Minggu, 16 November 2025

HIS THREE DAUGHTERS

 HIS THREE DAUGHTERS


His Three Daughters karya Azazel Jacobs (menjadi sutradara, produser, penulis naskah, juga editor) adalah salah satu film terhangat tahun ini. Sebuah potret kesatuan yang tak melupakan individualitas. Suatu pengingat bahwa keluarga diisi oleh manusia-manusia dengan segala perbedaan masing-masing.

Kepekaan sang sineas segera muncul sedari momen pembuka, ketika tiga anak perempuan yang disebut di judulnya tengah terlibat percakapan. Katie (Carrie Coon), Christina (Elizabeth Olsen), dan Rachel (Natasha Lyonne) berkumpul lagi setelah sekian lama, ketika sang ayah yang sakit keras divonis akan segera meninggal. Hal-hal seperti rencana pemakaman pun mulai dibicarakan. 

Tata kamera Arah Sam Levy membantu sang sutradara untuk mengenalkan penonton kepada tiga saudaranya tersebut. Setiap karakter mendapat jatah shot individual, seolah diberi ruang pribadi khusus. Karena itu sekali lagi, Jacobs hendak mengingatkan bahwa meski ketiganya merupakan kakak-beradik, mereka tetaplah individu yang berbeda-beda.

Masalah muncul tatkala Katie, yang tampaknya memimpin semua percakapan, merasa Rachel terlalu egois. Dia merokok ganja di dalam rumah, menyimpan apel busuk di kulkas, dan ditengarai hanya tertarik pada apartemen sang ayah yang akan diwariskan untuknya. Mereka berdua memang bukan saudara kandung. Jika Katie dan Christina adalah putri dari istri pertama, Rachel merupakan anak bawaan dari istri kedua.

Namun seiring bertambahnya dalam naskah buatan Jacobs melakukan penelusuran, semakin ketara bahwa kita belum mengetahui segala hal mengenai tiga tokoh utama. Mereka pun sama, sehingga tak seharusnya penghakiman dilakukan begitu instan. Katie tidak mengucapkan keras tanpa alasan, Rachel tidaklah seegois kelihatannya, sedangkan hidup Christina tidak sesempurna menganggap orang.

Jacobs mengemas dinamika mereka dengan sangat elegan. Rangkaian peristiwa yang di film lain akan dieksploitasi demi banjir air mata, di sini justru tak muncul. Di sisi lain, musik gubahan Rodrigo Amarante yang mengutamakan denting piano minimalis hanya terdengar lembut sesekali, dilindungi agar tidak mencuri fokus dari para manusianya, yang dihidupkan secara luar biasa oleh Coon, Olsen, dan Lyonne. Begitu hebatnya aktris ketiga mengolah rasa, mereka bisa mengubah emosi dengan cepat menjentikkan jari.

Ada kalanya pendekatan Jacobs yang menjauh dari dramatisasi tersebut mengingatkan pada karya-karya Yazujirō Ozu. Termasuk soal caranya menerapkan visual storytelling. Di satu titik, setelah menjadikan manusia sebagai sentral di sebagian besar durasi, Jacobs menempatkan kameranya untuk menangkap ruang-ruang kosong dalam apartemen, dari sofa yang tak ditempati, hingga sudut ruangan yang tak ditempati manusia.
Hadirlah komparasi yang berfungsi untuk mengajak penonton memahami, bahwa seringkali kita baru benar-benar mengenali eksistensi seseorang selepas ia tiada. Saat itu terjadi, yang tersisa tinggal benda-benda atau lokasi yang merekam kumpulan kenangan tentang seseorang itu dalam diam.

0 komentar:

Posting Komentar