Minggu, 23 November 2025

GODZILLA MINUS ONE

 GODZILLA MINUS ONE


Sungguh waktu yang menggembirakan bagi penggemar Godzilla. Ada masa sosok Godzilla dipakai sebagai alegori terhadap dampak ledakan bom atom, ada pula masa ia menjadi jagoan pelindung dalam rangkaian pertarungan over-the-top antar monster raksasa. Tapi sekarang para penggemar mendapatkan keduanya. Monsterverse memberikan throwback ke nuansa cheesy khas banyak produk era Showa, sedangkan melalui Godzilla Minus One, Toho melahirkan salah satu cerita humanis terbaik yang pernah franchise ini tuturkan.

Judulnya merefleksikan kondisi Jepang yang berada di titik nadir selepas Perang Dunia II. Kōichi Shikishima (Ryunosuke Kamiki) merupakan salah satu penyintas perang, namun selain tercekik kemiskinan, hidupnya pun menderita akibat rasa bersalah. Shikishima adalah pilot kamikaze yang kabur dari misi, memilih bertahan hidup daripada mengorbankan nyawa demi kejayaan bangsa. Tapi patutkah hal itu dianggap aib? 

Di tangan Takashi Yamazaki selaku sutradara sekaligus penulis naskah, Godzilla Minus One berbicara tentang kehidupan dengan menyentil tentang bagaimana manusia, atau dalam konteks film ini bangsa Jepang, dirasa kurang menghargai nyawa. Kondisi tersebut dirangkum oleh pembuka adegannya, kala Shikishima menyaksikan banyak sejawatnya dibantai oleh Godzilla.

Di situ Shikishima terlalu takut untuk melepaskan tembakan sehingga disalahkan atas kematian rekan-rekannya. Tapi kalau diperhatikan, sejatinya Godzilla takkan melakukan membunuh andai prajurit lain melakukan hal seperti Shikishima: tidak menembak duluan. Pecahnya peperangan pun terjadi dalam kondisi serupa. Shikishima yang takut dan membunuh bukanlah salahnya. Justru dia adalah manusia yang menghargai kemanusiaan.

Nantinya kita bakal menyaksikan Godzilla perlahan-lahan melebarkan teritorinya ke area perkotaan, sementara umat manusia berjuang melindungi diri sendiri serta orang-orang tercinta. Bagi Shikishima, orang itu adalah Noriko Ōishi (Minami Hamabe), gadis yang ia berikan tempat tinggal.

Yamazaki memastikan bahwa Godzilla Minus One menyeimbangkan dua sisi, yakni sebagai blockbuster megah dan kisah humanis yang menggugah. Didukung efek visual realistis meski hanya bermodalkan biaya tidak sampai 10% dari Godzilla x Kong: The New Empire (yang membawakan filmnya menyabet piala Oscar), sang sutradara menumpahkan segala talenta artistiknya. 

Bersama Kōzō Shibasaki selaku penata kamera, Yamazaki begitu cerdik mengolah shot demi shot yang membuat setiap kemunculan Godzilla di layar tidak terasa percuma. Si Raja Monster tampak perkasa, garang, bahkan tak jarang mengerikan. Dia berenang cepat mengikuti kapal kayu yang ditumpangi Shikishima, dengan beberapa bagian tubuhnya menunjukkan ke permukaan. Akhirnya ada film Godzilla yang mengambil inspirasi dari Jaws (1975). Sungguh kreatif.

Sesekali kita mendengar kalimat-kalimat kaya rasa hasil tulisan Yamazaki (“Kami meninggalkan masa depanmu”, “Belum pernah menyembunyikan itu sesuatu yang harus dibanggakan”, dll.), yang semakin menegaskan visi sang sineas. Segala peperangan dan kehancuran dalam Godzilla Minus One digarapan tersaji epik, salah satunya berkat musik gubahan Naoki Satō yang dapat terdengar intens maupun menyentuh sesuai kebutuhan. Bukan sebatas aksi bombastis kosong, melainkan ledakan petualangan manusia didasari kecintaan pada hidup. 

Begitulah manusia. Mereka enggan dikirim untuk mati di luar kemauan, tapi bukan mustahil rela mempertaruhkan nyawa demi sosok tercinta. Jika pemerintah dan militer akan mengerahkan pasukan ke medan perang untuk mati, rakyat sipil berperang untuk hidup di masa depan

0 komentar:

Posting Komentar