Selasa, 18 November 2025

LOVE IN THE BIG CITY

 LOVE IN THE BIG CITY


Ketika memutuskan menonton Love in the Big City, saya hanya berharap disuguhi komedi manis romantis ringan nan khas Korea Selatan. Semua berawal sesuai ekspektasi. Heung-soo (Noh Sang-hyun) yang cenderung tidak menonjol, diam-diam mengamati Jae-hee (Kim Go-eun) yang menarik perhatian semua orang melalui sikap semau miliknya. Mereka sama-sama mahasiswa Sastra Prancis.

Terkesan seperti intro komedi romantis pada umumnya, yang membuat penonton menantikan bertemu dengan kedua tokoh utama yang lucu. Sampai naskah buatan Kim Na-deul, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Sang Young Park, melontarkan kejutan. Suatu malam, Jae-hee yang tengah mabuk menggoda dua laki-laki yang sedang berciuman di jalan. Salah satunya adalah Heung-soo. 

Sejak itulah Cinta di Kota Besar berevolusi. Heung-soo dan Jae-hee memang takkan bercinta, namun tetap ditakdirkan bersama. Laki-laki gay yang bersembunyi preferensi demi menghindari persekusi, dan perempuan berjiwa bebas yang mendapat cap "nakal". Persahabatan pun tumbuh. Mereka tinggal bersama, sering bertukar cerita, sambil sesekali bersantai memakai masker sambil mendengarkan lagu Bad Girl Good Girl dari Miss A. Tiada kekhawatiran benih cinta akan tumbuh dan mengancam jalinan persahabatan.

Masing-masing menyimpan kegamangan. Sebagai seorang gay yang tertutup, Heung-soo tak bisa dengan bebas menjalin asmara meski telah menemukan sosok yang ia cinta. Sedangkan kegemarannya mabuk-mabukan di klub malam membuat Jae-hee acap kali digosipkan bergonta-ganti pacar. Dia dipanggil "murahan", di saat laki-laki hidung belang justru dianggap keren karena mampu merebut hati banyak perempuan. 

Love in the Big City menampilkan betapa buruknya masyarakat seksual terhadap individu yang dirasa “berbeda”, baik terkait preferensi maupun peran gender. Penyajiannya cerdas, begitu pula menampilkan keseimbangan elemen drama dan komedi lewat penulisan jeli, serta penyutradaraan dengan sensitivitas tinggi dari E.oni. Lihat bagaimana dalam adegan "darah di toilet", filmnya mampu dengan cepat beralih dari kesan tragis menjadi jenaka.

Dualitasnya sungguh mengagumkan. Misal seputar kebiasaan ibu Heung-soo (Jang Hye-jin) pergi ke gereja lalu berdoa setiap pagi tapi supaya sang putra "sembuh" dan tak lagi menyukai sesama laki-laki. Ada kalanya situasi tersebut hadir untuk ditertawakan, namun ada pula momen ketika itu menjadi sesuatu yang menyakitkan. 

Akting dua pemeran utama pun membawa semangat serupa. Noh Sang-hyun dan Kim Go-eun begitu jago "berganti wajah". Di satu titik mereka menyulut tawa, lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi memancing haru. Di balik gelas demi gelas alkohol yang rutin menemani malam hari mereka, ada kepedihan terpancar dari mata masing-masing. Karena itulah universal menyatukan Heung-soo dan Jae-hee. Supaya ketika rasa pedih itu tak lagi terbendung, keduanya bisa berlari ke pelukan satu sama lain.

0 komentar:

Posting Komentar