Senin, 24 November 2025

HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES

 HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES

Warisan dapat menghancurkan keluarga. Mungkin darah lebih kental dari udara, tapi ia bisa seketika memudar saat dibayangkan dengan lembar demi lembar uang. How to Make Millions Before Grandma Dies merupakan proses karakternya (serta penonton) memahami bahwa harta bukanlah segalanya.

Bila pesan di atas terdengar klise, itu karena debut penyutradaraan layar lebar Pat Boonnitipat ini memang tidak bermaksud merombak formula. Dia tetaplah pembuat air mata yang dibuat untuk membanjiri pipi penonton dengan air mata. Ketika di menit awal para karakternya yang merupakan sebuah keluarga tengah berziarah di makam leluhur, tidak sulit menebak adegan seperti apa yang akan menutup filmnya. 

Tapi di sisi lain, ada warna berbeda yang ia tawarkan. Lihat saat si protagonis, M (Putthipong Assaratanakul), mengunjungi rumah sang nenek yang dipanggil Amah (Usha Seamkhum) untuk pertama kali. Dia berjalan melintasi sudut-sudut kota, melewati pepohonan yang basah oleh rintik gerimis, diiringi musik lembut buatan Jaithep Raroengjai. Syahdu.

Kedatangan M bukan kunjungan biasa. Amah baru didiagnosis mengidap kanker usus stadium 4, yang membuat sisa umurnya tinggal setahun lagi. Mengetahui bagaimana sepupunya, Mui (Tontawan Tantivejakul), memperoleh warisan rumah karena merawat kakeknya hingga akhir hayat, M yang gagal meraih kesuksesan sebagai streamer pun berharap bisa mendapatkan keberuntungan serupa. 

Sekali lagi, kita tahu ke mana kisahnya bakal bermuara. Rencana culas M untuk memanfaatkan sang nenek nantinya malah berakhir benar-benar merekatkan hubungan keduanya. Tapi siapa yang peduli di saat proses menuju ke sana mampu menghadirkan beragam emosi, dari tawa hangat sampai tangis haru?

Usha Seamkhum yang di usia senjanya baru melakoni debut di film ini membuat saya tenggelam di setiap menemukannya yang menyimpan setumpuk misteri mengenai isi hati Amah. Sedangkan Putthipong Assaratanakul paling piawai membawakan tendensi M menyembunyikan kegundahan serta kesedihan memakai senyum dan tawa (poin ini akan berdampak besar di ending). Mereka berdua menjalin chemistry solid yang melahirkan interaksi penuh warna. Ada saling cela, bertukar canda, dan tentunya berbagi rasa. 

Di sisi lain, baik pengarahan Pat Boonnitipat maupun naskah yang ia tulis bersama Thodsapon Thiptinnakorn (SuckSeed, Friend Zone, The Con-Heartist) sama-sama jeli merancang teajerker yang menyentuh tanpa harus terkesan mengemis tangis. serupa tampak pada momen kedatangan M yang saya singgung sebelumnya, Pat membangun dinamikanya secara bertahap. Cenderung lambat di paruh awal yang berfungsi sebagai fase observasi, sebelum akhirnya menutupi emosi sehingga memastikan penonton sudah terikat dengan karakternya.

Kejadian pun kalian menahan cucuran air mata, kemungkinan besar tembok tersebut akan runtuh di ending berlatarkan sebuah mobil pikap, yang menyampaikan salam perpisahan dengan begitu indah. Tebersit sebuah pertanyaan saat menyaksikan adegan itu. Apakah tangisan yang tumpah disebabkan oleh penggarapan filmnya yang bagus, atau semata-mata karena penonton (termasuk saya) segera menayangkan acara di layar dengan kenangan pribadi? 

Jawabannya adalah "keduanya". Cara Menghasilkan Jutaan Sebelum Nenek Meninggal terasa dekat karena ia paham betul dinamika keluarga, khususnya keluarga Asia. Bagaimana warisan bisa melenyapkan kasih sayang, bagaimana berkumpul di rumah nenek merupakan momen hangat yang selalu dinanti, bagaimana si nenek dengan tidak sabar menantikan kedatangan anak-cucu sembari mengenakan pakaian terbaiknya, pula bagaimana kesepian selepas kebersamaan terasa begitu menyengat terutama bagi lansia yang hidup seorang diri. Kenangan segala tentang kebersamaan itulah warisan berharga yang sesungguhnya.


0 komentar:

Posting Komentar