Selasa, 18 November 2025

SUMALA

 SUMALA



Seperti jamaknya produksi Hitmaker, Sumala yang mengadaptasi utas buatan Betz Illustration terlihat megah. Sebuah horor mahal. Tapi kantong tebal itu nyatanya tak membuatnya peduli pada detail. Sebaliknya, film garapan Rizal Mantovani (horor keempatnya sepanjang tahun 2024) ini seolah-olah menyuarakan peduli setan hingga terkesan mengerdilkan penontonnya.

Berlatar tahun 1940-an di Semarang, hiduplah Soedjiman (Darius Sinathrya) dan Sulastri (Luna Maya), pasangan suami istri dengan nama yang "sangat Jawa" tapi sama-sama tampil bule. Tentu Bahasa Jawa mereka, yang tidak mengetahui perbedaan wedi (takut) dan wedhi (pasir), juga berantakan. Biasanya saya bisa memaklumi lubang semacam ini, yang cenderung didasari alasan komersil, tapi Sumala sudah kelewat batas. 

Tidak seperti film beraroma "Jawakarta" lain, bukan hanya tokoh utamanya yang kacau dalam berbahasa, jajaran pemeran pendukungnya pun demikian. Mengapa filmnya enggan memilih orang Jawa tulen guna memerankan karakter pendukung yang terkenal tak memberi dampak finansial berarti? Naskah buatan Riheam Junianti, yang beberapa kali terbolak-balik menempatkan ngoko dan kromo, ikut bertanggung jawab pada kekacauan tata bahasa itu.

Tapi bukan detail bahasa saja yang tidak film ini indahkan. Setumpuk kejanggalan lain bakal menyusul, seiring guliran alur yang menyoroti upaya Soedjiman dan Sulastri untuk memiliki anak setelah menikah bertahun-tahun. Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan ketika Sulastri, yang nekat melakukan perjanjian dengan iblis, hamil anak kembar, yang bakal diberi nama Kumala dan Sumala. 

Pada akhirnya Kumala (Makayla Rose Hilli) lahir meski dalam kondisi cacat, sedangkan bayi Sumala yang berasal dari benih iblis harus kehilangan nyawanya. Kita pun menyaksikan bagaimana Sumala kembali dari kematian untuk menebar teror dengan menjadikan Kumala sebagai medium.

Kumala adalah gadis malang. Kondisinya membuat sang ayah kerap memberi kutukan, sedangkan anak-anak kampung sekitar gemar merundungnya. Anak-anak tersebut berasal dari keluarga miskin yang orang tuanya bekerja di bawah Soedjiman. Pada masa itu, di desa pula, rasanya mustahil ada rakyat jelata berani kurang terbuka terhadap keluarga sang tuan tanah. 

Hal lain yang tidak kalah janggal adalah detail rumah Soedjiman, dengan segala sentuhan yang terlampau modern di banyak sisi (saklar lampu, kenop pintu, dll.), sehingga mustahil eksis di era 1940-an, tidak peduli sekaya apa pun sang pemilik rumah. Segala kejanggalan di atas rutinitas mewarnai durasinya yang mencapai 113 menit. Terlalu panjang. Apalagi filmnya tak disertai kisah yang cukup kuat untuk menyokong durasi selama itu.

Di kursi penyutradaraan, Rizal Mantovani dengan kemampuannya merangkai gambar cantik memang partner sempurna bagi Hitmaker. Dibantu sinematografi Arah Enggar Budiono serta musik gubahan Ricky Lionardi, Rizal memastikan seluruh adegannya memancarkan kesan megah. Tapi seperti biasa pula, Rizal langsung kehilangan taring saat menghadapi tugas mengemas teror. 

Melanjutkan tradisi Hitmaker, film ini kembali mengandalkan parade gore, yang dikemas begitu generik oleh Rizal. Minimnya kreativitas, dan jika membicarakan sadisme, kadarnya pun tidaklah mencengangkan. Belum lagi ketiadaan setup yang membuat banjir darahnya terkesan numpang lewat semata. Kesadisan asal-asalan yang datang dan pergi begitu saja. Entah apa jadinya Sumala kalau bukan karena Makayla Rose Hilli. Bocah 11 tahun ini tampil dengan akting mumpuni dalam peran ganda yang bertolak belakang, menggendong Sumala seorang diri di saat para orang dewasa yang terlibat seolah-olah tidak peduli.

0 komentar:

Posting Komentar