PREDATOR: BADLANDS
Dia memakai jasa rekan sekantornya (Conan O'Brien) guna berkeluh kesah, tapi si terapis hanya menambah panjang daftar karakter laki-laki dengan ketidakpekaan dan ketidakpedulian mereka. James (ASAP Rocky), karyawan di motel tempat Linda dan putrinya menginap selama apartemen mereka diperbaiki, sempat memberikan bantuan, namun itu saja belum cukup.
Kaum Yautja telah berkali-kali menginvasi Bumi bermodalkan berbagai senjata canggih. Tapi berkali-kali pula mereka dipecundangi manusia, dari militer gahar, polisi paruh baya, bahkan Comanche yang masih percaya. Si pemangsa selalu berakhir dimangsa oleh buruannya. Predator: Badlands secara tidak langsung menjawab permasalahan tersebut, dengan memposisikan harga diri Yautja sebagai sumber malapetaka mereka sendiri.
Selepas adegan pembuka yang mematenkan kebarbaran Yautja yang tak mengampuni kelemahan berbentuk apa pun termasuk kebaikan hati, kita mengikuti petualangan Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi), Yautja muda yang menatap sebelah mata akibat perawakan kecilnya. Didorong ambisi membuktikan diri, Dek berniat memburu Kalisk, predator apeks dari Planet Genna yang konon mustahil dibunuh. Dia tidak otot menjalankan misi tersebut seorang diri.
Tapi Genna bukan diisi Kalisk semata. Ada rumput setajam silet, tanaman yang bisa melesatkan racun beracun, sampai serangga dengan daya ledak tinggi. Seluruh pengisi ekosistemnya dapat mendatangkan maut. Sebuah konsep menarik dalam naskah buatan Patrick Aison dan Brian Duffield, guna membedakan latarnya dari hutan-hutan biasa yang kerap jadi panggung kematian waralaba Predator.
Menempatkan sang predator sebagai mangsa empuk yang mesti was-was di setiap langkahnya memang sekilas terdengar radikal, namun malah menyajikan formula baru dengan modifikasi asal ekstrim seperti The Predator (2018), para kreatornya, tidak terkecuali Dan Trachtenberg sebagai film yang berjasa mengembalikan kejayaan Predator dalam beberapa tahun terakhir, sebatas menerapkan terhadap perluasan konsep semestanya tanpa pernah keluar jalur.
Begitu pula perihal genrenya. Badlands bukan lagi fiksi ilmiah yang bernapaskan hororslasher. Sadismenya dipangkas, ketiadaan karakter manusia pun berakhir menghilangkan pertumpahan darah. Komparasi dengan judul-judul petualangan luar angkasa dengan bumbu buddy film (The Mandalorian contohnya) akan muncul, apalagi setelah karakter Thia (Elle Fanning) diperkenalkan.
Thia adalah android kepunyaan Weyland-Yutani, yang terjebak di Genna dalam kondisi rusak parah. Berbeda dengan sesamanya, ia memiliki kepribadian yang lebih berwarna, ceria, dan tidak jarang jenaka. Elle Fanning berhasil melahirkan figur android Weyland-Yutani paling disukai sepanjang sejarah. Berbekal pemahamannya mengenai ekosistem Genna, Thia menawarkan bantuannya pada Dek.
Para puritan mungkin akan menghujat standar film komedi buddy ini. Terlebih kala Bud, sesosok monster kecil menggemaskan, juga daya hibur terbesar Badlands, sekaligus pesan utamanya, mengenai satu hal yang asing bagi kaum Yautja dalam perburuan mereka. yaitu nilai-nilai kebersamaan. Kalau anda tak mempermasalahkan fakta bahwa Yautja memerlukan uluran tangan makhluk lain saat beraksi, maka Badlands akan menjadi pengembangan yang menyenangkan.
Klimaksnya meneruskan prinsip tersebut, sewaktu Dek mengubah setumpuk ancaman yang dikandung oleh Genna menjadi amunisi personalnya. Gelaran aksinya berisi ide-ide kreatif, termasuk penerapan elemen subgenre kaiju yang bombastis. Nuansa "pertarungan brutal sampai mati" khas waralabanya memang absen, tapi Dan Trachtenberg, yang terus menunjukkan keserbagunaannya saat menangani Predator, tetap menjaga poin terpenting: Mengutamakan kecerdikan otak daripada kekuatan otot di medan pertempuran.






0 komentar:
Posting Komentar