Minggu, 23 November 2025

SEKAWAN LIMO

 SEKAWAN LIMO


Melalui Sekawan Limo, Bayu Skak berhasil mencapai apa yang gagal dicapai Raditya Dika beberapa tahun lalu, yakni mengentaskan diri dari citra pria lucu yang mengakrabi patah hati, dengan mengeksplorasi genre di luar komedi romantis. Didukung naskah kreatif hasil tulisan Nona Ica, Bayu telah menguasai "seni menertawai memedi".

Berlatar Gunung Madyopuro, kami berkenalan dengan Bagas (Bayu Skak) dan Lenni (Nadya Arina) yang hendak memulai perjalanan menuju puncak. Bagas siap repot-repot menemani pendakian Lenni tidak lain karena ia menyukai teman sekampusnya tersebut. Sedangkan Lenni nampaknya menyimpan rahasia di balik kemurungan yang selalu menghiasi wajahnya. 

Tiga orang asing ikut serta dalam pendakian: Dicky (Firza Valaza) si sombong yang menyebut dirinya sendiri sebagai ketua kelompok, Juna (Benidictus Siregar) yang baik hati meski bertampang "intimidatif", serta Andrew (Indra Pramujito) yang ditemukan pingsan di hutan. Seiring waktu, kelimanya justru mulai menyaksikan rangkaian peristiwa aneh, yang memunculkan kemungkinan bahwa salah satu di antara mereka sebenarnya adalah hantu.

Sekawan Limo mungkin bukan orang yang cerdas, tapi sekali lagi, penulisan solid Nona Ica membawa misteri ringan nan menyenangkan, ketika mampu memancing pengamatan terhadap tiap karakter. Semua orang mungkin mengira sebagai hantu, pun kelak terungkap bahwa mereka sama-sama menyimpan rahasia. 

Deretan rahasia itu, ditambah mitos Gunung Madyopuro berupa larangan bagi para pendaki untuk menengok ke belakang sepanjang perjalanan, dipakai sebagai pondasi elemen drama. Kilas balik pun nantinya dipakai secara efektif untuk memberi latar belakang bagi setiap pendaki. Seperti presentasi cerita detektif tadi, naskahnya tak sampai memberi eksplorasi karakter yang luar biasa mendalam, tapi memadai.

Serupa film-film Bayu sebelumnya, Sekawan Limo masih berkutat pada upaya melupakan luka masa lalu. Bedanya, bukan manis-pahit cinta yang harus dihadapi, melainkan rangkaian problematika yang jauh lebih kompleks sekaligus kelam. Gunung dengan segala misteri yang juga sering dianggap sebagai lokasi berkontemplasi merupakan panggung yang sempurna bagi kisahnya. 

Humor milik Sekawan Limo adalah apa yang saya sebut sebagai "komedi tepi jurang". Dia mempersenjatai diri dengan berbagai banyolan khas tongkrongan yang cukup berisiko. Jika tidak mempermasalahkan tipikal komedi macam itu (mengolok-olok tampang "kurang ganteng" Juna misalnya), maka Sekawan Limo akan memproduksi tawa tanpa henti. Apalagi ia ditunjang jajaran pemain yang piawai melucu. Tidak hanya para pemeran utama, karakter pendukung seperti si tukang bakso yang diperankan Cak Ukil pun sukses mencuri perhatian.
Terpenting, Sekawan Limo bisa mengajak penontonnya durasi para demit yang menampakkan diri, dari pocong, kuntilanak, hingga genderuwo, dengan cara yang tak jarang kreatif. Mungkin hantu-hantu berparas menyeramkan itu memang tidak menyeramkan bila dibanding "hantu masa lalu" yang bahkan tak sanggup terpesona oleh jimat sesakti apa pun.

0 komentar:

Posting Komentar