Selasa, 18 November 2025

IF I HAD LEGS I'D KICK YOU

 IF I HAD LEGS I'D KICK YOU



If I Had Legs I'd Kick You adalah film hebat, tapi pengalaman menontonnya sungguh berat. Sutradara sekaligus penulisnya, Mary Bronstein, seperti mengajak penonton menatap tepat ke pusat lubang hitam di hati manusia, tempat bersemayamnya kebenaran yang menyesakkan. Sebuah proses substansial guna memahami kemanusiaan melalui kefanaan.
Kisahnya terungkap saat Linda (Rose Byrne) menemani putrinya menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit. Tidak diketahui pasti penyakit yang mengharuskannya dipasangi selang untuk makan, pun wajah sang anak tak terlihat sebelum momen penutup. Bronstein menghindari ranah melodrama yang mengemis belasan kasih, dan sepenuhnya menggiring penonton untuk fokus pada Linda. 

Itulah fungsi close-up ekstrim yang membuka filmnya. Bukan hanya memberi penekanan pada detail ekspresi dari performa luar biasa Rose Byrne (memenangkan Silver Bear untuk Best Leading Performance di Festival Film Berlin, pun penerima Academy Awards rasanya tinggal menunggu kepastian) sebagai perempuan yang terus dihantam luka, tapi benar-benar menyedot penonton masuk ke dalam psikologi.
Jelas bahwa batin Linda telah berada pada kondisi kritis. Dia seorang diri merawat putrinya yang perkembangannya mengalami stagnasi, sementara sang suami yang harus pergi bekerja selama berbulan-bulan, secara egois terus menuntut kesempurnaan. Masalah bertambah kala langit-langit apartemennya jebol, menyisakan lubang besar sebagaimana hati Linda sendiri. 

Luka demi luka demi luka demi luka. Itulah yang mengisi 114 menit film ini. Tapi pengarahan Bronstein tak pernah menyulut aroma eksploitatif. Sensitivitas sang sineas mendorong penonton memahami, bahkan ikut merasakan luka protagonisnya, alih-alih sekedar meratapinya.
Jelas bahwa batin Linda telah berada pada kondisi kritis. Dia seorang diri merawat putrinya yang perkembangannya mengalami stagnasi, sementara sang suami harus pergi bekerja selama berbulan-bulan, secara egois terus menuntut kesempurnaan. Masalah bertambah kala langit-langit apartemennya jebol, menyisakan lubang besar sebagaimana hati Linda sendiri. 

Luka demi luka demi luka demi luka. Itulah yang mengisi 114 menit film ini. Tapi pengarahan Bronstein tak pernah menyulut aroma eksploitatif. Sensitivitas sang sineas mendorong penonton untuk memahami, bahkan ikut merasakan luka protagonisnya, alih-alih sekadar meratapinya.
Cara naskahnya mengupas lapisan-lapisan ceritanya dengan penuh kesabaran pun begitu rapi. Ada kalanya fakta baru yang kita terima bakal terasa mengejutkan, tanpa filmnya harus mengesankan kalau ia baru melempar twist. Kita hanya belum cukup mengenal karakternya saat itu. Misal sewaktu diungkapkan bahwa Linda, dengan setumpuk masalah, berprofesi sebagai terapis yang sehari-hari menuntut mendengarkan setumpuk masalah klien.

Meski tidak dalam kondisi ideal untuk menangani pasien, Linda tetap berusaha mendengarkan cerita mereka, bahkan sesekali memberi saran mengenai langkah apa yang harus diambil. Saran-saran yang sejatinya dapat menguraikan beban hidupnya sendiri. Linda tahu mesti berbuat apa. Otaknya cemerlang. Problematikanya bukan bersifat kognitif, melainkan ketiadaan figur sebagai sistem pendukung mentalnya.

0 komentar:

Posting Komentar