Minggu, 16 November 2025

AMAZON BULLSEYE

 AMAZON BULLSEYE


Di salah satu adegan, film protagonis ini, yang tersesat di pedalaman Amazon, menyeruput air kobokan yang ia kira minuman. Warkop DKI pernah menampilkan lelucon serupa di Godain Kita Dong yang rilis 35 tahun lalu. Amazon Bullseye memang tampil cukup menyenangkan, tapi tak dapat ditampilkan seperti produk dari masa lalu akibat beberapa humor yang terasa ketinggalan zaman.

Alkisah, Jin-bong (Ryu Seung-ryong) yang dahulu merupakan atlet panahan kebanggaan Korea Selatan, kini menjadi pegawai kantoran biasa yang terancam oleh renovasi. Beruntung, kesempatan untuk menyelamatkan pekerjaan yang berhasil Jin-bong dapat, ketika ia diutus melatih tim panahan negara fiktif bernama Boledor yang terletak di dekat hutan Amazon dalam persiapan mereka menuju turnamen internasional, sebagai salah satu bagian perjanjian dari proyek bisnis perusahaannya. 

Nantinya pesawat yang Jin-bong tumpangi mengalami kecelakaan. Dia terdampar di tengah pemukiman suku pedalaman, lalu bertemu Sika (Igor Pedroso), Iva (Luan Brum), dan Walbu (J.B. Oliveira), tiga prajurit jago panah yang akhirnya Jin-bong sertakan menjadi anggota timnas Boledor. Absurd. Tapi sebelum keabsurdan itu tiba, Amazon Bullseye agak tertatih-tatih dalam melangkah.

Amazon Bullseye berambisi menghadirkan kelucuan ke tingkat tertinggi, bahkan sebelum menu disajikan. Alhasil, kesan "terlalu memaksakan diri terlihat lucu" begitu kentara di segala lini, dari naskah buatan Bae Se-young, pengarahan Kim Chang-ju sebagai sutradara, hingga tingkah laku jajaran pemainnya. Semuanya seperti mengemis tawa penonton. 

Film ini menemukan pijakannya seiring konflik utama yang semakin menebal. Benar bahwa beberapa ide humornya memang ketinggalan zaman (ketika Jin-bong berkata "shibal" dan Sika mengira si orang Korea mengetahui namanya adalah satu lagi contoh), tapi bukan berarti daya hiburnya nihil. Apalagi Ryu Seung-ryong tampak semakin nyaman dan berhasil mengeluarkan pesona khasnya, tatkala filmnya sendiri mulai tampil lebih natural.

Tidak ada penokohan kompleks di sini, terutama bagi trio pemanah Amazon yang hanya digambarkan sebagai "prajurit mulia yang ingin menyelamatkan tanah leluhur". Tapi di sisi lain, kelemahan tersebut juga membuat yang ketiga menyenangkan disukai. Sika, Iva, dan Walbu merupakan orang-orang baik dengan jiwa yang murni, dan itu sudah cukup untuk mendorong penonton mendukung perjuangan mereka.

Begitu turnamen usaian digelar, berakhirnya pencurian simpati penonton itu jadi salah satu alasan deretan pertandingannya berlangsung intens. Kita ingin perwakilan Boledor berjaya. Tapi di luar itu, pengarahan solid Kim Chang-ju, yang cukup jeli memanfaatkan gerakan lambat, juga ikut berjasa. Sayang, departemen penyuntingan tidak memberikan kenyamanan itu. Acap kali filmnya terkesan kacau, dengan transisi antar adegan yang tergesa-gesa.
Jangan berharap suguhan "komedi juara" dari sini. Tapi jika diperuntukkan sebagai momen hiburan, dengan bumbu drama hangat mengenai indahnya persaudaraan yang mampu mempersatukan kuat meski terpisah jarak, maka Amazon Bullseye berhasil mendaratkan anak panahnya tepat di sasaran.

0 komentar:

Posting Komentar