Rabu, 19 November 2025

SHELBY OAKS

 SHELBY OAKS


Shelby Oaks berpusat pada misteri hilangnya Riley Brennan (Sarah Durn) dan tiga temannya, yang dikenal publik sebagai "Paranormal Paranoids" melalui konten penelusuran mistis di YouTube. Keempatnya hilang tanpa jejak pasca menginjakkan kaki di kota mati bernama Shelby Oaks. Mia (Camille Sullivan), kakak Riley, menjadi salah satu sumber narasumber untuk dokumenter mengenai kasus tersebut yang dibuat 12 tahun kemudian.

Gaya mokumenter diterapkan oleh sang sutradara, Chris Stuckmann, yang melakoni debutnya setelah selama ini lebih dikenal sebagai kritikus film di saluran YouTube miliknya. Gaya, ditambah premis mengenai misteri orang hilang, akan menciptakan perbandingan dengan Lake Mungo (2008), yang dalam ulasannya, Stuckmann menyebutnya sebagai "an underappreciated, underseen gem." 

Sampai di tengah wawancara bersama Mia, seorang laki-laki yang tak dikenal tiba-tiba muncul di depan pintu rumah, kemudian melakukan tindakan mencengangkan, yang juga memantik keputusan tak kalah mengejutkan dari sang sutradara: Mengakhiri format mokumenter filmnya. Shelby Oaks seketika berubah menjadi horor bergaya konvensional, yang sayangnya, tak pernah memberi ringkasan intronya.

Bagian terbaik dari mokumenter found footage adalah proses menyadari, bahwa di balik gambar berkualitas rendahnya, atau gumaman-gumaman tak jelas dari suaranya, tersimpan kunci memecahkan misteri, yang tak jarang mengundang rasa ngeri. Proses itu berlangsung menyenangkan karena secara aktif melibatkan penonton, mendorong kita menajamkan penglihatan serta pendengaran. Sedangkan horor konvensional cenderung hanya menempatkan kita sebagai penikmat pasif. 

Sewaktu Mia (didasari ketidakpercayaan pada polisi) nekat melakukan penyelidikan sendiri, antusiasme atas kasusnya pelan-pelan meredup. Naskah buatan Stuckmann pun tak cukup solid melandasi perjalanan selama 91 menit, karena praktis sejak mengunjungi Mia ke perpustakaan guna mengumpulkan petunjuk, hampir seluruh pertanyaan telah menemukan jawaban, setidaknya secara tersirat.

Stuckmann tahu betul cara melahirkan gambar-gambar mengerikan yang mengundang rasa tidak nyaman, piawai menentukan timing supaya jumpscare-nya memiliki daya kejut tinggi, pula menguasai trik memupuk intensitas melalui pergerakan kamera yang menyulut kecemasan penonton saat mendengarkan teror macam apa yang ingin diputar ke layar. 

Masalahnya semua itu tak kuasa menambal ruang di babak kedua, di mana Stuckmann, alih-alih menebalkan misteri, memilih mengirim Mia dalam penelusuran kosong nan berlarut-larut yang dipaksa bergulir lebih lama dari seharusnya. Setidaknya Stuckmann menyadari pentingnya penceritaan visual. Beberapa mengungkapkan misterinya dipaparkan menggunakan bahasa visual daripada eksposisi malas yang mencekoki paksa penonton dengan setumpuk fakta.
Shelby Oaks adalah pembuktian bahwa sebagai seorang kritikus, Chris Stuckmann memang memahami hal apa saja yang dapat memperkuat presentasi sebuah film. Poin tersebut tampak dari pilihannya untuk menutup narasi di tengah peningkatan intensitas yang terjadi setelah hadirnya suatu twist, yang menegaskan bahwa cerita akan lebih berdampak bila berakhir di titik tertinggi. Hanya saja, "memahami" tidak selalu bersinonim dengan "menguasai".

0 komentar:

Posting Komentar