Senin, 17 November 2025

PULAU HANTU

PULAU HANTU


Film Pulau Hantu asli populer karena alasan yang keliru. Meraup lebih dari 634 ribu penonton (tertinggi keenam ditahun 2007), ia pun berkembang menjadi trilogi yang berkontribusi mempopulerkan formula horor seksi. Selepas turun layar, kaset VCD-nya menjadi primadona banyak rental film untuk menarik perhatian remaja laki-laki yang ingin melihat para aktris berbikini berlarian di pantai.

Selang 17 tahun kemudian, remake-nya dirilis dengan tujuan modernisasi. Digarap oleh Ferry Pei Irawan yang melakoni debutnya sebagai sutradara, adegan seksi serba nanggung bukan lagi fokus utama. Pulau Hantu versi baru ini adalah contoh kasus di mana eksistensi sebuah remake patut dijustifikasi. 

Setup yang dipakai aslinya masih familiar. Dara (Taskya Namya), Noah (Bukie B. Mansyur), Lathi (Hannah Hannon), Niki (Cindy Nirmala), dan Pandu (Samo Rafael) tengah berlibur sebelum kapal yang mereka naiki karam di sebuah pulau asing yang tak terdeteksi oleh GPS. Bedanya, alih-alih bermain air di pantai, mereka masih punya cukup akal sehat untuk menghabiskan waktu dengan berusaha mencari jalan keluar.

Di sisi lain, naskah buatan Erwanto Alphadullah sesekali mengajak kita kembali ke masa lalu untuk mempelajari sejarah pulau tersebut, yang dahulu adalah lokasi sebuah rumah sakit jiwa. Mala (Amanda Green) yang sejak kecil kerap jadi korban tindak kekerasan sang ayah (Verdi Solaiman) merupakan salah satu pasien. Dialah orang di balik sosok "hantu mangap" legendaris yang bakal menghabisi karakternya satu demi satu. 

Ambisi film ini menaikkan derajat seri Pulau Hantu memang kentara. Hilangnya keseksian tanpa arti, ditambah pemberian latar belakang bagi si hantu, adalah beberapa cara yang dipakai. Alur yang enggan terlalu lama berkutat di satu karakter dan secara rutin berganti sudut pandang pun menunjukkan upaya sang penulis naskah menghindarkan kesan monoton.

Masalahnya, efektivitas trik di atas tidak bertahan lama. Penceritaan ala kadarnya yang hanya menampilkan penelusuran lima orang (dengan penokohan dangkal) mengelilingi pulau, tanpa misteri dan urgensi, bakal segera terasa membosankan. Seharusnya elemen horor datang sebagai penyelamat. 

Sedari dulu hantu mangap bukanlah antagonis yang kreatif. Modus operandinya sederhana: membunuh mangsa satu per satu. Mungkin itulah yang mendasari keputusan untuk semakin mendekatkan Pulau Hantu ke ranah pedang. Tapi perlu diingat, mencampurkan formula horor supernatural dengan pedang tidak segampang kelihatannya, dan sayangnya, poin tersebut menjadi batu sandungan untuk Pulau Hantu.

Naskahnya sendiri seolah terjebak di tengah percabangan dua subgenre tersebut. Hasilnya adalah sebuah konklusi yang terasa menggelikan, sebab naskahnya bak kebingungan mencampuradukkan keduanya (orang bodoh mana yang coba diterima hantu?). Bahkan penampilan yang kuat Taskya Namya, yang kembali piawai menyampaikan rasa takut lewat totalitasnya, sehingga membuat penonton percaya bahwa si karakter tengah mengalami teror luar biasa mengerikan, tak mampu membuat saya melupakannya. 

Kemudian terkait hal terpenting dalam film pedang, yakni "teknik membunuh". Kecuali sebuah pemandangan brutal yang melibatkan tabung gas di babak ketiga, Pulau Hantu terkesan kurang kreatif dalam memuat adegan kematian. Meskipun dibekali kekuatan supranatural, si hantu mangap nyatanya adalah pembunuh yang miskin kreativitas. Ditambah lagi, Ferry Pei Irawan seperti malu-malu dalam mengolah kebrutalan sang hantu
Mungkin Ferry ingin filmnya tampil elegan, sehingga tak menampilkan kematian dengan gamblang, pula menolak buru-buru memunculkan wajah si hantu. Tidak banyak sutradara horor kita yang memedulikan citra "elegan", tapi mungkin bukan itu yang dibutuhkan Pulau Hantu. Mungkin ia justru memerlukan pendekatan "trashy" agar bisa memberi hiburan secara maksimal.


0 komentar:

Posting Komentar