MALAM PENCABUT NYAWA
Bagi pencerita, elemen mistis seharusnya jadi media yang memerdekakan. Di sana batasan eksplorasi tak lagi ditentukan oleh garis-garis logika yang penuh aturan. Tapi apa daya, tuntutan industri menjadikan dunia tanpa batas tersebut sebagai komoditas. Formula pun dirancang, pola-pola yang harus diikuti pun mulai mengekang atas nama uang. Begitulah kondisi perfilman horor Indonesia belakangan ini.
Untunglah beberapa sineas masih berani berpikir pembohong. Joko Anwar dengan Siksa Kubur beberapa waktu lalu menjadi salah satu yang terdepan. Kali ini menyusul Malam Pencabut Nyawa garapan Sidharta Tata, merupakan adaptasi novel Respati karya Ragiel JP, yang memperlakukan aspek klenik bukan sebatas menakut-nakuti alat-alat, tapi gerbang pembuka bagi ruang eksplorasi yang lebih luas.
Respati (Devano Danendra) mengira dirinya hanya menderita insomnia biasa akibat duka selepas kematian kedua orang tuanya. Sekalinya tertidur, ia bermimpi aneh dan melihat banyak orang asing yang mengalami nasib naas. Belakangan barulah Respati sadar, ia bukannya bermimpi buruk melainkan masuk ke mimpi orang lain, yang nyawanya tengah terancam oleh kehadiran sosok misterius bernama Sukma (Ratu Felisha).
Satu hal yang langsung tampak dari menit-menit awal filmnya adalah keunggulan di departemen teknis. Sidharta Tata enggan membuat horor cepat saji. Dibantu Bagoes Tresna Aji selaku penata sinematografi, menyusun rangkaian gerak kamera yang stylish, yang semakin terasa dinamis ketika penyuntingan dari Ahmad Fesdi Anggoro ikut berkontribusi. Banyak transisi unik sekaligus tak terduga muncul di film ini.
Terkait penceritaan, naskah yang ditulis Sidharta bersama Ambaridzki Ramadhantyo menghadirkan salah satu kisah paling ambisius yang dimiliki horor lokal dalam beberapa waktu terakhir. Formula khas horor dikembangkan ke ranah fantasi yang berpijak di seluk-beluk dunia mimpi. Seiring penyelidikannya, Respati mempelajari banyak hal, salah satunya adalah, seseorang harus mati bila ingin lepas dari kejaran Sukma di dunia mimpi. Anggaplah Malam Pencabut Nyawa sebagai Inception dengan kearifan Indonesia.
Keputusan untuk menjauh dari pemakaian jumpscare (horor Indonesia rilisan 2024 yang paling anti mengagetkan penontonnya) sungguh saya apresiasi, meski naskahnya belum mampu memaksimalkan kemungkinan tak terbatas yang disediakan oleh konsep mimpi. Beberapa titik penceritaannya masih terasa monoton.
Paruh akhir menjadi panggung Sidharta dan tim mengungkapkan segala kreativitas mereka. Diawali adegan kesurupan yang tersaji intens, lalu dilanjutkan oleh klimaks seru yang dikemas layaknya pertarungan dalam film pahlawan super. Tentunya sang protagonis tidak lupa memamerkan "superhero landing" versinya.
Di klimaks itu perpaduan apik antara CGI dengan efek praktikal yang sama-sama mumpuni semakin kentara, sehingga menciptakan parade visual yang cantik. Pengadeganan Sidharta pun seperti biasa hadir penuh gaya, termasuk lewat upaya melakukan reka ulang bagi salah satu momen paling ikonik di Inception.
Tapi di luar segala pameran teknis sarat trik di atas, Malam Pencabut Nyawa juga patut dipuji karena satu hal yang jauh lebih sederhana. Apalagi kalau bukan pemakaian Bahasa Jawa. Tidak ada campuran yang dipaksakan dengan Bahasa Indonesia, bahkan dialognya cukup banyak memakai kromo. Yah, di belakang ini saya semakin yakin kalau horor kita masih menyimpan masa depan cerah.






0 komentar:
Posting Komentar