MAHARAJA
Maharaja ramai dibicarakan serta banjir pujian karena berbagai twist miliknya, yang pantas ia dapatkan. Bukan sekedar unggul dari segi kuantitas, film buatan Nithilan Swaminathan ini juga menunjukkan bahwa twist dapat memperkuat cerita, yang menampilkan tragedi. Bagaimana keburukan seperti tindak kriminal, apa pun logika, hanya akan mendatangkan setumpuk hal buruk lain yang meninggalkan jejak-jejak darah.
Judul filmnya berasal dari nama sang protagonis, Maharaja (Vijay Sethupathi), seorang tukang cukur pendiam yang hidup berdua bersama puterinya, Jothi (Sachana Namidass). Di rumah mereka terdapat sebuah tong sampah yang diberi nama Lakshmi, dan diperlakukan bak anggota keluarga, karena pernah "menyelamatkan" Jothi dari sebuah kecelakaan maut sewaktu ia kecil. Kecelakaan tersebut menimpa istri Maharaja.
Jika John Wick melakukan pembunuhan didasari kemarahan selepas kematian anjingnya, maka Maharaja tidak ragu menumpahkan darah setelah mengetahui tong sampah tercintanya dicuri beberapa orang yang menerobos ke dalam rumahnya. Apalagi saat pihak kepolisian yang dipimpin Inspektur Varadharajan (Natarajan Subramaniam) enggan serius menganggap laporannya, Maharaja tak gentar.
Ketidakbecusan aparat yang Maharaja menghasilkan komedi satir sarat humor segar nan kreatif, sekaligus sindiran tajam terhadap polisi yang menganggap rakyat sebagai beban, bahkan lawan. “Masyarakat harus takut pada polisi”, ucap Inspektur Varadharajan. Tapi Maharaja terus berdiri tegak di depan salah satu sumber borok negara itu.
Vijay Sethupathi membawakan karakter Maharaja layaknya batu karang yang menolak dipukul mundur oleh hambatan seberat apa pun. Matanya melambangkan kepedihan, yang alih-alih menahan, justru merupakan mesin penggerak perjuangan. Ketika nanti Maharaja mulai diisi rangkaian kebrutalan, itu bukan sekedar hiburan, melainkan menjadi cara Nithilan Swaminathan merepresentasikan luapan kemarahan.
Deretan twist yang hadir dari naskah hasil tulisan sang sutradara memang punya hasil beragam. Beberapa di antaranya mengharuskan penonton menonton pertandingan benang merah sendiri, ada pula yang terkesan dipaksakan, namun beberapa kejutan ikut membuktikan kepiawaian naskahnya bermain-main dengan dua linimasa yang menyusun alurnya, yakni kisah masa kini dan flashback berlatar tahun 2009.
"Mengejutkan" adalah kata yang berhasil dilahirkan oleh proses utak-atik di atas, dan seperti yang telah disinggung sebelumnya, twist milik Maharaja juga menyimpan dampak emosi. Terutama di paruh akhir yang begitu menusuk hati, di mana kita memperlihatkan efek tragis dari kriminalitas. Sebuah kejahatan yang begitu buruk, begitu rendah, hingga para polisi pun ikut merasa jengah.






0 komentar:
Posting Komentar