Senin, 17 November 2025

BOLEHKAH SEKALI SAJA KUMENANGIS

 BOLEHKAH SEKALI SAJA KUMENANGIS


Manusia bukan ilmu pasti yang menjamin bahwa "1+1 = 2". Terinspirasi dari lirik lagu Runtuh yang dibawakan Feby Putri bersama Fiersa Besari, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis jadi film yang memahami kompleksitas tersebut. Ketika batasan benar-salah memudar dan jalan keluar akan masalah tak pernah jelas, sehingga ada kalanya, seseorang bisa (dan perlu) melakukan "hanya" menangis.

Tari (Prilly Latuconsina) merupakan anggota support group yang ada di bawah koordinasi Nina (Widi Mulia). Mereka rutin berkumpul untuk menuangkan dan mendengarkan luka hati masing-masing. Ada Agoy (Kristo Immanuel) yang menyesal tak menggubris permintaan mendiang ayahnya, hingga Ica (Ummi Quary) yang selalu dituntut tampil ceria oleh lingkaran pertemanannya hanya karena ia berprofesi sebagai komika. 

Setumpuk kisah tersebut mungkin tidak mendapat eksplorasi (dan memang tidak perlu), namun eksistensinya diharapkan membuat penonton yang memiliki problematika serupa merasa terwakili, lalu meyakini bahwa mereka bukanlah anomali.

Bagaimana dengan Tari? Dia tinggal bersama kedua orang tuanya, di mana ibu Tari, Devi (Dominique Sanda), kerap menjadi korban jadi tindak kekerasan sang suami, Pras (Surya Saputra). Surya Saputra menghidupkan sosok antagonis yang mudah kita kutuk perbuatannya. Cara Surya memberatkan tarikan nafas tiap amarahnya meledak sampai membuat pembicaraannya terbata-bata, menyiratkan adanya gangguan emosi dalam diri Pras.

Sudah berkali-kali Tari mengajak pergi dari rumah, namun ibunya tetap yakin bahwa rumah tangganya baik-baik saja, dan Pras akan segera berubah. Dari situlah naskah buatan Junisya Aurelita, Santy Diliana, Rezy Junio, dan Alim Sudio mulai menggali kompleksitas manusia. Apakah penolakan Devi untuk pergi menjadikannya bertanggung jawab atas luka-luka yang Tari alami? Apakah keengganannya meninggalkan Pras adalah bentuk keseluruhan? Apakah Devi patut disalahkan?

Deretan pertanyaan di atas (menjadi) bukan pertanyaan tertutup yang dapat dijawab dengan "ya" atau "tidak". Perlu ada elaborasi lebih lanjut karena kita tengah membahas individu beserta segala kerumitannya. Tidak kalah rumitnya adalah situasi Baskara (Pradikta Wicaksono), karyawan baru di kantor Tari. Di masa mudanya, Baskara dikenal sebagai calon bintang keranjang potensial yang digadang-gadang bakal mengikuti jejak ayahnya, hingga sebuah kesalahan yang menghancurkan semuanya. 

Saya sempat membaca tulisan seseorang di X, yang mengaku sulit memahami permasalahan Baskara. Sebab tidak seperti Tari, keluarganya cenderung harmonis. Bolehkah Sekali Saja Kumenangis kembali menampilkan kompleksitasnya. Diajaknya penonton untuk memahami bahwa interpretasi tiap orang akan kata "masalah" bisa jadi berbeda-beda. Tatkala orang lain memusingkan sesuatu yang bagi kita sepele, bukan berarti kita bisa mengerdilkan kegundahannya.

Berbekal naskah yang begitu piawai merangkai kata (bukan sekedar cantik atau quoteble, tapi dapat secara tepat menjabarkan sudut pandang filmnya yang memanusiakan manusia), Bolehkah Sekali Saja Kumenangis menyatukan dua karakternya yang sama-sama terluka. Tentu saja romansa akan tumbuh, tapi interaksi Tari dan Baskara menolak jatuh ke dalam kemesraan picisan. 

Didukung chemistry natural Prilly dan Dikta, fokus hubungan keduanya bukan sebatas pertukaran kata-kata manis. Bahkan tidak jarang mereka terkesan bak pasangan "anti-romansa" yang menampik segala ciri-ciri interaksi orang yang sedang jatuh cinta (sekali lagi penulisan naskahnya patut dipuji). Tari belajar mengeluarkan isi hati, Baskara belajar menahan diri. Proses keduanya saling melengkapi.

Di kursi penyutradaraan, Reka Wijaya konsisten membawakan filmnya tampil elegan, tanpa usaha mengeksploitasi ledakan-ledakan emosi demi memenuhi wajah penonton dengan air mata. Sang sineas menangani luapan rasa di film ini dengan prinsip "secukupnya". Penceritaannya pun rapi, dengan pacing yang terasa nyaman dan memudahkan penonton tanpa sadar terhanyut dalam durasi 100 menit. 

Ada kesan ending-nya memaksa diri menumpuk terlampau banyak konklusi, tapi itu hanya kekurangan (sangat) minor yang sudah dibayar lunas oleh kehebatan momen pamungkasnya. Di situ, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis kembali mengajak kita memahami kerumitan manusia beserta perasaannya, yang tidak seharusnya dipaksa melangkah dengan buru-buru.


0 komentar:

Posting Komentar