FLOW
Film yang menjadi perwakilan Latvia di Oscar tahun depan ini diisi oleh hewan-hewan yang tak dimanusiakan. Tidak ada kata-kata yang terucap, tidak pula mereka berakal seperti karakter hewan di banyak animasi. Meski begitu, Flow tetap mampu membuat penonton tertawa, terkejut, cemas, bahkan meneteskan air mata. Karena alam sebagaimana adanya memang sudah cukup kaya untuk membangkitkan emosi-emosi tersebut.
Protagonisnya adalah seekor kucing hitam yang hidup menyendiri di sebuah rumah kosong, yang menilik benda-benda di dalamnya, kemungkinan sempat mendapat izin dari seniman. Ketika banjir bandang yang menenggelamkan seisi dunia datang, si kucing terpaksa keluar melintasi alam agar bisa bertahan hidup.
Sebuah perahu menjadi suaka bagi si kucing di seluruh dunia yang telah terendam. Seiring perjalanan, perahu itu juga menampung hewan-hewan lain, dari kapibara, lemur, burung sekretaris, hingga anjing labrador retriever yang begitu menyukai si kucing. Mereka berinteraksi secara alami, namun tak sampai membuat Flow terasa seperti National Geographic (meski cara kerja krunya yang berkeliling merekam suara hewan asli demi memunculkan kesan autentik sedikit mengingatkan ke sana).
Hewan-hewan di film ini cenderung berperilaku seperti hewan di dunia nyata, meski mungkin tidak sepenuhnya. Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Gints Zilbalodis, bersama Matīss Kaža, tetap menambahkan segelintir modifikasi, sehingga para hewan melakukan sesuatu yang di dunia nyata tak mampu mereka lakukan. Ketika si burung bertindak bak nahkoda yang bisa menyetir perahu misalnya (bagi beberapa kalangan mungkin ini dirasa mengganggu akibat melucuti realisme). Saya bukan ahli zoologi, jadi bukan mustahil hewan-hewan ini lebih berakal dari yang banyak orang pikir.
Tapi secara keseluruhan, Flow tetap menjadi tontonan yang autentik. Dia tidak harus membuat para hewan berjoget konyol atau melakoni humor slapstick untuk menyulut tawa penonton. Melihat si kucing melompat kaget (yang sering kita temukan di dunia nyata) nyatanya sudah terasa menggelitik. Sekali lagi, sekaya itulah alam semesta.
Realisme tersebut berhasil ditangkap oleh visualnya, yang dengan sapuan warna ala kucing air miliknya, dilukiskan secara nyata ragam detail semesta, dari struktur tubuh hewan-hewan, hingga alam di sekeliling mereka, baik di permukaan maupun bawah air yang indah sekaligus mencekam. Zilbalodis pun kerap menggerakkan gambarnya dengan dinamis, layaknya suguhan blockbuster mahal dengan lompatan lincah dari kameranya, guna merepresentasikan petualangan menegangkan yang karakternya lewati.
Di beberapa titik (kali pertama seekor jeda menampakkan wujudnya, cahaya bak aurora yang "mengangkat" salah satu hewan ke angkasa) visualnya tampak megah, seolah ingin kembali mengingatkan, bahwa Flow bukanlah dokumenter mengenai alam melainkan suatu realisme magis yang indah.
Kita tidak pernah tahu mengapa banjir terjadi, maupun alasan mengapa terjadi air surut. Kita tidak tahu siapa seniman atau pemilik rumah, alasan ia membangun patung kucing raksasa, atau ke mana perginya seluruh umat manusia. Kita hanya melihat apa yang parahewan itu lihat. Namun beberapa petunjuk menyediakan ruang interpretasi terkait kondisi dunia tempat filmnya mengambil latar.
Jika ditilik lebih lanjut, Flow sejatinya adalah kisah coming-of-age. Serupa manusia, si kucing hitam mengalami pendewasaan tatkala ia dipaksa pergi dari zona nyaman. Dia melangkah pergi dari kamar kecil tempatnya menyepi, berinteraksi dengan beragam spesies hewan, menghadapi banyak bahaya sambil mempelajari ilmu baru, dan mendapati bahwa ternyata ia bisa berenang dan takkan mengulanginya ditenggelamkan, baik oleh terjangan banjir atau arus kehidupan.






0 komentar:
Posting Komentar