Sabtu, 15 November 2025

WICKED

 WICKED


Bayangkan bila ternyata semua yang kita tahu hanyalah gambaran hasil fabrikasi para pemegang kekuasaan. Begitulah rasanya menonton Wicked, yang mengadaptasi pertunjukan Broadway berjudul sama, yang juga berasal dari novel Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West karya Gregory Maguire. Tatanan dunia The Wonderful Wizard of Oz karya L. Frank Baum diobrak-abrik, dan lewat ayunan tongkat ajaib John M. Chu selaku sutradara, melahirkan salah satu film musikal terbaik di era modern.

Melalui film legendaris The Wizard of Oz (1939), banyak orang menikmati keajaiban dunia Oz. Penyihir Oz yang pemurah meski memalsukan kekuatannya, Glinda si penyihir baik hati, hingga Wicked Witch of the West yang ditakuti. Kita akrab dengan mereka semua. Tapi bagaimana kalau kenyataannya jauh berbeda?

Si penyihir jahat dari Barat rupanya hanya perempuan bernama Elphaba Thropp (Cynthia Erivo) yang menjadi korban perundungan, bahkan oleh ayahnya sendiri, akibat dilahirkan dengan kulit berwarna hijau. Sedangkan Glinda (Ariana Grande) bukan figur suci nan sempurna sebagaimana citranya selama ini, melainkan gadis manja penyuka warna merah muda, yang bisa mendapatkan apa pun keinginannya berkat segala keistimewaan miliknya.

Obrolan di Universitas Shiz, dan awalnya saling tidak menyukai akibat pertemuan di antara mereka. Terlebih lagi saat Glinda tahu kalau Elphaba, yang diam-diam memiliki kekuatan sihir, merupakan siswi kesayangan Madame Morrible (Michelle Yeoh), si kepala sekolah yang jadi idolanya. Namun seiring berjalannya waktu Elphaba dan Glinda mulai bersahabat, lalu bersatu untuk menghadapi banyaknya ketidakadilan yang menggelayuti Oz. 

Jika Elphaba adalah perwujudan drama kisah ini, maka Glinda mewakili sisi komedik yang lebih ringan. Baik Cynthia Erivo yang mengangkat kekuatan emosi banyak adegan, maupun Ariana Grande dengan kehebatannya mengolah berbagai gerakan-gerik menggelitik, sama-sama tampil luar biasa.

Dari situlah rumus yang familiar di dunia Oz dimodifikasi. Naskah buatan Winnie Holzman dan Dana Fox menyelipkan subteks rasisme yang tidak hanya berkutat di ranah isu sosial, tapi juga politik. Jahat adalah soal "framing". Ketika para penguasa memanfaatkan golongan yang dianggap berbeda dengan menyetir citra mereka ke arah negatif, dan membangun stigma bahwa perbedaan tersebut adalah hal mengerikan yang harus diwaspadai. Relevansinya begitu tinggi. 

Jubah hitam, topi kerucut yang juga berwarna hitam, serta sapu terbang. Karena kisah yang telah diwariskan sedari dulu, secara otomatis, kesan negatif langsung muncul di benak kebanyakan orang sewaktu mendengar gambaran di atas. Tapi bagaimana kalau ternyata semua itu hanya gaya berpakaian yang tidak ada hubungannya dengan baik/jahat?

Durasinya memang bergulir agak terlalu lama (Part One ini berdurasi 160 menit, di saat versi Broadway total "cuma" berlangsung 150 menit), tapi di sinilah musikalnya ikut berperan. Sebuah musikal yang benar-benar berperan menggerakkan alur sekaligus memperkuat penokohan tiap karakternya. 

Dentuman musik gubahan John Powell dan Stephen Schwartz, rangkaian koreografi asyik yang tak jarang mampu memancing senyum, tata artistik sarat kreativitas (adegan berlatar "perpustakaan yang berputar" jadi contoh terbaik) sinematografi megah Arah Alice Brooks, mampu disatukan oleh John M. Chu guna menghantarkan berbagai nomor musikal epik yang tidak hanya memikat mata, juga mengikat hati.

0 komentar:

Posting Komentar