JURNAL RISA BY RISA SARASWATI
Bukan hanya judul, masalah serupa juga menggerogoti hasil akhir filmnya. Sebuah moduler horor yang berbuat terlalu banyak, baik terkait narasi maupun gaya presentasi. Padahal esensi subgenre itu terletak pada kemudahannya. Kelahirannya didasari oleh upaya membawa suatu karya sedekat mungkin dengan kenyataan. Jurnal Risa oleh Risa Saraswati amatlah jauh dari itu.
Alurnya bercerita mengenai para pembuat film yang sedang menyusun dokumenter seputar budaya klenik Indonesia. Gagasan yang menarik, sampai mereka memutuskan untuk mengikuti Risa Saraswati dkk. memproduksi penelusuran konten, dan esensi dari keberadaan tim pembuat dokumenter itu pun menghilang. Tanpa mereka, film ini tetap bisa berjalan tanpa perubahan.
Sekali lagi, naskah buatan Lele Laila berambisi tampil beda sekaligus lebih berbobot dibandingkan konten YouTube Risa (yang mana tidak perlu), namun berujung melahirkan sesuatu yang sama bertahan. Intinya, pasca Prinsa (sebagaimana semua pelakon lain di film ini, Prinsa Maandagie memerankan versi fiktif dirinya) sebagai salah satu peserta uji nyali memanggil nama "Samex", peristiwa aneh mulai menghantui hidupnya.
Konon Samex adalah hantu yang paling ditakuti oleh Risa. Nantinya usaha membebaskan Prinsa dari gangguan gaib membawa tim Jurnal Risa mengunjungi desa tempat kelahiran Samex. Jangan harap ada eksplorasi mitologi yang memadai di sana. Bahkan fakta mendasar seperti arti namanya ("Sawarga Malapetaka" bila mengacu pada novel Samex: Sawarga Malapetaka karya Risa Saraswati) pun luput dibahas.
Naskahnya bahkan gagal menuturkan hal sederhana seputar kaitan antara kutukan yang melanda desa tempat Samex berasal dari gangguan yang Prinsa alami dengan rapi dan mudah dipahami. Alhasil babak puncaknya melahirkan kekacauan, di tengah kegagalan Rizal Mantovani selaku sutradara mengkreasi teror. sama dengan deretan jumpscare medioker tak bertaring yang telah banyak muncul sebelumnya, klimaks film ini menampilkan intensitas minimal.
Saya takkan mempermasalahkan kualitas kamera yang jernih. Moduler realisme tidak berbanding lurus dengan resolusi gambar buruknya. Tapi cerita lain dengan pemakaian musik serta efek suara yang terlampau riuh, atau keberadaan sudut kamera "gaib" yang entah berasal dari mana. Semuanya bermuara kembali pada satu poin: upaya berlebihan yang tidak perlu dilakukan.
Jika ada yang sebaiknya ditambah, itulah kemunculan Risa Saraswati yang menghilang di sebagian besar durasi termasuk klimaks. Orang yang namanya dua kali muncul di judul malah punya screen time paling sedikit. Sungguh film yang penuh dengan "kebalikan".






0 komentar:
Posting Komentar