A POET
Namanya Oscar Restrepo (Ubeimar Rios). Pujangga yang di masa mudanya sempat menerbitkan dua pemenang buku yang dianugerahi penghargaan, namun kini mendapati dirinya sebagai pria paruh baya pengangguran yang tinggal bersama sang ibu (Margarita Soto), bercerai dan harus berpisah dengan putrinya (Alisson Correa), lalu sesekali membaca di depan segelintir lansia.
Orang-orang yang memandangnya rendah, termasuk Efrain (Guillermo Cardona) yang sesama penulis puisi namun dengan kondisi karir sangat berlawanan. Mungkin karena stagnasi Oscar, atau sebatas aura yang ia tebar. Tubuhnya bungkuk, gerak-gerik serta tuturan menyampaikan katanya kecanggungan, sedangkan seringainya, selebar apa pun, hanya menawarkan kepahitan. Ubeimar Rios dalam debut aktingnya di layar lebarnya mampu menubuhkan sosok pengejar kejayaan seni yang tertidur.
Ada kalanya, Simón Mesa Soto selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengajak kita bersimpati terhadap kesialan-kesialan nasib si protagonis. Tapi tak jarang, dengan semangat bertutur tragikomedi, kita dipersilakan ikut tertawa menyaksikan kegetiran Oscar. Sebagai cara memperkuat lucunya sebuah humor, serta cara menggambarkan betapa hidup acap kali bergerak ke arah yang tak terduga, Soto sering mengakhiri adegannya secara tiba-tiba.
Uniknya, meski berlatarkan dunia puisi, seorang Penyair enggan terjebak dalam keharusan tampil puitis. Sebab daripada medium puisi itu sendiri, Simón Mesa Soto lebih menarik memberi sorotan ke arah penciptanya. Mengenai manusia yang melahirkan kata-kata, sepanjang hidup mereka yang tidak melulu puitis.
Suatu ketika, meski awalnya menolak karena hanya tertarik membuat puisi (yang tak kunjung ia realisasikan), Oscar terpaksa menerima tawaran bekerja sebagai guru SMA demi membayar biaya kuliah putrinya. Di sanalah ia bertemu Yurlady (Rebeca Andrade), siswi dari keluarga miskin yang hobi menulis puisi. Oscar terpukau, dan berambisi mengorbitkan Yurlady di skena puisi Kolombia.
“Apa kamu juga hidup dalam kesedihan yang mendalam?”, tanya Oscar selepas membaca puisi sarat melankoli buatan muridnya itu. Nyonya Yu tak mengiyakan. Oscar memandang hidup bak karya-karyanya: puisi yang sedih. Nyonya Yu berbeda. Padahal dunia si gadis remaja tidaklah ringan. Dia tinggal di rumah kecil bersama keluarga besarnya yang tidak selalu memiliki uang untuk membeli sebutir telur. Tapi toh Yurlady tetap bisa menikmati keseharian lewat aktivitas sederhana seperti mengecat kuku bersama sahabatnya.
Jurang kelas menganga di dunia seni juga filmnya sentil, kala Oscar membawa Yurlady bergabung dalam komunitas puisi kepunyaan Efrain. Sejak itu, setumpuk tanda tanya pun segera datang mengusik. Apakah seni memang alat bersuara kaum pinggiran, atau sebatas mainan para borjuis yang gemar memakai isu sosial sebagai alat masturbasi? A Poet secara tegas menyatakan bahwa seni (terutama puisi) bukanlah ruang kejujuran hakiki. Kejujuran serba apa adanya hanya bisa ditemui di toilet saat manusia menelanjangi diri mereka sambil membuang kotoran.
Pada suatu kesempatan, Yurlady yang tengah duduk seorang diri menyadari ada semburat cahaya matahari mengarah ke dirinya. Pelan-pelan ia resapi kehangatan cahaya tersebut, mungkin sambil merasakan denyut-denyut kehidupan di sekitarnya. Oscar hanya perlu melakukan hal serupa, kemudian menyadari bahwa hidup tidaklah harus dijadikan ajang mengejar kesuksesan. Menjadi orang baik dan bahagia pun sudah cukup.






0 komentar:
Posting Komentar