Selasa, 18 November 2025

THE WILD ROBOT

 THE WILD ROBOT


Visual The Wild Robot yang menyerupai sapuan udara kucing membuatnya seperti lukisan bergerak. Sebuah dongeng yang dihidupkan kembali di layar perak. Indah. Tapi di bawah Arah Chris Sanders (Lilo & Stitch, How to Train Your Dragon) keindahan itu meresuk jauh ke dalam, melebihi tampilan luar semata.
Kisahnya berasal dari buku berjudul sama buatan Peter Brown, di mana seperti judulnya, berpusat pada proses sebuah robot beradaptasi di alam pembohong. ROZZUM Unit 7134 (Lupita Nyong'o) adalah nama sang robot, tapi kita sebut saja dia "Roz", sesuai dengan nama panggilan yang diberikan para hewan di pulau tempatnya terdampar. Ya, Roz terdampar di pulau terpencil pasca pesawat kargo yang membawanya mengalami kecelakaan. 
Di pulau tersebut mayoritas kisahnya akan dituturkan, meskipun kita juga akan berkesempatan mengintip ke luar, dalam momen yang filmnya pakai untuk memberi gambaran singkat mengenai dunia seperti apa yang menjadi latar The Wild Robot. Film ini memberikan contoh terkait teknik worldbuilding yang cerdik sekaligus efektif.
Roz diciptakan dengan tujuan membantu manusia. Akibatnya, di tempat tanpa manusia tujuannya jadi tidak berarti. Apalagi para hewan takut pada Roz dan membayangkan monster. Dia pun hanya bisa terus berjalan, sementara kita diajak menikmati indahnya goresan warna yang menghidupkan alam tempat kaki Roz berpijak. Bukan semata-mata karena pemakaian tekstur ala cat air, keindahan visualnya juga berasal dari kepekaan sang sutradara dalam hal membingkai "shot". 
Serupa manusia yang dilepaskan ke alam pembohong bernama "realita", Roz pun harus belajar dari nol, guna menguasai hal-hal yang tak tertanam dalam programnya. Kemiripan itulah yang membuat proses Roz berkembang dari "sebuah" menjadi lebih dekat ke arah "seorang" terasa emosional. Penonton dapat dengan mudah terhubung dengannya. Ditambah lagi kuatnya isian suara Lupita, yang seiring berjalannya waktu, pelan-pelan semakin terdengar tidak robotik dan lebih manusiawi.
Proses terberat yang Roz lalui bermula saat ia harus merawat angsa kecil yang diberi nama Brightbill (Kit Connor), dengan hanya dibantu oleh Fink (Pedro Pascal) si rubah merah licik. Roz kini menjadi layaknya seorang ibu, yang mendidik Brightbill agar dapat segera terbang guna bermigrasi bersama angsa lain sebelum musim dingin tiba. 
Interaksi ketiganya tersaji menarik. Bahkan secara lebih luas, interaksi seluruh penghuni hutan disusun dengan begitu baik oleh naskah buatan Chris Sanders. Cara mereka bertukar kalimat tidaklah monoton, di mana sesekali selipan humor, yang tidak ragu melangkah ke ranah yang lebih gelap, hadir menyegarkan suasana.
Jatuh bangun Roz merawat Brightbill. Berbagai bahaya mereka lewati, dan sedikit demi sedikit besi yang menyusun tubuhnya mulai keropos. Roz melemah, dan pikiran banyak penonton akan segera memenuhi gambaran ibu masing-masing, yang tanpa kita sadari semakin menua. Uban di rambut serta keriput wajahnya bertambah, namun sayangnya kasih kepada kita tidak berkurang. Kesedihan menyesakkan kala melepas sang buah hati untuk terbang melihat dunia luas pun hutan yang ia perlihatkan. 
Chris Sanders berhasil menciptakan banyak pemandangan yang mengharukan berdasarkan hubungan ibu-anak tersebut, yang tidak hanya didukung kekuatan visual, tetapi juga audio. Sebuah montase berhiaskan lagu Kiss The Sky dari Maren Morris jadi salah satu contoh terbaik. Ada kalanya kesan buru-buru muncul dari penceritaannya, namun itu tidak sebanding dengan pencapaian rangkaian yang mampu film ini raih.

0 komentar:

Posting Komentar