Selasa, 18 November 2025

HOME SWEET LOAN

 HOME SWEET LOAN



Di antara semua karya sineas Indonesia tahun ini, mungkin Home Sweet Loan yang paling mewakili "orang biasa". Orang-orang yang harus berjibaku dengan realita tanpa bantuan keluarga kaya atau rekan-rekan pemegang kekuasaan, hingga untuk memiliki tempat berteduh milik sendiri saja kesulitan. Mereka yang luntang-lantung layaknya seekor keong yang berjuang menemukan cangkang baru sebagai rumah.

Novel mengadaptasi berjudul sama buatan Almira Bastari, kisahnya berpusat pada keseharian Kaluna (Yunita Siregar), seorang karyawan swasta kelas menengah yang hidup sederhana demi mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Sebelum mimpi itu tercapai, Kaluna masih harus tinggal di rumah orang tua bersama dua kakaknya, Kanendra (Ariyo Wahab) dan Kamala (Ayushita), yang sama-sama sudah menikah dan memiliki anak. 

Sabrina Rochelle Kalangie sebagai sutradara, yang juga menulis naskah bersama Widya Arifianti, secara sangat akurat menggambarkan pergulatan kaum kelas menengah lewat kehidupan protagonisnya. Bagaimana hasrat mempunyai rumah acap kali juga mendorong keinginan untuk bebas dari keluarga, yang alih-alih mendukung, justru tak jarang menjadi baik.

Sebagai satu-satunya lajang di keluarga, Kaluna dianggap mempunyai beban paling ringan meski tidak pernah secara gamblang diutarakan. “Lo bakal ngerti kalau udah punya anak”, ucap iparnya, Natya (Ina Marika), menanggapi keluhan Natya mengenai anak-anaknya. Di kesempatan lain, Kanendra si putra sulung pun dengan santai menyuruh adik bungsunya itu mengisi token listrik yang habis. 

Satu-satunya tempat Kaluna menuangkan keluh kesah adalah tiga sahabatnya: Danan (Derby Romero), Tanish (Risty Tagor), dan Miya (Fita Anggriani Ilham). Merekalah yang setia menemani Kaluna berkeliling Jakarta mencari tempat tinggal idaman. Tapi biar bagaimanapun, sahabat tidak berada di sisinya setiap saat. Terkadang alunan musik di earphone merupakan satu-satunya kawan Kaluna.

Ketika lagu diputar, adegan berubah menjadi gerak lambat. Rasanya juga yang Kaluna inginkan. Sejenak memperlambat laju hidupnya, lalu menenggelamkan diri dalam ruang intim yang damai dan sepenuhnya adalah milik dia. Pada suatu kesempatan, baterai earphone Kaluna habis sewaktu ia masih berada di atas bus. Betapa menyiksanya perjalanan pulang itu bagi Kaluna, dan saya rasa banyak penonton akan memahami kondisi tersebut.

Relevansi dan akurasi memang kekuatan utama Home Sweet Loan. Kesan itu hadir dalam banyak aspek, dari konflik utama hingga detail-detail kecil sebagai penguat realisme. Perhatikan saat sayup-sayup terdengar lagu legendaris Bakpao Mega Jaya di lingkungan rumah Kaluna. Hanya warga kelas menengah yang akan segera mengenali jingle tersebut.

Salah satu momen paling hangat di filmnya terjadi saat Kaluna berhasil menemukan rumah idamannya. Senyumnya mengembang lebar. Sesuatu yang tidak pernah kita saksikan sebelumnya. Kemudian dia mengitari tiap sudut rumah sambil membayangkan hal-hal yang kelak ingin dilakukan di situ, seperti memasak atau sekadar merebahkan tubuh yang lelah sepulang kerja di sofa. 

Sangat sederhana, tetapi begitu hangat. Sabrina mengolah momen itu dengan kepekaan luar biasa, memancarkan romantisme yang lebih manis daripada adegan percintaan mana pun. Mungkin karena kita memang sedang menyaksikan romantika antara manusia dengan mimpinya.

0 komentar:

Posting Komentar