Sabtu, 22 November 2025

IT ENDS WITH US

 IT ENDS WITH US


Satu poin yang membuat It Ends with Us menonjol adalah bagaimana adaptasi novel berjudul sama karya Colleen Hoover ini mampu memotret proses berpikir serta dinamika emosi korban kekerasan di rumah tangga, sekaligus memungkinkan penonton memahami alasan banyaknya korban melepaskan diri dari hubungan berbahaya yang berada di tengah jalan mereka.

Protagonis kita adalah seorang perempuan dengan nama unik bernuansa floral, yakni Lily Bloom (Blake Lively), yang secara kebetulan juga hendak membuka toko bunga. Bersama pegawai yang kelak menjadi sahabatnya, Allysa (Jenny Slate), Lily mewujudkan cita-cita tersebut. Di sisi lain, ia mulai menjalin kedekatan dengan kakak Allysa, seorang ahli bedah saraf bernama Ryle (diperankan Justin Baldoni yang ikut menduduki kursi sutradara).

Pertemuan perdana Lily dan Ryle di sebuah atap gedung, diisi oleh naskah buatan Christy Hall (yang konon cukup setia pada novelnya) dengan banyak kalimat cheesy. Kemudian saat percakapan mulai berubah menjadi kemesraan yang lebih intim, Baldoni menggunakan lagu Hymn milik Rhye sebagai pengiring. Sebuah nomor R&B bertempo lambat, yang dipakai sebagai latar adegan seksi terasa klise, dan sekali lagi, cheesy.

Berakhir dengan kami memang tampilkan bak sinetron dengan teknis layar lebar. Bahkan filmnya sendiri tidak menampiknya, ketika di salah satu adegan, Ryle menyebut dirinya sebagai "laki-laki dari opera sabun". Berbagai kebetulan dramatis, meledak-ledak, sampai drama sarat romantika semakin menguatkan identitas tersebut. 

Tidak serta merta berarti buruk. Bukankah sinetron menarik untuk ditonton? Begitulah It Ends with Us bergulir, terutama di paruh pertama ketika percintaan Lily dan Ryle bakal memancing senyum di bibir para penyuka romansa, sementara Jenny Slate selalu mencuri perhatian di tiap kemunculan berkat kesempurnaan comic timing-nya.

Segala tawa bahagia itu takkan berlangsung lama. Selagi kita kadang-kadang dibawa mengunjungi masa remaja Lily (diperankan Isabela Ferrer), mengikuti kualifikasi dengan Atlas (Alex Neustaedter), pula melihat sang ayah (Kevin McKidd) melukai sang ibu (Amy Morton) baik secara fisik maupun psikologis, di masa kini, berbagai "tanda bahaya" pun mulai muncul di balik perilaku Ryle yang awalnya sempurna. 

Tapi benarkah Ryle sempat menjadi sempurna? Di dalam naskahnya secara cerdik menyusun alurnya sebagai wadah untuk menempatkan penonton dalam proses berpikir (dan "merasa") yang sama dengan sang protagonis. Bagaimana tiap hubungan toxic bakal tetap diawali oleh kemesraan manis, dipenuhi godaan-godaan romantis yang membutakan calon korban meski banyak pertanda telah muncul di depan mata (sebelum mereka berpacaran, Ryle pernah memaksa Lily untuk menciumnya meski secara halus).

Romantisme dapat membutakan, bahkan menekankan perspektif para korban terhadap kekerasan yang mereka terima. Itulah yang coba It Ends with Us sampaikan pada penonton agar bisa mengerti kondisi korban. 

Penceritaannya memang tak selalu mulus. Misal signifikansi karakter Atlas (versi dewasa yang diperankan Brandon Sklenar) yang patut dipertanyakan. Atlas seperti eksis hanya untuk menambah konflik antara Lily dan Ryle, mengingat tugas "penolong" sebenarnya bisa diemban oleh Allysa. 

Untungnya inkonsistensi kualitas itu ditutupi oleh penampilan Blake Lively yang selalu mengagumkan. Momen terbaiknya adalah gangguan menyakitkan dengan Ryle berlatar rumah sakit di babak akhir. Blake mengutarakan kalimat demi kalimat dengan penuh martabat, menolak runtuh di hadapan rasa sakit yang ia rasakan baik di luar maupun di dalam dirinya.

0 komentar:

Posting Komentar