PESUGIHAN SATE GAGAK
Di hadapan layar sinema, terlindung dalam ruang bioskop serta pemahaman bahwa mereka tengah menyaksikan kepalsuan, penonton cenderung merasa aman saat disuguhi horor. Apalagi jika konteksnya digeser ke produk lokal dengan kecenderungan mengumbar muka demit tanpa memahami akar kengeriannya. Jangankan seram, kesan konyol justru kerap muncul. Pesugihan Sate Gagak, selaku penyutradaraan debut Etienne Caesar dan Dono Pradana, merangkul kekonyolan tersebut.
Naskah buatan Nuugro Agung tetap mengangkat mistisisme Jawa, yakni pesugihan sate gagak sebagaimana terpampang di judul. Tatkala banyak "horor serius" gagal menyulap mitologi klenik jadi presentasi menarik akibat sekadar asal melempar informasi, film ini benar-benar menjadikan pemandangan utama.
Anto (Ardit Erwandha) yang hanya berprofesi sebagai pegawai warteg, sedang kelabakan menyiapkan pernikahannya dengan Andini (Yoriko Angeline), sebab ibu sang kekasih (Nunung) cuma memberi waktu sebulan guna mengumpulkan mahar 150 juta. Terpikirlah sebuah jalan pintas, yakni melangsungkan ritual pesugihan sate gagak bersama dua sahabatnya yang juga terlilit masalah finansial, Dimas (Yono Bakrie) dan Indra (Benidictus Siregar).
Pengembangan kisahnya memang penuh dengan perwujudan yang menggambarkan logika, bahkan untuk ukuran cerita mistis yang serba mustahil. Semua dilakukan atas nama tawa. Persoalan usia karakter penjual gagak yang diperankan Arif Alfiansyah misalnya. Tapi bukan berarti departemen penulisannya bekerja asal-asalan.
Begitu melangkah keluar dari studio, seawam apa pun anda perihal dunia klenik, pemahaman mengenai pesugihan sate gagak akan didapat. Ritual serba-serbi, syarat yang harus dipenuhi, sampai dampak fatal dari pesugihan yang sekilas aman karena melibatkan tumbal manusia ini. Bukti bahwa naskahnya memperhatikan detail, dan sekali lagi, mampu memposisikannya sebagai menu utama alih-alih sekadar penjualan muka demit.
Demikian pula tentang karakterisasi. Sekilas tak ada karakter serius, baik trio tokoh utama, hingga jajaran pendukung seperti Abah Budi (Firza Valaza) si dukun, maupun para hantu selaku konsumen sate gagak. Semua berlaku senada dengan keabsurdan humornya. Tapi sewaktu dibutuhkan, mereka dapat berfungsi secara normal sebagai karakter yang utuh.
Si dukun nyatanya jago menangani permasalahan mistis, para pelaku pesugihan tetap memiliki hati layaknya manusia biasa, sedangkan para demit yang sempat keracunan makanan, memperoleh kembali harga diri mereka kala diharuskan meneror bersenjatakan tata rias yang cukup mengerikan, juga kemunculan yang tak sebatas mengageti penonton.
Jasa para pemainnya tak bisa dielakkan. Materi komedi yang tidak semuanya segar pun mendapatkan kekuatan ekstra. Contoh: Mengolok-olok perawakan Beni adalah "amunisi mudah" untuk mengundang tawa yang sudah sangat sering dipakai oleh film lain. Tapi kelihaian sang komedian mengolah raut wajah kala merespons olok-olok bagi fisiknya itu membuat keefektifan humornya tak luntur. Begitu juga seputar celotehan ngawur Arief Didu yang memerankan ayah Andini, hingga "nyanyian merdu" Arif Alfiansyah.
Pesugihan Sate Gagak bahkan cukup solid ketika melangkahkan kaki ke ranah yang lebih dramatis. Melihat trio Anto-Dimas-Indra saling baku kata, melontarkan sumpah serapah dalam Bahasa Jawa setelah sebelumnya selalu ciuman konyol, terasa jauh lebih "raw" daripada bumbu drama di jajaran horor lokal yang (dia) serius. Mungkin pisuhan Jawa adalah ungkapan kemarahan yang menusuk yang memperkuat kesan manusiawi.






0 komentar:
Posting Komentar