THE MOST BEAUTIFUL GIRL IN THE WORLD
Tidak diragukan lagi, Reza Rahadian dan Sheila Dara Aisha masuk dalam jajaran pelakon sinema Indonesia terbaik saat ini. Ketika ditandemkan, keduanya menciptakan daya yang luar biasa kuat, hingga membuat saya beta mengarungi 122 menit dari The Most Beautiful Girl in the World, membuatnya tetap layak ditonton meski memiliki naskah lemah, bahkan untuk standar komedi romantis generik.
Reza memerankan Reuben, pewaris takhta sebuah stasiun televisi bernama WinTV, yang berambisi melahirkan acara berkualitas tanpa memedulikan rating. Sangat bertolak belakang dengan sang ayah, Gunadi (Bucek Depp), yang tak segan menyusun program murahan demi mendulang keuntungan, termasuk acara kencan bertajuk The Most Beautiful Girl in the World. Gunadi punya seorang penasihat spiritual bernama Agung (Indra Birowo), yang anehnya tak pernah terlihat memberikan nasihat spiritual.
Sementara Sheila Dara menjadi Kiara, asisten produser di WinTV yang hidup dalam kondisi finansial pas-pasan. Hanya sahabatnya, Dita (seperti biasa dihidupkan dengan energi tinggi oleh Dea Panendra), yang bisa jadi tempat Kiara berkeluh kesah. Sampai tibalah kesempatan ketika Gunadi tiba-tiba meninggal, di mana Reuben menunjuk Kiara sebagai produser di acara baru yang ia buat demi memenuhi permintaan terakhir sang ayah.
Sedari diskusi pertama mereka yang lebih tepat disebut "perdebatan", Reza dan Sheila sudah menampakkan percik-percik romantisme yang membuat penonton tak sabar menunggu momen kala kebencian mereka bertransformasi jadi cinta. Keklisean arah penceritaan filmnya bukan lagi sesuatu yang perlu dipermasalahkan, melainkan dinantikan.
Reza yang dingin dan cenderung angkuh, Sheila yang tegas dan enggan menampilkan kelemahan, menciptakan kombinasi menyenangkan yang mendorong penonton untuk tidak memusingkan lubang-lubang dalam naskah buatan sang sutradara, Robert Ronny, bersama Ifan Ismail dan Titien Wattimena. Banyak kejanggalan bertebaran. Contohnya tatkala Kiara tampak risih melihat Reuben bermesraan dengan Helen (Jihane Almira), walaupun ia dan si bos belum sekalipun berbagi momen intim yang membuat kencannya bisa dimengerti.
Misal soal sisi playboy yang dimiliki Reuben. Sifat tersebut sudah mengakar begitu parah, hingga ia tak ragu memacari salah satu peserta acara kencan WinTV yang berakhir pada skandal. Namun saat romansanya dengan Kiara mulai marak, persoalan "Reuben adalah playboy" tidak pernah menjadi faktor yang memegang pengaruh. Akibatnya sewaktu sifat itu coba dijabarkan, lalu kita diajak mengenali trauma dari masa lalu Ruben, tiada dampak emosi yang muncul.
Narasi yang klise sempat mendapat penyegaran begitu kisahnya berubah bentuk di pertengahan durasi, bertransformasi menjadi komedi romantis ala Swept Away, ketika Reuben dan Kiara terdampar berdua di pulau kosong. Masalahnya semua bergerak terlampau cepat di pulau tersebut. Bayangkan dua manusia ibukota, di mana salah satunya adalah anak orang kaya yang bahkan belum pernah makan di warteg, sudah bisa beradaptasi di alam pembohong, termasuk dengan mudah menangkap ikan bermodalkan tombak buatan sendiri, hanya dalam waktu dua hari.
Setidaknya The Most Beautiful Girl in the World berhasil menutup kisahnya dengan manis, lewat sebuah pemandangan yang berkat sensitivitas pengarahan Robert Ronny dan chemistry dua pemeran utamanya, mampu menebar romantisme tanpa memerlukan ledakan emosi yang berlebihan. Andai keseluruhan filmnya dikemas dengan tingkat sensitivitas serupa.






0 komentar:
Posting Komentar