Senin, 24 November 2025

ABIGAIL

 ABIGAIL



Abigail berangkat dari premis tentang serangan vampir balerina. Dilihat dari sudut mana pun, sebutan "vampir balerina" memang terdengar konyol. Bodoh. Tapi poin film terbaik garapan duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett ini bukanlah berhasil "memintarkan" ide tersebut, melainkan kesediaan mengamini menggalinya. Kenapa harus malu bila ukiran tersebut mampu melahirkan daya hibur tinggi?

Dikisahkan, enam kriminal bertugas menculik bocah bernama Abigail (Alisha Weir) dengan tujuan meminta uang tebusan sebesar 50 juta dollar kepada ayahnya. Keenamnya memakai nama samaran untuk berkomunikasi, dan Joey (Melissa Barrera) adalah panggilan yang dipakai oleh protagonis kita, sedangkan Abigail merupakan si vampir balerina yang bakal merenggut nyawa enam leluhurnya satu per satu. 

Penonton yang familiar dengan tipikal tontonan semacam ini pasti sudah hafal pola penceritaannya. Sebelum menyantap menu utama yang lezat, kita harus melewati sajian pembuka yang cenderung melelahkan, karena berisi obrolan membosankan antara karakter-karakter yang disampaikan minim daya tarik. Sebatas upaya memenuhi durasi daripada sungguh-sungguh berusaha membangun latar belakang secara solid. Tapi Stephen Shields dan Guy Busick selaku penulis naskah punya rencana lain.

Barisan manusia di Abigail memang tak dibekali penokohan yang sangat mendalam, namun kebanyakan dari mereka terasa “berwarna”. Frank (Dan Stevens) si pemimpin tim, hingga Peter (Kevin Durand) si pria berotot besar dengan kapasitas otak kecil, kepribadian punya yang bisa memproduksi rangkaian interaksi menarik, karena karakter mereka tidak pernah diperlakukan dengan terlalu serius oleh para penulis naskah. 

Seluruh manusia di film ini sadar seaneh apa situasi yang sedang dialami. Mereka paham betapa absurdnya dikejar-kejar oleh vampir balerina, atau membekali diri dengan bawang putih sebagai metode membasmi sang monster. Dari situlah kelucuan kerap dibangun.

Ketimbang basa-basi yang melelahkan, Shields dan Busick pun menyiapkan bentuk adegan yang lebih kreatif guna memperkenalkan setiap individu, ketika Joey menunjukkan kemampuan deduksi ala detektif yang ia pakai untuk membaca latar belakang masing-masing orang. Menyenangkan. Apalagi para pemainnya juga tampak bersenang-senang melakoni peran mereka, dari kepiawaian Dan Stevens membuat sarkasme, pembuktian kematangan Melissa Barrera hasil pengalamannya menjadi final girl, sampai bagaimana Alisha Weir selalu mencuri perhatian sebagai predator kecil yang bermain-main dengan mangsanya.  

Dihasilkan oleh dua sineas yang menciptakan Ready or Not (2019) dan meningkatkan kadar kekerasan di seri Scream melalui Scream VI (2023), begitu sang vampir mulai beraksi, banjir darah jelas tak terelakkan.

Bettinelli-Olpin dan Gillett menerapkan kekhasan mereka untuk sedikit memodifikasi formula kisah vampir. Di film ini, ketika terpapar cahaya matahari atau jantungnya ditikam, tubuh para vampir tidak terbakar tetapi meledak. Kegemaran keseluruhan tubuh itulah yang akan memunculkan perbandingan antara konklusi Abigail dengan karya mereka berdua sebelumnya.

Kekurangannya malah terletak pada premis eksplorasi "vampir balerina", yang meski mampu memproduksi beberapa momen nyeleneh, sayangnya tak pernah benar-benar jadi bagian esensial yang menambah kesegaran filmnya di ranah eksekusi. Alhasil, petak umpet yang terjadi antara manusia melawan vampir ada kalanya terasa lebih umum dibandingkan apa yang berpotensi mencapai capaian filmnya. Tapi semangat bersenang-senang yang tertanam di setiap sudut Abigail membuatnya mampu mempertahankan kekuatan untuk menghibur penonton hingga akhir.

0 komentar:

Posting Komentar