromo. Yah, di belakang ini saya semakin yakin kalau horor kita masih menyimpan masa depan cerah.

THE GARFIELD MOVIE

 THE GARFIELD MOVIE



"Animasi bukan semata konsumsi anak" adalah pernyataan yang harus selalu ditekankan. Seiring waktu, jumlah film yang membuka mata publik mengenai hal tersebut semakin bertambah. Tapi di sisi lain, memang benar bahwa banyak animasi yang berorientasi pada penonton anak-anak, dibuat untuk menghibur mereka, sementara orang dewasa yang dibiarkan terjebak rasa bosan.

The Garfield Movie termasuk salah satunya. Film yang menandai pertama kalinya animasi Garfield tayang di layar lebar ini (tiga judul sebelumnya langsung dirilis dalam format DVD) punya semua poin yang tercantum dalam daftar keklisean, dari alur umum hingga lelucon slapstick yang hanya mampu mendatangkan senyum simpul. Beberapa kali ia mencoba memancing reaksi "aaaah" dari penonton dengan cara yang luar biasa malas, yakni menyelipkan video-video kucing yang sempat viral di media sosial. 

Konfliknya berpusat pada reuni Garfield (Chris Pratt) dengan ayahnya, Vic (Samuel L. Jackson). Garfield menyukai Vic karena merasa dibuang sewaktu kecil, sebelum akhirnya ia tinggal bersama Jon (Nicholas Hoult) dan seekor anjing bernama Odie (Harvey Guillén). Ketika Jinx (Hannah Waddingham) si kucing persia berniat membalas dendam atas perbuatan Vic di masa lalu, ayah dan anak ini pun khawatir akan perbedaan mereka.

Jurang perbedaan hadir karena Garfield adalah kucing rumahan pemalas yang menikmati kenyamanan, sedangkan Vic tergolong kucing pembohong dengan kehidupan keras di jalanan. Masalahnya, kecuali dalam adegan "naik kereta", perbandingan tersebut luput dieksplorasi. Garfield tidak pernah benar-benar mempelajari trik bertahan hidup di jalanan dari sang ayah, begitu pula sebaliknya. 

Alurnya mulai menemukan daya tarik begitu karakter Otto (Ving Rhames) dan Ethel (Alicia Grace Turrell) diperkenalkan. Mereka adalah sepasang kekasih sekaligus mantan maskot sebuah peternakan, yang terpisah selepas Otto diusir (hal bodoh sekaligus tidak masuk akal, bahkan untuk ukuran film yang tak memerlukan logika seperti ini). Bagaimana Otto si banteng bertampang seram begitu tergila-gila kepada Ethel dan selalu memakai kata-kata manis nan hiperbolis saat mendeskripsikan si sapi betina mampu memberikan hiburan tersendiri.

Sekali lagi, The Garfield Movie memang dikhususkan bagi para bocah. Mereka bakal menginginkan humornya sambil menikmati gambar warna-warni yang sebenarnya tidak istimewa bila melihat perkembangan kualitas visual di industri animasi belakangan. Tapi apa salahnya membiarkan anak-anak bersenang-senang? 

Setidaknya ia masih punya daya hibur, terutama di babak ketiga yang digarap penuh energi oleh Mark Dindal selaku sutradara. Penonton anak pun bisa memperoleh pesan berharga mengenai keluarga, yang akan terasa dekat bagi yang pernah memasukkan kasih sayang sang ayah karena jarang hadir dalam hidup mereka. Adegan “pohon” menjadi landasan emosinya. Pendekatannya yang dibarengi musik mengharukan biru terkesan manipulatif, namun terbukti efektif mengaduk-aduk perasaan.

GODZILLA MINUS ONE

 GODZILLA MINUS ONE


Sungguh waktu yang menggembirakan bagi penggemar Godzilla. Ada masa sosok Godzilla dipakai sebagai alegori terhadap dampak ledakan bom atom, ada pula masa ia menjadi jagoan pelindung dalam rangkaian pertarungan over-the-top antar monster raksasa. Tapi sekarang para penggemar mendapatkan keduanya. Monsterverse memberikan throwback ke nuansa cheesy khas banyak produk era Showa, sedangkan melalui Godzilla Minus One, Toho melahirkan salah satu cerita humanis terbaik yang pernah franchise ini tuturkan.

Judulnya merefleksikan kondisi Jepang yang berada di titik nadir selepas Perang Dunia II. Kōichi Shikishima (Ryunosuke Kamiki) merupakan salah satu penyintas perang, namun selain tercekik kemiskinan, hidupnya pun menderita akibat rasa bersalah. Shikishima adalah pilot kamikaze yang kabur dari misi, memilih bertahan hidup daripada mengorbankan nyawa demi kejayaan bangsa. Tapi patutkah hal itu dianggap aib? 

Di tangan Takashi Yamazaki selaku sutradara sekaligus penulis naskah, Godzilla Minus One berbicara tentang kehidupan dengan menyentil tentang bagaimana manusia, atau dalam konteks film ini bangsa Jepang, dirasa kurang menghargai nyawa. Kondisi tersebut dirangkum oleh pembuka adegannya, kala Shikishima menyaksikan banyak sejawatnya dibantai oleh Godzilla.

Di situ Shikishima terlalu takut untuk melepaskan tembakan sehingga disalahkan atas kematian rekan-rekannya. Tapi kalau diperhatikan, sejatinya Godzilla takkan melakukan membunuh andai prajurit lain melakukan hal seperti Shikishima: tidak menembak duluan. Pecahnya peperangan pun terjadi dalam kondisi serupa. Shikishima yang takut dan membunuh bukanlah salahnya. Justru dia adalah manusia yang menghargai kemanusiaan.

Nantinya kita bakal menyaksikan Godzilla perlahan-lahan melebarkan teritorinya ke area perkotaan, sementara umat manusia berjuang melindungi diri sendiri serta orang-orang tercinta. Bagi Shikishima, orang itu adalah Noriko Ōishi (Minami Hamabe), gadis yang ia berikan tempat tinggal.

Yamazaki memastikan bahwa Godzilla Minus One menyeimbangkan dua sisi, yakni sebagai blockbuster megah dan kisah humanis yang menggugah. Didukung efek visual realistis meski hanya bermodalkan biaya tidak sampai 10% dari Godzilla x Kong: The New Empire (yang membawakan filmnya menyabet piala Oscar), sang sutradara menumpahkan segala talenta artistiknya. 

Bersama Kōzō Shibasaki selaku penata kamera, Yamazaki begitu cerdik mengolah shot demi shot yang membuat setiap kemunculan Godzilla di layar tidak terasa percuma. Si Raja Monster tampak perkasa, garang, bahkan tak jarang mengerikan. Dia berenang cepat mengikuti kapal kayu yang ditumpangi Shikishima, dengan beberapa bagian tubuhnya menunjukkan ke permukaan. Akhirnya ada film Godzilla yang mengambil inspirasi dari Jaws (1975). Sungguh kreatif.

Sesekali kita mendengar kalimat-kalimat kaya rasa hasil tulisan Yamazaki (“Kami meninggalkan masa depanmu”, “Belum pernah menyembunyikan itu sesuatu yang harus dibanggakan”, dll.), yang semakin menegaskan visi sang sineas. Segala peperangan dan kehancuran dalam Godzilla Minus One digarapan tersaji epik, salah satunya berkat musik gubahan Naoki Satō yang dapat terdengar intens maupun menyentuh sesuai kebutuhan. Bukan sebatas aksi bombastis kosong, melainkan ledakan petualangan manusia didasari kecintaan pada hidup. 

Begitulah manusia. Mereka enggan dikirim untuk mati di luar kemauan, tapi bukan mustahil rela mempertaruhkan nyawa demi sosok tercinta. Jika pemerintah dan militer akan mengerahkan pasukan ke medan perang untuk mati, rakyat sipil berperang untuk hidup di masa depan

BAD BOYS: RIDE OR DIE

 BAD BOYS: RIDE OR DIE


Memasuki film keempat dengan usia franchise yang mendekati kepala tiga, Bad Boys memutuskan untuk mengambil seri ilmu Fast & Furious terkait metode perpanjangan usia. Gelaran aksi semakin kental inovasi, pernyataan "one last ride" di judul sebelumnya dikoreksi, sedangkan kisah serta karakter masa lalu dikunjungi kembali guna mengembangkan (baca: memanjangkan) cerita. Oh, dan tentunya keluarga dijadikan aspek terpenting.

Belum ada karakter yang hidup kembali di sini. Setidaknya bukan secara harfiah, karena Kapten Conrad Howard (Joe Pantoliano) yang terbunuh di Bad Boys for Life (2020) tidak dibiarkan tenang di kuburnya, tatkala muncul bukti bahwa ia terlibat tindak korupsi yang menghubungkannya dengan sebuah kartel. Tentu saja dua jagoan kita, Mike (Will Smith) dan Marcus (Martin Lawrence) menolak tinggal diam. 

Seiring upaya keduanya membersihkan nama mendiang sang kapten, peristiwa-peristiwa lama mengupas lagi untuk menanyakan kebenarannya, sementara Armando (Jacob Scipio), putera Mike yang menjadi antagonis di film ketiga, kini muncul di pihak sang ayah sebagai bahan baku bagi kisah seputar keluarga. Chris Bremner dan Will Beall bak menulis naskahnya selepas berdiskusi dengan Chris Morgan.

Hasilnya adalah pembaruan tanpa harus berubah terlalu radikal sampai mengalienasi para penggemar. Bad Boys: Ride or Die tampil segar sekaligus familiar. Mike dan Marcus masih terus berdebat, meski sekarang kepribadian mereka tertukar. 

Pasca nyaris terbunuh akibat serangan jantung Marcus bertransformasi menjadi individu yang tidak takut pada maut. Sebaliknya, didorong kekhawatiran akan keselamatan orang-orang terdekatnya, Mike yang dikenal sinting justru mengalami gangguan kecemasan. 

Bagaimana elemen tersebut ditangani (kemudian diberi konklusi) oleh naskahnya mungkin menghasilkan penelusuran psikologis yang mendalam, namun daya hiburnya harus dianggap cukup efektif. Apalagi ditunjang chemistry kuat dua aktornya dalam melakoni olok-olok, materi humor yang sebenarnya tidak selalu tepat sasaran pun minimal selalu memancing senyum berkat kehebatan mereka (terutama Lawrence) dalam menangani komedi.

Tapi jika nantinya Ride or Die terbukti memperpanjang napas Bad Boys, tidak ada yang lebih berjasa dibandingkan duo Adil El Arbi dan Bilall Fallah di kursi sutradara. Inovasi yang mereka bawa bersama sang penata kamera, Robrecht Heyvaert, sungguh luar biasa. Hampir tidak ada adegan aksi yang digarap ala kadarnya.  

Pertarungan di atas pesawat yang mengudara, hingga sekuen penyerbuan di babak puncak, memberikan layaknya ruang pameran bagi ragam bentuk inovasi gerak kamera sarat kreativitas. Pembohong, dinamis, seru. Film ini jelas memilih "ride" daripada "die". Bukan sekedar berkendara santai, namun melaju sekencang mungkin.


HARTA TAHTA RAISA

 HARTA TAHTA RAISA


Selepas menonton Harta Tahta Raisa, saya tahu bagaimana masa kecil si penyanyi, perjalanan karir termasuk diskografi lengkapnya, anggota tim yang menyokong lapangan, seperti apa lingkungan kerjanya, persiapan konser tunggalnya tahun lalu, hingga fakta terkait "urban legenda" bahwa ia mandi memakai air galon. Dokumenter karya Soleh Solihun ini memang tampil informatif nan lengkap. Saking lengkapnya, ada kesan Soleh terlampau ambisius dalam bercerita.

Proses menuju konser tunggal di Gelora Bung Karno menyatukan berbagai kisah, yang masing-masing mewakili keping kehidupan seorang Raisa Andriana. Beberapa kendala sempat menghadapi jelang Hari-H. Sebutlah hujan yang mengguyur di tengah gladi, pertandingan timnas yang tiba-tiba digelar di tengah lapangan yang telah mulai ditata, sampai ujian terberat kala puterinya, Zalina, jatuh sakit. 

Ada cukup materi untuk melahirkan dokumenter menggigit berisi persiapan konser, tapi filmnya kesulitan menjaga intensitas karena sering "mampir" di cabang cerita lain. Setiap cabang menyimpan potongan fakta yang membantu penonton lebih mengenal sosok Raisa, namun ada kalanya kita berhenti terlalu lama di satu titik, sehingga momentum jelang konser tunggal gagal dijaga.

Tapi jika memandang Harta Tahta Raisa layaknya artikel atau berita yang bertujuan menambah pemahaman mengenai subjeknya, Soleh Solihun membuktikan kalau ia adalah jurnalis yang mumpuni. Secara cerdik ia susun film ini sebagai proses "menengok ke belakang". Momen pertama Raisa bercerita kepada kamera mengambil latar sehari setelah konser, karena Soleh ingin mengajak penonton melihat melalui kacamata sang diva yang membayangkan perjalanan panjang lapangan. Bagaimana dalam 13 tahun ia bertransformasi dari bernyanyi di depan pengunjung kafe menjadi bernyanyi di atas panggung GBK yang disaksikan 42 ribu orang.

setara dengan jurnalis kelas satu, Soleh mengumpulkan banyak narasumber kemudian melakukan semacam sedalam mungkin. Bersama Adryanto "Boim" Pratomo sebagai manajer sekaligus partner bisnis kita mempelajari jatuh bangun karir Raisa, sementara sesi wawancara dengan sang suami, Hamish Daud, menciptakan momen manis yang mampu memunculkan senyum.

Babak akhir Harta Tahta Raisa tampil cukup emosional. Tatkala Raisa bersimpuh di tengah panggung pada akhir konser, sementara Boim duduk di bawah panggung dengan air mata mengalir deras, di situlah filmnya menghadirkan dampak emosional. Sebuah imbalan bagi individu yang dengan penuh semangat, rela berjuang melawan beragam kesulitan guna mewujudkan sesuatu yang impikan mereka.

Terpenting, sebagai dokumenter, film ini mampu memotret realita mengenai Raisa, yang di balik status diva serta mitos-mitos mengenai dirinya, ternyata hanya manusia biasa. Manusia yang mengenang kondisi buah hatinya, manusia yang malu-malu mendengar cerita romantis dari masa lalu, manusia yang bakal merasa gelisah bila diharuskan berjalan di depan puluhan ribu penonton.

HIT MAN

 HIT MAN



Richard Linklater adalah sineas yang fleksibel. Kerap melakukan produksi tanpa naskah yang pasti, juga kecenderungan menanggalkan struktur saklek narasi, jadi beberapa bukti. Tengok pula tema yang luar biasa beragam di karya-karyanya. Sehingga merupakan proses natural saat melalui Hit Man ia membahas soal diagnostik. Bagaimana kebakuan seharusnya tidak menguasai diri manusia, moralitas, dan hal-hal lain dalam kehidupan.

Kali ini sang sutradara menyampaikan sisi Hitchcockian ke dalam dirinya, dengan mengadaptasi artikel majalah Texas Monthly berjudul sama buatan Skip Hollandsworth (pernah menulis Bernie bersama Linklater, yang juga mengadaptasi artikel miliknya dari majalah tersebut). Kisahnya berpusat pada keseharian Gary (Glen Powell), seorang dosen psikologi yang bekerja sambilan di kepolisian New Orleans. 

Awalnya Gary hanya seorang guru yang membantu penyamaran misi-misi guna menangkap tersangka penyewa pembunuh bayaran, namun ketika agen lapangan mendapat banyak uang, Gary terpaksa turun menggantikannya. Gary harus menyamar sebagai pembunuh bayaran, berdiskusi dengan penyewa jasanya, lalu memancing pengakuan terkait niat pembunuhan agar polisi mendapat bukti untuk menangkapnya.

Sederhananya, tapi protagonis kita punya pandangan lain. Berbasis minatnya terhadap psikis manusia, Gary enggan asal menyamar. Dia menciptakan banyak karakter dalam berbagai persona, yang disesuaikan dengan kepribadian setiap klien. Memuaskan hasrat mereka terkait sosok pembunuh bayaran jadi tujuan Gary, meski tanpa sadar ia pun berusaha memuaskan dirinya sendiri.

Gary percaya bahwa kepribadian manusia tidak bisa diubah, namun aktivitas penyamaran ini mulai memunculkan pandangan lain. Apalagi ia acap kali merasa lebih nyaman menjalani hari sebagai karakter rekaannya. Serupa Holy Motors (2012) buatan Leos Carax, Hit Man menghadirkan observasi mengenai seni peran. Bagaimana akting beserta segala eksplorasinya memunculkan proses belajar. Tentang dunia sekitar, tentang orang lain, dan terpenting, tentang diri sendiri.

Di departemen akting, Glen Powell berhasil mengembalikan daya hibur melalui eksplorasinya kala mengenakan banyak "wajah". Momen paling memuaskan adalah melihat Gary si dosen kutu buku bertransformasi menjadi Ron si pembunuh bayaran keren yang penuh rasa percaya diri. Akibat persona Ron inilah Gary terlibat hubungan kompleks dengan Madison (Adria Arjona), salah satu klien yang membunuh sang suami.

Meski menulis naskahnya berdua bersama Powell, Linklater sama sekali tak kehilangan cirinya. Baris kalimat yang mampu menggelitik tanpa terasa membangkitkan tawa penonton, percakapan-obrolan acak yang berguna membangun hubungan antar karakter, hingga kemampuan mengolah interaksi sederhana menjadi situasi yang begitu kuat menarik ketegangan. Sewaktu babak akhirnya sukses melahirkan cerminan bagi suguhan twisty ala Hitchcockian, hanya saja dalam versi yang lebih ringan.

TRIGGER WARNING

 TRIGGER WARNING


Merupakan kewajaran saat sineas dari luar Amerika harus menyesuaikan gaya tatkala melakoni debut di Hollywood. Tidak jarang penyesuaian tersebut mengurangi, atau bahkan menghilangkan ciri-ciri mereka. Semua dilakukan atas nama "batu loncatan" dan "membuka jalan". Tapi di sisi lain, wajar pula menyyangkan sewaktu sutradara dengan karya-karya unik seperti Mouly Surya membuat b-movie generik seperti Trigger Warning.

Berlawanan dengan Mouly, Jessica Alba menjadikan film yang ikut memasang namanya sebagai produser eksekutif ini sebagai penanda kembalinya ia ke dunia akting sejak Killers Anonymous empat tahun lalu. Alba yang tampak tangguh memang cocok memerankan anggota pasukan khusus yang telah berulang kali meringkus teroris. Tapi Trigger Warning lebih seperti proyek di penghujung karir daripada pemantik untuk membangkitkannya. 

Setelah kembali sukses meringkus teroris, Parker (Jessica Alba) mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal akibat tertimbun tambang yang runtuh. Parker yang bersumpah kembali ke kota kecil tempat kelahirannya, hanya untuk menemukan bahwa ada kemungkinan kematian ayahnya merupakan pembunuhan.

Hampir seluruh departemen di film ini tidak bekerja maksimal, namun pangkal permasalahannya terletak pada naskah buatan Josh Olson, John Brancato, dan Michael Ferris. One-liner medioker serta celetukan-celetukan tak lucu menandai kegagalan tiga penulisnya menghasilkan naskah yang menggelitik secara cerdas. Perihal tersebut menunjukkan niat baik untuk membawakan filmnya naik kelas dibandingkan suguhan aksi straight-to-video kebanyakan, namun niat baik akan terjadi tanpa kemampuan yang memadai. 

Kondisi serupa juga bisa ditemukan dalam cara naskahnya menanam subteks soal perlawanan terhadap paham konservatif para penganut paham supremasi kulit putih, dengan membenturkan Parker dengan Ezekiel Swann (Anthony Michael Hall), seorang senator yang secara (agak) tersirat sering menyampaikan ketidaksukaan pada ras selain kulit putih. Sayangnya poin itu hanya dijadikan tempelan oleh naskahnya tanpa meninggalkan dampak berarti.

Usaha tampil lain lainnya terletak pada bagaimana penceritaan Trigger Warning disusun dalam film thriller misteri, bukan aksi biasa. Tapi sekali lagi, misteri mengenai kematian ayah Parker terlalu klise guna memancing rasa penasaran, sedangkan adegan-adegan khas film thriller seperti saat Parker menyusup ke rumah Senator Ezekiel dikemas dengan pengadeganan minim intensitas oleh Mouly. 

Tidak ada yang akan dipicu oleh Trigger Warning kecuali rasa kantuk. Membosankan. Bahkan saat Parker akhirnya mengungkap rahasia di balik kematian sang ayah pun dikemas dengan cara yang luar biasa membosankan sekaligus miskin kreativitas. Beberapa ide menarik yang berpotensi melahirkan aksi brutal gagal dimaksimalkan akibat lemahnya tata kamera, penyuntingan, serta penyutradaraan. Kekhasan Mouly lenyap tak berbekas.
Pangkalan militer yang begitu mudah diterobos hingga memperbolehkan perempuan asing masuk hanya karena ia mengaku terluka parah, hingga anggota pasukan khusus yang tanpa berpikir panjang meluncurkan roket di dalam tambang sempit, membuktikan bahwa Trigger Warning bukan cuma membosankan, tapi juga bodoh.

HANDSOME GUYS

 HANDSOME GUYS



Cowok Tampan memberi contoh bagaimana remake yang seharusnya dibuat. Bukan sekedar salinan mentah untuk mengeruk keuntungan melimpah, tapi sebuah modifikasi yang menyesuaikan kondisi tempat karya baru tersebut lahir. Nyatanya Korea Selatan memang negeri yang sempurna untuk mengadaptasi Tucker & Dale vs. Evil (2010), horor komedi pembohong buatan Eli Craig yang mengajarkan supaya kita tidak menilai buku dari sampul belaka.
Korea Selatan dengan segala pemujaannya terhadap kesempurnaan fisik jelas bukan surga bagi Jae-pil (Lee Sung-Min) dan Sang-koo (Lee Hee-Jun), kakak beradik yang tidak memenuhi standar kecantikan. Ditambah pekerjaan sebagai tukang kayu dengan beragam peralatan yang dibawa, mereka semakin terlihat intimidatif di mata banyak orang. 

Ambil contoh saat di supermarket, keduanya bertemu Sung-bin (Jang Dong-Joo) si atlet golf ternama yang tengah berlibur bersama teman-temannya di daerah pedesaan. Rombongan orang kota itu langsung ketakutan meskipun Jae-pil dan Sang-koo hanya berdiri diam. "Mereka pasti diculik", ucap salah satu teman Sung-bin.
Naskah buatan sang sutradara, Nam Dong-hyeob, menyentil arogansi manusia-manusia kota yang dibutakan oleh ego serta keyakinan atas superioritas mereka. Melihat dua orang desa berpenampilan "tidak menarik" seperti Jae-pil dan Sang-koo, deretan pemikiran negatif pun segera terlontar. 

Padahal dua protagonis kita hanya laki-laki polos dan baik. Terutama Sang-koo dengan kelembutan hatinya, yang bahkan sampai menangis saat es krimnya terjatuh. Tapi toh mereka selalu memuji ketampanan satu sama lain. 

serupa Tucker & Dale vs. Evil, segala konflik berdarah bermula ketika Jae-pil dan Sang-koo menyelamatkan seorang perempuan cantik. Namanya Mi-na (Gong Seung-yeon), salah satu anggota rombongan Sung-bin, yang dianggap remeh serta mendapat cap "pecundang" karena ia tak bergelimang uang. Sekalipun kecantikan fisik telah diturunkan, selalu ada cara bagi masyarakat untuk memandang rendah individu lain.
Meyakini bahwa Mi-na telah diculik, kawan-kawannya segera melangsungkan misi penyelamatan penuh kesalahpahaman, yang dengan cepat berubah jadi keseruan penuh darah. Tingkat sadisme dalam Handsome Guys memang sedikit ditekan bila dibandingkan film aslinya, namun pengarahan Nam Dong-hyeob berhasil mempertahankan semangat bersenang-senang yang sama. Pembohong, lucu, bertenaga, sarat kejutan. 

Ditambah lagi jajaran pemainnya, terutama trio Lee Sung-min, Lee Hee-jun, dan Gong Seung-yeun, begitu piawai "menggila" dalam berbagai situasi komedik gila yang naskahnya disediakan. Khusus bagi Lee Hee-jun, pujian besar patut diberikan terkait kemampuannya menghidupkan sisi lembut si laki-laki bertampang sangar. Adegan “tarian cuci piring” begitu efektif mendatangkan senyum.
Satu hal yang berhasil dibawakan secara lebih baik oleh Handsome Guys daripada Tucker & Dale vs. Evil adalah fakta bahwa hubungan antar karakternya tak pernah berkembang ke ranah romansa. Hasilnya adalah kehangatan yang lebih murni. Baik Jae-pil dan Sang-koo maupun Mi-na hanya memerlukan teman yang bersedia menerima mereka. 

Memasuki paruh kedua, Nam Dong-hyeob melakukan satu lagi modifikasi sebagai cara melokalkan kisahnya. Elemen mistis ditambahkan, meskipun di awal presentasinya cenderung umum, akhirnya memperoleh hasil yang memuaskan, di babak klimaks yang menyulut keseruan melalui keabsurdan. Berkatnya Handsome Guys memiliki warna khasnya sendiri.


SEKAWAN LIMO

 SEKAWAN LIMO


Melalui Sekawan Limo, Bayu Skak berhasil mencapai apa yang gagal dicapai Raditya Dika beberapa tahun lalu, yakni mengentaskan diri dari citra pria lucu yang mengakrabi patah hati, dengan mengeksplorasi genre di luar komedi romantis. Didukung naskah kreatif hasil tulisan Nona Ica, Bayu telah menguasai "seni menertawai memedi".

Berlatar Gunung Madyopuro, kami berkenalan dengan Bagas (Bayu Skak) dan Lenni (Nadya Arina) yang hendak memulai perjalanan menuju puncak. Bagas siap repot-repot menemani pendakian Lenni tidak lain karena ia menyukai teman sekampusnya tersebut. Sedangkan Lenni nampaknya menyimpan rahasia di balik kemurungan yang selalu menghiasi wajahnya. 

Tiga orang asing ikut serta dalam pendakian: Dicky (Firza Valaza) si sombong yang menyebut dirinya sendiri sebagai ketua kelompok, Juna (Benidictus Siregar) yang baik hati meski bertampang "intimidatif", serta Andrew (Indra Pramujito) yang ditemukan pingsan di hutan. Seiring waktu, kelimanya justru mulai menyaksikan rangkaian peristiwa aneh, yang memunculkan kemungkinan bahwa salah satu di antara mereka sebenarnya adalah hantu.

Sekawan Limo mungkin bukan orang yang cerdas, tapi sekali lagi, penulisan solid Nona Ica membawa misteri ringan nan menyenangkan, ketika mampu memancing pengamatan terhadap tiap karakter. Semua orang mungkin mengira sebagai hantu, pun kelak terungkap bahwa mereka sama-sama menyimpan rahasia. 

Deretan rahasia itu, ditambah mitos Gunung Madyopuro berupa larangan bagi para pendaki untuk menengok ke belakang sepanjang perjalanan, dipakai sebagai pondasi elemen drama. Kilas balik pun nantinya dipakai secara efektif untuk memberi latar belakang bagi setiap pendaki. Seperti presentasi cerita detektif tadi, naskahnya tak sampai memberi eksplorasi karakter yang luar biasa mendalam, tapi memadai.

Serupa film-film Bayu sebelumnya, Sekawan Limo masih berkutat pada upaya melupakan luka masa lalu. Bedanya, bukan manis-pahit cinta yang harus dihadapi, melainkan rangkaian problematika yang jauh lebih kompleks sekaligus kelam. Gunung dengan segala misteri yang juga sering dianggap sebagai lokasi berkontemplasi merupakan panggung yang sempurna bagi kisahnya. 

Humor milik Sekawan Limo adalah apa yang saya sebut sebagai "komedi tepi jurang". Dia mempersenjatai diri dengan berbagai banyolan khas tongkrongan yang cukup berisiko. Jika tidak mempermasalahkan tipikal komedi macam itu (mengolok-olok tampang "kurang ganteng" Juna misalnya), maka Sekawan Limo akan memproduksi tawa tanpa henti. Apalagi ia ditunjang jajaran pemain yang piawai melucu. Tidak hanya para pemeran utama, karakter pendukung seperti si tukang bakso yang diperankan Cak Ukil pun sukses mencuri perhatian.
Terpenting, Sekawan Limo bisa mengajak penontonnya durasi para demit yang menampakkan diri, dari pocong, kuntilanak, hingga genderuwo, dengan cara yang tak jarang kreatif. Mungkin hantu-hantu berparas menyeramkan itu memang tidak menyeramkan bila dibanding "hantu masa lalu" yang bahkan tak sanggup terpesona oleh jimat sesakti apa pun.

Sabtu, 22 November 2025

JURNAL RISA BY RISA SARASWATI

 JURNAL RISA BY RISA SARASWATI



Jurnal Risa oleh Risa Saraswati. Kenapa harus ada pengulangan kata "Risa" dalam judulnya? Jika ingin membedakan dengan serial Jurnal Risa (2023) buatan Awi Suryadi, bukankah cukup menambahkan "The Movie" di belakang? Mungkin orang-orang di balik film ini berambisi tampil berbeda, yang pada akhirnya malah memberi kesan berlebihan, di saat kemudahan klise seharusnya sudah cukup.

Bukan hanya judul, masalah serupa juga menggerogoti hasil akhir filmnya. Sebuah moduler horor yang berbuat terlalu banyak, baik terkait narasi maupun gaya presentasi. Padahal esensi subgenre itu terletak pada kemudahannya. Kelahirannya didasari oleh upaya membawa suatu karya sedekat mungkin dengan kenyataan. Jurnal Risa oleh Risa Saraswati amatlah jauh dari itu. 

Alurnya bercerita mengenai para pembuat film yang sedang menyusun dokumenter seputar budaya klenik Indonesia. Gagasan yang menarik, sampai mereka memutuskan untuk mengikuti Risa Saraswati dkk. memproduksi penelusuran konten, dan esensi dari keberadaan tim pembuat dokumenter itu pun menghilang. Tanpa mereka, film ini tetap bisa berjalan tanpa perubahan.

Sekali lagi, naskah buatan Lele Laila berambisi tampil beda sekaligus lebih berbobot dibandingkan konten YouTube Risa (yang mana tidak perlu), namun berujung melahirkan sesuatu yang sama bertahan. Intinya, pasca Prinsa (sebagaimana semua pelakon lain di film ini, Prinsa Maandagie memerankan versi fiktif dirinya) sebagai salah satu peserta uji nyali memanggil nama "Samex", peristiwa aneh mulai menghantui hidupnya. 

Konon Samex adalah hantu yang paling ditakuti oleh Risa. Nantinya usaha membebaskan Prinsa dari gangguan gaib membawa tim Jurnal Risa mengunjungi desa tempat kelahiran Samex. Jangan harap ada eksplorasi mitologi yang memadai di sana. Bahkan fakta mendasar seperti arti namanya ("Sawarga Malapetaka" bila mengacu pada novel Samex: Sawarga Malapetaka karya Risa Saraswati) pun luput dibahas.

Naskahnya bahkan gagal menuturkan hal sederhana seputar kaitan antara kutukan yang melanda desa tempat Samex berasal dari gangguan yang Prinsa alami dengan rapi dan mudah dipahami. Alhasil babak puncaknya melahirkan kekacauan, di tengah kegagalan Rizal Mantovani selaku sutradara mengkreasi teror. sama dengan deretan jumpscare medioker tak bertaring yang telah banyak muncul sebelumnya, klimaks film ini menampilkan intensitas minimal. 

Saya takkan mempermasalahkan kualitas kamera yang jernih. Moduler realisme tidak berbanding lurus dengan resolusi gambar buruknya. Tapi cerita lain dengan pemakaian musik serta efek suara yang terlampau riuh, atau keberadaan sudut kamera "gaib" yang entah berasal dari mana. Semuanya bermuara kembali pada satu poin: upaya berlebihan yang tidak perlu dilakukan.
Jika ada yang sebaiknya ditambah, itulah kemunculan Risa Saraswati yang menghilang di sebagian besar durasi termasuk klimaks. Orang yang namanya dua kali muncul di judul malah punya screen time paling sedikit. Sungguh film yang penuh dengan "kebalikan".